Sabtu, 13 November 2010

Pelataran Kasih VIII (Mentari di Balik Awan)

Mentari Dibalik Awan

Rana

Aku memasuki ruangan dengan sangat riang. Tak tahu, rasanya ini adalah hari yang menyenangkan sejak aku menginjakkan kaki dikantor ini. Bahkan selain Hani, beberapa orang menyambutku dengan ramah.

“Kali ini kue apa?” Hani tersenyum memandang kotak yang kubawa.

“Strawbery short cake. Mau?” aku meletakkan kotak kue itu dimeja Hani.

“Hm... lama-lama Ibu bisa jadi pembuat kue handal nih!” Hani tertawa, tapi tiba
tiba berhenti ketika melihat kepalaku berkeliling ruangan dengan kening berkerut.

“Pada kemana?” tanyaku, masih dengan pandangan memutar.

“Mungkin... pada belum datang aja, Bu!”

Aku memandang Hani dengan sorot mata menyelidik. Hani jadi sedikit salah tingkah.
Itu artinya, dia menyembunyikan sesuatu.

“Boleh saya makan nih, Bu?” Hani mengalihkan pembicaraan. Tapi jangan harap aku bisa lupa dengan sesuatu yang tengah ia sembunyikan. Jadi aku masih menatap Hani seperti tadi. Itu membuat Hani semakin salah tingkah, lalu terdiam kaku. Sejauh yang aku kenal, Hani memang tak pernah berbohong. Jadi sekali berbohong, akan sangat ketahuan.

“Ada apa?” tanyaku pelan dan tegas.

“Mh...”

“Mereka mogok kerja,” seorang laki-laki menghampiri kami. Pak Nanta.

“Apa?”

“Sebenarnya... dibilang mogok juga nggak sih. Tapi, mereka cuti bersama, yang lain
sakit, dan beberapa orang kabur.”

Pandanganku tiba-tiba buram. Aku syok, dan ingin marah. Cuti bersama? Siapa yang memberi izin? Mereka diizinkan tidak masuk jika sudah medapat tanda tanganku. Lalu
kenapa personalia mengeluarkan surat cuti untuk mereka? Lagipula, dua hari dari sekarang gajian karyawan. Pekerjaan akan sangat menumpuk.

Tidak, sebenarnya tidak akan terlalu menumpuk jika yang mengerjakan bukan hanya aku. Aku memasuki ruangan dengan gontai, cepat-cepat aku duduk. Sebelum persendianku yang mulai lemas tak mampu menahan berat tubuhku. Aku menekan pelipisku, kepalaku mendadak serasa ditusuk seribu jarum, sakit.

“Sakit?” Nanta masuk keruanganku dan duduk dihadapanku.

Aku menggeleng sambil tersenyum, sedikit berbohong. “Tesisnya sudah selesai? Kok masuk kerja?” Karena menempuh studinya, Pak Nanta diberi keringanan. Dia diperbolehkan absen sampai tiga bulan.

“Lagipula kamu terlihat kurus,” Pak Nanta tak menjawab pertanyaanku.

“Aku baik-baik saja.” Aku menyalakan komputer, mulai bekerja. Dan menurutku, itu
cara yang halus untuk mengusir Pak Nanta. Aku ingin sendiri.

“Linda, dia yang memotori pergerakan,” Pak Nanta tertawa mendengar kata-katanya sendiri. “Kau sudah tahu tentang itu?”

Aku mengangguk.

“Tak mengembil tindakan?”

“Belum.”

“Kenapa? Padahal kamu lebih mampu dari sekedar merayu mereka.”

Aku mendongakkan kepala, memandang Pak Nanta. Darimana dia tahu? bukankah selama
ini dia tak ada.

“Apa yang Hani bicarakan padamu?”

“Tak ada.”

“Jangan bohong, kata-kata Hani yang membuatmu datang kemari kan?” Aku menatap mata
Pak Nanta yang lembut. Kami berpandangan agak lama, lalu dia menghindar.

“Ya...”

“Apa saja?”

“Segalanya.”

Aku menghentikan cursor, melepas mouse, lalu memutar tubuhku hingga berhadapan
dengan Pak Nanta.

“Jangan bicarakan ini dengan Bernard,” kataku setelah melepas nafas panjang.

“Kenapa?”

“Karena aku takut, Bernard akan mengeluarkan SP, bahkan mungkin memecat mereka.”

“Tapi mereka memang pantas mendapatkannya.”

“Tidak, Pak... ini bukan masalah ketaatan apalagi kinerja. Ini hanya masalah
perasaan.”

Kening Pak Nanta berkerut. Aku tahu, dia butuh penjelasan lebih lanjut.

“Jamie pernah bilang padaku, kalau mereka cuma iri padaku.”

“Iri?”

“Karena katanya, aku punya segala sesuatu yang diinginkan para cewek. Meski sebenarnya, aku tak merasa begitu.”

Pak Nanta diam sejenak, sepertinya dia mulai memahami segala sesuatu.

“Jadi, kamu ingin menunjukkan pada mereka, kalau kamu sama dengan mereka?”

“Aku hanya mencoba untuk jadi pemimpin yang baik,” aku tersenyum. Tak lama setelah itu, Pak Nanta juga tersenyum.

“Tapi jangan lupakan dirimu,” Pak Nanta memandangku.

“Maksudmu?”

“Kamu pucat, kamu juga terlihat lelah. Kurus lagi! Berat badanmu itu turun berapa kilo?”

Aku hanya tertawa. “Terimakasih.”

“Bukan terimakasih, tapi... begini saja. Kita buat kesepakatan. Aku tak akan membicarakan ini pada Bernard. Tapi kamu juga harus berjanji, kamu akan lebih baik saat pertemuan kita selanjutnya.”

Aku tertawa lagi.

“Kamu harus banyak makan, banyak istirahat,...”

“Banyak bekerja,” sela ku ditengah-tengah tawa.

Setelah itu Pak Nanta keluar, tapi bukan untuk pulang. Saat dhuhur (saat aku baru sempat keluar), aku melihatnya sedang duduk memandangi komputer dimeja kerjanya.
Diam-diam aku menghampirinya dari belakang.

“Kamu tak perlu mengerjakan pekerjaan mereka,” kataku ketika sudah jelas dalam pandanganku apa yang tengah ia kerjakan dikomputer.

“Bukankah kata-kata itu lebih tepat kalau ditujukan padamu?” ia menoleh padaku.

“Tapi kamu banyak kerjaan, nanti sekolahmu tak selesai lagi! Bisa-bisa Bernard menyalahkan aku!”

“Banyak kerjaan... bukannya itu kamu?”

“Pak Nanta...!” aku mulai kesal. Dia selalu saja punya jawaban.

“Kalau begitu jangan protes. Kalau kamu tak ingin aku bilang pada Bernard bahwa
laporan ‘semuanya sudah teratasi’ itu hanya kebohonganmu.”

“Pak, jangan membuatku kesal!”

“Sudahlah... jangan kesal. Aku hanya ingin membantumu. Ok?”

Aku tak bisa menolak, dia sepertinya serius tentang ancaman itu. Meski tentu saja, aku sangat tidak mau Pak Nanta melakukan itu. Jadilah, kami bertiga, aku, Pak
Nanta, dan Hani malam ini menginap dikantor. Sungguh, aku sangat berterimakasih pada mereka.

* * *

Kami sedang duduk menatap senja, saling beku. Saling berkutat dengan kenangan masing-masing.

“Kamu masih suka main bola?” tanyaku memecah keheningan yang mengkristal diantara kami.

“Tidak terlalu,” jawab Bernard pendek.

“Sudah pasti,” kataku tersenyum.

“Sudah pasti?”

“Ya, sudah pasti,” aku tertawa, dan Bernard memandangku tak mengerti. Hah, ternyata
laki-laki tak peka ya? Sudah tentu dia tak menyukai bola karena kenangan dulu, tapi dia tak menyadari hal itu.

“Jadi semuanya sudah beres?” tanya Bernard ketika tawaku reda.

“Ya. Terimakasih,” aku berbohong lagi. Tapi aku tak sanggup mengatakan yang sebenarnya. Bernard sudah mempercayaiku untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Dan aku tak ingin mengkhianati kepercayaan itu. Lagipula, jika kukatakan yang
sebenarnya, Bernard pasti tak akan tinggal diam. Padahal pekerjaannya sendiri sudah sangat banyak.

“Terimakasih untuk apa?”

“Untuk... kepercayaanmu. Karena kepercayaanmu membuatku percaya diri. Aku jadi yakin bisa menyelesaikannya dengan baik.”

Bernard tersenyum. “Sebenarnya aku ingin membantu, tapi Krishna bilang, aku harus membiarkanmu.”

“Krishna?”

“Ya, Krishna.”

Tiba-tiba wajah Krishna tergambar jelas dalam cermin mataku. Wajah Krishna yang
menatap rumahku dengan mata berkabut. Bayangan itu menjelma menjadi semilir yang menghentak jiwaku. Sesuatu, yang tak mampu kutafsirkan.

Entah ditarik oleh kekuatan apa, kepalaku menoleh ke belakang. Ketempat dibawah pohon rindang, jauh dibelakang tempat aku dan Bernard duduk. Disana ada mata yang tersentak ketika pandanganku menembus batinnya. Pandangan mata sendu milik Krishna.

Aku memandangnya, bahkan sampai dia berpaling, dan pergi meninggalkan tempat itu. Tapi sampai saat itu, suatu perasaan yang menghentak itu belum dapat kuterjemahkan. Ada sesuatu yang menghalangi kenyataan. Aku memahami segalanya, hanya seperti memandang mentari yang bersembunyi dibalik awan. Hangat, namun tak terlihat...

* * *

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar