Selasa, 16 November 2010

Pelataran Kasih XII (Luka Karena Ingkari Hati)

Krishna.

Aku berbalik. Berharap menangkap panorama wajahnya untuk terakhir kali. Tapi tidak. Dia tak lagi memandangku. Tubuhnya telah berbalik menatap senja. Aku tunggu ia menoleh sekian lama, tapi tak jua kudapat. Sampai harapanku habis, dan aku beranjak dengan langkah yang teramat berat.

Rana tengah berusaha melupakan aku...

Padahal, aku baru saja memberikan sapu tangan itu. Sapu tangan... benda itu telah menemaniku bertahun-tahun. Jadi tumpahan kerinduanku pada Rana, jadi teman kesedihanku, juga teman tertawa. Benda itu sudah seperti bagian dari tubuh dan hatiku. Sangat tidak mudah membuang benda itu dan menjauhkannya dari tanganku.

Tapi aku sudah membuat keputusan, dan sudah kuambil janji dengan mempertaruhkan kebahagianku sendiri. Tak mungkin mundur lagi.

“Aku mengerti...,” Rana membisikkan kata itu dihadapanku. Angin yang bersemilir lembut menyampaikan suara itu kegendang telingaku, lalu menembus hatiku.

Benarkah dia mengerti? Mengerti dengan janji yang telah kuambil? Mengerti dengan luka yang tengah kurasakan?

“Apa kau bahagia?” Jamie bertanya padaku suatu malam. Ditengah kesibukan semua orang. Ditengah keramaian. Semua orang tengah berkumpul, semua orang, keluarga, juga saudara. Mereka tengah membuka kado satu-persatu. Lalu tertawa membaca pesan yang tertulis didalamnya. Semua terlihat senang, apalagi Rere, wajah manjanya terlihat sangat bercahaya.

“Aku bahagia. Memangnya kenapa?” kataku balik bertanya. Aku mengatakan bahagia, sambil membayangkan wajah Bernard tadi siang. Dia datang dengan mengenakan setelan batik coklat muda. Tangannya menenteng satu kado berukuran besar.

“Apa isinya?” tanyaku sambil bersalaman menyambutnya. Dia tertawa sambil memelukku erat. Ini pertemuan kami yang pertama setelah ia menghindar dan bersembunyi. Apa Bernard telah melupakan kebohongan yang aku hadiahkan padanya?

“Rahasia,” katanya berbisik ditelingaku. “Kamu tahu, aku harus mutar-mutar kota untuk mencari hadiah yang tepat untuk mereka. Jadi aku tak akan mungkin mengatakan apa isinya sebelum bungkusnya tersingkap.” Bernard tertawa lagi. Tawanya terlihat tulus dan sungguh-sungguh. Tentu saja, Bernard tak seperti aku yang suka berbohong.

Aku menemaninya sampai ia pulang. Kami bicara banyak. Tapi dari sekian banyak pembicaraan itu, tak satupun nama Rana keluar dari mulut kami.

“Tidak apa-apa, hanya saja, matamu tak mengatakan begitu,” Jamie berkata lagi ditengah teriakan semua orang. Satu kado baru saja dibuka, dan isinya membuat mereka tertawa. Kado itu dari saudara sepupu-ku. Sebuah boneka beruang Tedi.

“Untuk Rere yang masih suka boneka,” seseorang membacakan pesan dikartu ucapan. Dan tawa terdengar riuh kembali, ditengah wajah Rere yang cemberut masam.

“Tak mungkin aku tak bahagia ditengah keriangan yang dirasakan semua orang,” kataku dengan roman wajah bertolak belakang dengan bahagia yang aku katakan.

“Lalu Rana?”

“Kenapa dengan Rana?” aku balik bertanya.

“Dia datang kan?”

“Memangnya dia tak mememuimu?”

“Tentu saja dia menemuiku. Akulah tujuannya datang kemari. Tapi apa kalian tak bertemu?”

“Tidak,” kataku. Aku berbohong lagi. Kami bertemu, bahkan berpapasan sangat dekat.
Rana datang tak seberapa lama setelah Bernard pulang. Rana tersenyum setelah kami sama-sama terpaku. Senyumnya seperti obat yang meringankan beban lukaku.

Seperti biasa, Rana terlihat sangat cantik. Gaun lebar berwarna hijau yang ia kenakan, membuat aura tubuhnya tambah bersinar.

“Kamu sangat berbeda,” kali ini Rana menahan senyumnya. Aku memperhatikan diriku sendiri. Sepatu hitam, kain batik coklat yang mengganti celana, baju jas dengan kancing berwarna emas, lengkap dengan sebuah rantai menjuntai dari saku, kemudian bendo. Benar-benar seperti orang sunda zaman baheula.

“Seperti seorang Wedana, sangat berwibawa.” Rana memandangku lekat.

“Terimakasih,” kataku, tak mampu mengucapkan kata lebih dari itu.

Aku bahagia beberapa saat, lalu kemudian terluka ketika aku ingat janjiku.

“Silakan,” aku mempersilahkan Rana masuk. Lalu berbalik manjauhi Rana. Jika aku berada didekatnya beberapa detik lebih lama, aku yakin, dia akan mengetahui luka yang tengah aku simpan.

“Dia sangat cantik,” kata-kata Jamie membuyarkan lamunanku.

“Oya?” kataku dingin.

“Kau yakin bisa melupakannya?”

“Kenapa tidak? Mudah saja.”

Jamie memandangku prihatin. Dia tahu apa isi hatiku sebenarnya.

“Sebentar lagi, aku akan menyusulmu menikah.” Aku beranjak diantar oleh tatapan Jamie.

“Aku akan melupakannya, aku akan menyusul Jamie menikah, dengan orang lain, bukan dengan Rana.” Aku mengucapkan kalimat itu berkali-kali. Mengucapkannya dalam kegamangan hati karena ketidak yakinanku akan kata-kataku sendiri.

* * *

Bernard

Rana membuka pintu ruanganku tanpa salam. “Aku ingin bicara,” katanya tegas.

“Silakan duduk,” kataku tanpa menoleh dari pekerjaanku. Tapi Rana tak menerima tawaranku.

“Kamu yang memecat mereka?”

“Satu orang yang bernama Linda dipecat. Delapan lainnya aku beri Surat Peringatan.”

“Jadi benar kamu. Kenapa?”

“Karena mereka bersalah.”

“Bersalah apa?”

“Hampir selama tiga bulan mereka tak melakukan pekerjaan.”

“Aku sudah minta kamu untuk tidak ikut campur kan?”

“Sayangnya, aku tak bisa memenuhi permintaan itu.”

“Jadi kamu mengingkari janji?”

“Aku tidak pernah berjanji. Lagipula, permasalahan ini tidak ada hubungannya dengan janji. Aku ingin bekerja secara profesional. Itu saja.”

Rana terdiam, dia tengah berusaha menekan amarahnya.

“Linda yang kamu pecat itu, suaminya telah meninggal, dia menghidupi orang tua dan ketiga anaknya.”

“Lalu?”

“Apa kamu tak punya perasaan sedikit saja?’

“Aku sudah memberinya kesempatan, dia tak menggunakan kesempatan itu dengan baik. Kerjaannya sangat buruk.”

“Sebelumnya pekerjaannya sangat baik, dia seperti itu hanya karena aku!”

“Dalam pekerjaan kita tak boleh mengikutkan perasaan!”

“Jadi karena itu kamu tega menghancurkan keluarganya?”

“Lebih baik mengorbankan satu keluarga, dari pada aku mengorbankan ratusan keluarga. Kamu tahu, perusahan sedang kolaps, salah satu sebabnya karena manajemen keuangan yang kurang baik. Kalau aku mempertahankan orang seperti Linda, itu berarti aku menghancurkan perusahaan. Itu juga berarti aku menghancurkan ratusan keluarga karyawan. Apa kamu berpikir sampai sejauh itu? Atau yang kamu pikirkan cuma dirimu sendiri?”

“Aku tidak memikirkan diriku sendiri!”

“Oya? Kuberitahu satu hal Nairana, mereka bukan anak kecil, yang dengan mudah kau bujuk hanya dengan kue. Mereka tak akan berubah dengan jalan semacam itu!”

Rana terdiam. Dia hampir menangis. Apa aku terlalu keras bicara? Memang itu yang kuinginkan.

“Satu hal lagi, aku tidak suka kebohongan!”

Rana menarik nafas panjang. Lalu berbalik dan pergi.

“Satu minggu lagi, Nanta akan menggantikanmu.”

Rana menahan langkahnya diambang pintu, pandangannya terpaku pada sesuatu. Sesuatu yang tak terlihat mataku.

“Krishna?”

Aku menatap Rana, tubuhku kaku seketika. Krishna? Krishna ada disini? Apa dia mendengar perkataan kasarku pada Rana?

“Maaf, aku ada perlu dengan Bernard,” suara Krishna mendekat kearah ruangan. Aku berlari menghampirinya.

“Krishna?”

Aku terpana, wajah Krishna menyiratkan sesuatu yang tak bisa kutafsirkan. Mungkin perasaan terluka karena aku, sahabat yang sangat ia percayai untuk menjaga orang yang ia kasihi, justru tengah memarahi Rana, perempuan searuh jiwanya yang ia serahkan padaku.

“Hai, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Nggak ganggu kan?”

Aku mengangguk.

* * *

Cafe masih sepi. Tentu saja, ini belum waktunya makan siang. Aku dan Krishna duduk berhadapan. Seorang pelayan meletakkan satu gelas jus kehadapan kami masing-masing.
Lalu setelah pelayan itu pergi, Krishna membuka percakapan.

“Aku sudah mengembalikan saputangan itu pada Rana. Kau tahu apa artinya?”

“Ya, aku tahu. Kamu telah melakukan tindakan bodoh.”

“Antara aku dan Rana tak ada apa-apa. Hubungan kami hanya sebatas kenangan masa kecil. Tak lebih dari itu?”

“Jadi penantian kalian hanya untuk sia-sia?” aku menyandarkan tubuhku, berusaha mengurai ketegangan yang mulai kurasakan.

“Tidak sia-sia. Kamu ingat, aku pernah bilang kan, aku menantinya bukan untuk memilikinya, tapi memastikan kebahagiannya.”

“Jadi?”

“Dia telah bahagia sekarang.”

“Darimana kamu tahu?”

“Dari pengamatanku.”

“Pengamatan yang mana?”

Krishna terdiam.

“Kamu ingin bilang, kalau dia sekarang punya aku. Dia akan bahagia disisiku, karena menurutmu, aku adalah lelaki yang sangat pantas untuk seorang Nairana. Benar kan, itu yang ingin kau katakan?”

“Aku yakin aku benar.”

“Sok tahu! Kamu pernah bilang, kalau aku terlalu memikirkan diriku sendiri, tapi kamu salah. Kamulah yang egois, yang hanya memikirkan dirimu sendiri.”

“Aku tidak begitu.”

“Kebahagian Rana yang kamu katakan, itu menurutmu. Tapi apa pernah kamu tanyakan, apa keinginannya? Apa yang membuat dia bahagia? Lalu aku, apa kau pernah bertanya padaku, apa aku akan bahagia bila aku mendampingi Rana?”

Krishna tersentak.

“Tidak kan? Kau tak pernah bertanya.”

Kami terdiam beberapa saat.

“Lanjutkan hubungan kalian. Aku menyukai Rana, karena aku tak tahu siapa dia. Setelah aku tahu, cinta itu telah terkikis habis. Jadi jangan memaksakan keinginnanmu, tapi ikutilah perasanmu...”

Krishna terdiam melihatku. Aku melihat harapan itu tumbuh jauh dari dalam matanya.
Krishna masih menyimpan cinta itu sekian lama dan sedemikian dalam. Berhakkah aku merebutnya? Padahal aku baru mencintainya tak lebih dari tiga bulan. Lagipula aku mencintainya karena aku melihat bayangan Shasha pada diri Rana. sedangkan Krishna, dia mencintai Rana karena dia memang Rana.

“Maafkan aku...,” bisik Krishna pelan.

“Dulu, aku marah padamu. Sangat! Tak ada yang paling aku tak suka salain dibohongi. Kamu tahu, aku seperti kerbau dicocok hidung, aku begitu menurut dan yakin dengan kata-katamu. Hah! Bodohnya aku...”

“Maaf...”

“Tak bisa, kecuali kalian mau bersama lagi.”

”Aku sudah berjanji. Pada diriku sendiri.”

“Janji apa?”

“Aku tak akan membuatmu menderita. Aku akan mengorbankan apapun untuk kebahagianmu.”

“Kalau begitu, kembalilah pada Rana, itu adalah kebahagianku.”

Krishna memandangku. Lalu aku tersenyum padanya, meyakinkan dirinya, bahwa tak ada luka yang tengah menggores batinku sekarang ini.

Krishna telah mengambil janji, dan aku telah mengambil keputusan. Lalu masalah ini akan selesai...

* * *

Krishna

Matanya berkaca. Senyumnya hilang dan tenggelam entah kemana. Dia tengah terluka, oleh banyak hal.

Aku melihat wajahnya seperti itu ketika ia keluar dari ruangan Bernard. sungguh, wajah Rana yang seperti itu sangat mengiris kalbuku. Sangat sakit.

Rana orang yang sangat peka, perasaannya sangat halus. Pemecatan yang dilakukan Bernard, membuat Rana merasa sangat bersalah. Membuatnya merasa tertekan. Apalagi perkataan yang dilontarkan Bernard terlalu menghimpit dadanya. Aku yakin, dengan berkata seperti itu sebenarnya Bernard juga tengah melukai dirinya sendiri.

Allah..., bukankah semua ini salahku? Bernard tak akan berkata begitu jika perasaannya pada Rana tak terlalu dalam. Dan masalah yang ditanggung Rana tak akan terlalu berat jika aku ada disisinya. Sebaliknya, aku malah melukai Rana dan menambah beban masalahnya semakin berat.

Allah..., maafkan aku. Jangan hukum aku dengan rasa bersalah yang menekan tak berkesudahan seperti ini. Aku mohon, maafkan aku...

Lift yang tengah kutungu terbuka. Dan tersibaklah sebuah wajah yang terus menguasai pikiranku. Wajah Rana. Seperti kemarin, wajah sendu itu belum berubah.

Rana melangkah keluar dengan pandangan mata tertuju padaku. Lalu kaki itu berhenti tepat dua meter didepanku.

“Tidak masuk?” katanya dengan senyum samar, setelah antara aku dan dia terdiam dan terpaku sedemikian lama. Setelah jiwa kami kembali menempati jasad ini dari terbang mengembara tak tentu rimba.

Tidak masuk? Tidak Rana. Tujuanku berdiri disini bukan untuk itu. Aku menunggumu sejak tadi. Sejak satu jam lalu. Sekali lagi, bukan untuk apa-apa. Hanya untuk menunggumu. Untuk apa menunggumu? Aku tak tahu. Mungkin sekedar ingin melihatmu.

“Aku...”

Jeda. Rana menungguku. Matanya hanya tertuju padaku. Sorot mata yang sama sejak dulu ketika ia menatapku. Sorot mata yang melambungkan harapanku. Namun sekarang, sorot mata itu membuat aku sulit bernafas.

“Semua hal yang terjadi... bukan salahmu. Berhentilah merasa bersalah...” Kata-kata yang kuucapkan itu begitu asing kudengar. Seperti bukan aku. Karena kata-kata itu seperti berat penuh beban. Apalagi intonasi yang menyertainya, menyiratkan sebuah tekanan yang amat sangat. Aku ingin membuatnya terasa normal. Tapi nyatanya aku tak bisa.

Tatapan Rana berubah takjub. Membuatku tahu, bahwa aku telah melakukan hal yang salah. Bahwa apa yang tengah aku lakukan sekarang ini, telah memberinya sebersit harapan. Kesadaran itu membuatku melangkahkan kaki meninggalkan Rana.

“Hanya itu?”

Pertanyaan Rana membuat langkahku terhenti dan menghadapkan kembali badanku menghadap Rana.

“Kamu berdiri disini... hanya untuk mengatakan itu?” Rana menahan tawanya.

Aku tak menjawab. Tak mengangguk atau menggeleng.

“Terimakasih...,” katanya.

“Kenapa?”

Rana tak menjawab. Dia hanya tersenyum dan beranjak.

Sekarang, entah kenapa, keinginan untuk besamanya mencuat. Dan tak seperti biasanya, kali ini aku tak bisa menekan perasaan...

* * *

Bernard

Kenapa? Untuk apa kau bertanya itu Krishna? Bukankah jelas, dia berterimakasih untuk kata-kata yang kau ucapkan. Kata-kata itu telah membuat perasaannya membaik, dan lukanya tak terlalu perih. Kata-kata itu telah memberitahunya, kalau cinta yang kau pendam itu demikian besar dan dalam.

Bukan hanya memberi penjelasan padanya. Tapi juga padaku. Dari sini, dari atas tempat kalian berdiri, kamu memperkuat keyakinanku tentang semua itu.

Seandainya... kau memberitahuku lebih awal. Tidak, andai aku menyadarinya sejak awal....

Aku berbalik dan kembali menaiki tangga. Menuju ruanganku dua lantai dari sini. Aku mengurungkan niat untuk pulang awal. Ternyata... masih banyak yang harus kupikirkan...

* * *

Rana.

“Kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu dengan baik, Rana.” Pak Nanta duduk ditempat dudukku kemarin dulu. Ia menerima serah terima dariku dengan senyum yang mengembang. Sekarang semua sudah kembali pada tempatnya. Aku benar-benar lega. Tapi kalimat yang dilontarkan Pak Nanta membuat kelegaan itu berubah jadi kepenatan.

“Kenapa?”

“Aku tak menyelesaikan pekerjaanku dengan baik. Satu orang dipecat Bernard, dan beberapa orang diberi surat peringatan.”

“Dan kamu merasa bersalah?”

“Itu memang salahku.”

“Itu salah mereka.”

“Pak Nanta yang melaporkan pada Bernard kan?’

“Ya.”

“Kenapa?”

“Karena mereka sudah berlebihan, Rana.”

“Jadi Bapak membiarkan usahaku sia-sia.”

“Sia-sia? Tidak! Usahamu tidak sia-sia. Kalau tak salah, aku tak mendengar gosip itu berseliweran dimana-mana. Dan tadi, kulihat mereka menyapamu seperti biasa, benar kan? Bahkan delapan orang yang di-SP itu tersenyum dan menjabat tanganmu. Itu artinya mereka tak menyalahkanmu atas peringatan yang mereka dapatkan.”

“Tapi Linda dipecat.”

“Itu memang menyesalkan. Tapi, kita tak bisa menyalahkan Bernard atas apa yang dia lakukan. Bernard sudah memberi jarak dan jenak. Dia membiarkanmu menyaring orang yang tak sungguh-sungguh melawan perusahaan.”

“Menyaring?”

“Ya, teguranmu yang sangat halus, menyelamatkan beberapa orang yang akan dikeluarkan.”

“Tadinya bukan hanya Linda?”

“Lima orang. Dan kamu telah berhasil menyelamatkan yang empat orang.”

Sebuah berita mengejutkan membuatku terdiam.

“Jadi berhentilah menyalahkan Bernard. Ok?”

Aku tertawa. “Tidak, aku tidak lagi menyalahkan Bernard, tapi aku menyalahkan anda, Bos!”

Pak Nanta terbeliak, lalu aku tertawa dengan keras.

Lucu, padahal tadi malam, aku memutuskan untuk mengundurkan diri, karena perasaan bersalah ini. Apa surat pengunduran diri yang telah aku siapkan didalam tas ini kusobek saja? Atau tetap kuajukan? Karena satu masalah belum selesai. Masalah antara Krishna dan Bernard. Semuanya akan selesai jika aku tak ada bukan?

* * *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar