Selasa, 02 Januari 2018

Pangeran Istana Langit (5)

Lembah yang biasa sepi itu, kini terlihat ramai. Puluhan jumlah laki-laki tampak membentuk kelompok-kelompok. Sebagian besar mereka adalah para pemuda, sebagian lagi kaum bapak, beberapa ada kakek-kakek berusia senja. Mereka sedang melakukan latihan. Satu kelompok sedang memainkan pedang. Satu kelompok lagi berkonsentrasi dengan busur dan anak panah mereka, kelompok lain berpacu dengan kuda, dan kelompok lain lagi tengah beradu fisik, berlatih kungfu. Beladiri khas Cina.
Abdul Aziz berjalan pelan melewati mereka semua. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Matanya menyipit, mempersempit celah agar sinar silau matahari tak banyak masuk kedalam bola matanya. Ia lalu berdiri disalah satu sisi, mencari tempat yang memungkinkannya melihat mereka keseluruhan.
Ini adalah hari ketiga mereka menjalankan latihan. Semua terlihat bersemangat. Bahkan para orang tua yang sudah lanjut, ikut serta. Padahal ia sudah memberi keringanan pada mereka untuk beristirahat dirumah saja. Tapi mereka bersikeras.
Abdul Aziz tersenyum  lagi. Semangat memang sesuatu yang sangat mudah menular. Hampir pada semua orang. Tapi hampir itu tidak semua. Dan tidak semua itu tengah menimpa pada satu orang...
Abdul Aziz melihat yang ‘satu orang’ itu dari kejauhan. Husain.
Ia sedang mengarahkan para pemuda yang tengah bersiap-siap dengan busur dan anak panah mereka. Dari tempatnya berdiri, Abdul Aziz bisa bisa melihat keringat yang menetes dari kening Husain karena keringat itu berkilau oleh sinar mentari.
Sekilas, ia memang terlihat sama bersemangat seperti pemuda yang lain. Tapi Abdul Aziz tahu, saat ini, Husain adalah orang yang dikecualikan dari wabah semangat. Ada sesuatu yang tengah dipikirkannya benar. Mungkin tentang perang yang sebentar lagi akan terjadi. Sebelum kedua pasukan, pasukan Islam dan pasukan kekaisaran bertemu, perang sudah berkecamuk lebih dulu didalam batin Husain.
Apakah ia gentar dan takut? Tidak. Sebaliknya. Husain orang yang sangat berani dan tangguh. Masalahnya hanyalah, Husain seorang yang tidak menyukai konflik. Jangankan untuk konflik yang mengorbankan tertumpahnya darah, untuk konflik kecil saja, Husain lebih banyak menghindar. Segala sesuatu, baru akan ia putuskan jika ia telah yakin orang-orang disekelilingnya tak ada yang ia sakiti. Ia orang yang sangat pengasih. Ia akan membiarkan bidikannya lepas saat berburu, untuk membiarkan orang lain membidiknya.
Perang ini, jelas tidak sesuai dengan kepribadiannya.
Abdul Aziz menarik nafas panjang. Tak apa. Ia berharap, perang yang akan mereka hadapi, bisa melatih Husain untuk bertindak lebih baik. Kapan ia harus bersikap kasih, kapan ia harus bersikap tegas.
“Air, Syeikh?” seseorang menawarinya air.
Abdul Aziz menoleh kesebelah kirinya. Mei Lin berdiri disampingnya, membawa seember air. Abdul Aziz tersenyum dan mengambil satu ciduk air lalu meminumnya. “Terima kasih,” kata Abdul Aziz.
“Alangkah baik jika Anda mengawasi mereka dari tempat yang teduh,” kata Mei Lin sembari mengangguk hormat dan beranjak.
“Terimakasih,” kata Abdul Aziz lagi, membalas senyuman Mei Lin.
Gadis itu lalu berjalan menuju kelompok yang berlatih bela diri. Mereka satu-satunya kelompok yang belum didatangi pembawa air.
Mei Lin adalah putri dari teman dekatnya, Rasyid. Rasyid adalah temannya satu kapal ketika ia datang ketanah Cina ini. Bedanya, Rasyid datang untuk kembali pada istri dan putrinya yang ia tinggalkan selama satu tahun. Sementara dirinya, baru datang kali itu.
Rasyid seorang pedagang permadani Persia. Kepergiannya saat itu, untuk membenahi kembali perdagangan permadani yang mengalami kemunduran, sekalian melepas rindu pada tanah kelahiran katanya.
Putrinya, Mei Lin, hasil pernikahannya dengan penduduk setempat. Mei Lin gadis yang sangat cantik. Meski namanya Mei Lin, wajahnya lebih mirip orang Persia daripada orang Cina. Ia lebih mirip ayahnya. Sementara adiknya, lebih mirip ibunya, meski namanya Hamid.
Abdul Aziz, terus memandangi Mei Lin, hingga ia selesai dengan tugasnya.
“Apa makan malam hari ini, Mei Lin?” tanya Abdul Aziz ketika Mei Lin melintas didekatnya.
“Aku tidak tahu Syeikh, tapi Ibu sedang menguliti seekor rusa. Putra Anda memberikannya pada kami tadi pagi.”
“Oh, benarkah? Sepertinya akan menjadi makan malam yang nikmat.”
“Insya Allah,” Mei Lin tersenyum dan beranjak.
Setelah Mei Lin menghilang, Abdul Aziz mengalihkan pandangannya pada Husain. Dia sedang duduk sekarang, beristirahat seperti yang lain.
Sebuah bayangan untaian giok tiba-tiba tergambar dalam benaknya. Apakah sudah saatnya Husain?

*   *   *

Setiap malam, dikampung pelabuhan ada pesta. Sebenarnya bukan pesta yang sesungguhnya. Hanya makan malam. Namun makan malamnya berbeda dari makan malam-makan malam sebelumnya. Makan digelar disebuah tanah lapang, dihadiri oleh semua anggota kampung, baik perempuan atau laki-laki. Layaknya pesta.
Abdul Aziz duduk bersama para bapak lainnya. Disana ada Rasyid, ayah Mei Lin, juga sahabat dekat Abdul Aziz. Jauh didepannya juga duduk Husain, bersama para sahabatnya dari kalangan pemuda.
“Mengenai usul yang kau katakan padaku kemarin, kami sudah membincangkannya,” kata Abdul Aziz kepada Mei Lin. Abdul Aziz menahannya, ketika gadis itu selesai menyimpan hidangan makan malam untuk mereka. Mei Lin duduk diantara Abdul Aziz dan ayahnya. Duduknya agak menjorok keluar lingkaran, agak malu berada dalam barisan para laki-laki.
Mei Lin melihat Abdul Aziz, bibirnya menyunggingkan senyuman senang. Kemarin, ketika ia memberi minum Abdul Aziz saat latihan, Mei Lin meminta Abdul Aziz juga memberi latihan perang untuk kaum perempuan.
“Menurutmu, apa yang bisa kami lakukan untuk kalian? Latihan apa yang tidak memberatkan kalian?”
“Sesuatu yang tidak terlalu menguras fisik, Syeikh.”
“Gadis pintar,” Abdul Aziz tersenyum. “Memanah,” ujar Abdul Aziz kembali, “Husain, mulai besok kau latihlah mereka.”
“InsyaAllah,” Husain mengangguk kearah Abdul Aziz.
“Terimakasih, Tuan Muda,” kali ini Mei Lin bicara kepada Husain. Husain membalasnya dengan anggukan kecil.
“Kalian juga akan dilatih kungfu dasar, memainkan pedang dan berkuda. Kau atur jadwalnya dengan bertahap Mei Lin. Tapi jangan sampai mengurangi waktu kalian untuk membaca dan mempelajari al-Qur’an, sebab hidup itu, butuh keseimbangan. Disini, disini, dan disini,” seraya berkata seperti itu, Abdul Aziz berturut-turut menunjuk keningnya, dadanya dan pangkal lengannya.
“Baik, Syeikh,” Mei Lin mengangguk. Ia mengerti apa yang dimaksud Abdul Aziz. Akal, ruh dan jasad, tiga unsur yang menyusun tubuh manusia itu sama-sama harus diisi dengan seimbang.
Setelah pembicaraan selesai, Mei Lin mengundurkan diri dan beranjak. Selama itu, Abdul Aziz terus memperhatikan Husain. Apakah pemuda itu memperhatikan Mei Lin barang satu jenak?
Hingga makan malam itu usai, dan semua kembali kerumah masing-masing, mata Husain tak sekalipun singgah pada Mei Lin. Tidak pada rumahnya, tidak pada pintu yang menelan tubuh Mei Lin, apalagi pada wajah gadis itu. Bahkan saat Mei Lin berterimakasih tadi, Husain tak melihat sedikitpun.
Abdul Aziz merasa gundah. Jika gelang giok itu bukan milik Mei Lin, lantas milik siapa? Adakah gadis diperkampungan ini yang melebihi Mei Lin? Atau Husain menyukai gadis biasa saja? Abdul aziz membuang nafas, mengakhiri pikirannya yang terus mengembara.
Malam hampir usai dan subuh hampir menjelang. Ada waktu beberapa saat hingga ia seharusnya bangun untuk shalat malam. Ia memejamkan mata, mencoba beristirahat walau satu kejap. Esok, ia kembali harus memimpin latihan yang keras.

*   *   *

“Mereka berlatih dengan sangat antusias, Syeikh.”
Suatu siang, Ma Yun Chen, pemimpin Muslim dari suku Han berkunjung ke Desa Pelabuhan. Rombongan mereka berjalan-jalan melihat latihan.
“Anda sungguh bahagia, Syeikh, memiliki seorang putra yang hebat, juga rakyat yang taat,” ucap Ketua Ma ketika Husain datang menghampirinya untuk memberi salam. Sambil berkata seperti itu, Tuan Ma tersenyum. Namun senyuman itu terasa pahit dirasakan Abdul Aziz dan Husain yang melihatnya. Senyuman pahit itu bukan senyum iri atau dengki dengan keadaan Abdul Aziz. Namun yang ikut menyembul dari senyum itu adalah sebuah penyesalan. Penyesalan karena ia seperti mengalami hal yang bersebrangan dengan yang dimiliki Abdul Aziz. Selain itu, raut muka Tuan Ma pun seperti keruh.
“Mengapa bicara seperti itu sahabatku yang mulia, anda memiliki putra terbaik seperti Tuan Muda Ma, bukankah itu karunia besar yang diberikan Allah? Dan bukankah anda memiliki rakyat yang jumlahnya demikian besar? Jumlah yang tak ada yang memilikinya diantara kita selain Anda?”
Ma Yun Chen melihat Ma Xia Wu, putra pertamanya yang tengah berdiri tepat disampingnya. Ma Yun Chen kemudian tersenyum. “Benar, aku memang memiliki putra yang kuat dan pintar. Namun jumlah rakyat yang banyak, Syeikh,” mata Ma Yu Chen berpaling pada Abdul Aziz, “apakah artinya jumlah, jika jumlah itu hanya seperti buih dilautan?”
Abdul Aziz tersentak.
“Inilah maksud kedatanganku kali ini,” kata Ma Yun Chen.
“Kalau begitu kita bicarakan dirumah.” Abdul Aziz mempersilahkan Ma Yun Chen untuk berjalan bersamanya.
“Bagaimana kalau kita melihat-lihat latihan, saudara Ma?” Husain memalingkan pandangan pada wajah Ma Xia Wu. Tapi sahabatnya itu seperti tak mendengar. Pandangannya lurus menerawang. Kening Husain berkerut dibuatnya.  Sejauh ia mengenal Ma Xia Wu, belum pernah Ma Xia Wu seperti ini. Ma Xia Wu adalah pemuda kuat nan hebat. Permainan kungfunya sangat luar biasa. Ia tidak hanya ahli memainkan pedang, ia juga ahli memainkan tombak, juga memanah. Bahkan dengan tangan kosong sekalipun ia bisa mengalahkan ratusan prajurit bersenjata dengan sekali tepuk. Selain itu, ia juga pintar. Pintar segala hal. Itu karena dia orang yang sangat rakus dengan ilmu pengetahuan. Hafalannya tajam. Ia bahkan bisa menghafal satu kitab hanya dalam waktu dua hari saja. Ia juga pintar berdagang. Dalam usia semuda itu, ia bisa memasarkan permadani dan kain bergulung-gulung dalam satu hari saja. Penghasilannya bisa bertail-tail emas sekali berdagang. Bagi Husain, Ma Xia Wu adalah seorang pemuda yang sempurna. Kelemahannya satu saja, ia agak tertutup pada orang lain.
Ma Xia Wu memang orang yang tenang, namun bagi Husain, itu bukan sifat aslinya. Ketenangan Ma Xia Wu seperti topeng yang selalu ia pakai untuk menutupi keadaan dirinya. Namun menutupi  keadaan apa, Husain tak tahu. Ia hanya tahu, kalau mata Ma Xia Wu seperti menyimpan suatu gelap yang dalam. Gelap bukan berarti jahat. Namun gelap di mata Ma Xia Wu, berarti serba tak jelas. Mana sifat yang aslinya, ia tak membiarkan orang lain tahu. 
Mengetahui kelemahan Ma Xia Wu tidak membuat Husain membuang rasa hormatnya. Memiliki kelemahan adalah sebuah keniscayaan. Tak ada manusia yang hidup tanpa cacat dan cela. Sebenarnya ada, namun hanya Rasulullah saja. Kelemahan Ma Xia Wu, bagi Husain, tertutup dan terselimuti kebaikan dan kelebihan-kelebihannya. Bagi dia, Ma Xia Wu adalah pemuda sempurna. Sahabat yang sempurna.
Seperti saat ini, Husain merasakan kegelapan dalam hati Ma Xia Wu. Bukan hanya gelap, namun dingin dan sunyi. Ma Xia Wu sedang merasakan sesuatu. Sesuatu yang membuat hati Husain ikut merasa sendu. Apa yang tengah dipikirkannya?
“Saudara Ma,” Husain memanggil Ma Xia Wu. Namun orang yang dipanggil masih asyik dengan lamunannya. Baru setelah panggilan ketiga, Ma Xia Wu baru tersadar.
“Eh, apa? Kau memanggilku, Ho San Ni?” tanya Ma Xia Wu tergagap.
“Aku hanya ingin mengajakmu berkeliling melihat latihan, mumpung kau berkunjung kemari.”
“Oh, tentu saja. Tentu saja aku mau.”
“Mari,” kata Husain mempersilakan.
“Terimakasih.”
“Mereka bersemangat sekali,” kata Ma Xia Wu ketika mereka mulai berjalan.
“Alhamdulillah.”
“Tentu bersemangat, karena memiliki guru sepertimu,” kata Ma Xia Wu sambil tersenyum.
“Aah... kau ini, mereka bukan muridku, aku juga bukan guru mereka.”
“Oya, jadi kalian itu saudara seperguruan? Waah... aku ingin tahu sehebat apa gurunya? Lekas pertemukan aku dengannya, aku akan berguru segera!”
Gurauan Ma Xia Wu membuat Husain tertawa. Selama ini, Ma Xia Wu selalu menganggapnya sangat hebat dan kuat.
“Oh, ya. Masalah apa yang akan dibicarakan Ketua Ma? Sepertinya sangat serius?”
Wajah Ma Xia Wu tiba-tiba keruh. Mirip wajah ayahnya ketika mengatakan hal yang sama.
“Sebenarnya ada apa? Boleh aku tahu?”
“Tentu saja. Apa yang bisa aku sembunyikan padamu?” Ma Xia Wu tersenyum. Husain pun tersenyum. Banyak saudaraku, banyak  yang kau sembunyikan dariku.
“Mengenai latihan yang kita rencanakan ini, mungkin kami tidak bisa melakukannya,” Ma Xia Wu berhenti berjalan. Matanya serius melihat ke arah Husain.
“Mengapa?”
Ma Xia Wu menjawab dengan helaan nafas panjang.
“Sangat panjang Ho San Ni..., jika kuceritakan akan sangat panjang....”
“Akan aku dengarkan...”
Ma Xia Wu kembali melihat Husain. Badannya berbalik, memperhatikan laut yang berombak jauh dibawahnya. Ma Xia Wu duduk diatas rerumpuatan kering ditebing itu. Hingga kepangnya yang panjang, menjuntai menuruni punggungnya dan jatuh menyentuh tanah. Husain duduk disampingnya. Memandang wajah Ma Xia Wu yang terus menerawang. Memutar kenangan yang telah ia rekam bertahun-tahun silam...

*   *   *

“Islam masuk ke Cina sejak masa Dinasti Tang berabad-abad yang lalu. Kepiawaian pendatang Arab dalam berbagai hal, membuat mereka diterima baik oleh Yung Wei, kaisar Tang yang berkuasa saat itu. Bahkan beliau mendirikan sebuah masjid di Canton )13. Sampai pada masa dinasti Ming, agama ini terus berkembang.”
Husain pernah mendengar tentang ini dari Abdul Aziz. Bahkan yang ia ketahui Chu Yuan Chang, pendiri Dinasti Ming adalah orang muslim. Meski ajaran dinasti Ming adalah Confusiesme, namun hubungan Islam dan Kekaisaran tetap harmonis. Beberapa Kaisar Dinasti Ming juga seorang Muslim. Orang-orang Muslim banyak yang menduduki jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan. Meski hubungan Kekaisaran Ming dengan Kekhalifahan Islam mulai memburuk di akhir masa kekaisaran Ming, namun pengekangan terhadap penganut Yisilan Jiaou tidak sampai terjadi.
“Kisah manis itu harus berakhir pada saat orang Manchu berkuasa,” kata Ma Xia Wu melanjutkan. “Mereka bertindak sangat keras terhadap penganut Yisilan Jiaou. Hanya urusan sepele seperti kepang saja, bisa membuat kepala seseorang melayang. Kau tahu apa sebabnya, Ho San Ni?”
“Karena Manchu suku minoritas?”
Ma Xia Wu mengangguk. “Mereka sangat ketakutan dengan yang namanya ketidakpatuhan. Segala bentuk pembangkangan adalah makar untuk menggulingkan pemerintahan. Namun ketika Kaisar Kang Xi berkuasa, semuanya berubah.”
Kening Husain berkerut. Kaisar Kang Xi? Bukankah itu adalah nama dari Kaisar yang sekarang tengah memimpin? Tapi berubah? Tidak, Husain tidak merasakan perubahan hubungan antara Kaisar dan Muslim. “Apakah sikap Kaisar terhadap Yisilan Jiaou lebih baik dari kaisar-kaisar sebelumnya, saudara Ma?”
“Tidak. Maksudku bukan begitu. Berubah bukan pada muslim, tapi pada orang Han, termasuk keluarga Ma.”
“Maaf, aku belum mengerti,” kata Husain setelah lama berpikir.
“Sejak awal Kekaisaran Qing memimpin, hubungan Manchu dan Han sangat tidak harmonis. Kang Xi datang menumpulkan pertengkaran itu. Dia merangkul orang Han. Mengembalikan tanah yang dirampas kaisar sebelumnya, memberikan pemuda-pemuda Han pendidikan dan pekerjaan. Banyak orang Han yang tinggal di kerajaan. Bahkan Kang Xi mempercayai Wang Shan, seorang Han menjadi guru pribadi bagi Yinreng, putra mahkota. Dia juga sangat fasih berbahasa Mandarin, dan sangat hafal budaya-budaya Tiongkok. Kang Xi telah berhasil mengambil hati orang-orang Han, apakah dia penganut Yisilan Jiaou atau bukan.”
Husain menguraikan kerutan di keningnya. Sekarang ia mulai mengerti. Orang Han yang muslim sulit direkrut untuk memberontak pemerintah, karena sekarang, mereka merasa sudah menjadi bagian dari pemerintah itu sendiri. Husain menghembuskan nafas pelan. Ini berita yang kurang baik. Karena muslim Han sangat diharapkan partisipasinya, terutama karena masalah jumlah.
Husain memandang lautan luas. Ombak berukuran sedang saling susul-menyusul menyentuh pantai. Sekarang Husain mengerti, apa arti keresahan dimata ketua Ma. Dan ia pun mengerti sebab kabut yang terus bergelayut dimata Ma Xia Wu.
“Pasti ada hikmahnya,” kata Husain tiba-tiba, membuat kepala Ma Xia Wu menoleh padanya. “Jumlah bukanlah ukuran kemenangan, bukan? Saudara Ma?” Husain melihat Ma Xia Wu dengan pandangan tulus, membuat senyum dibibir Ma Xia Wu  tersungging lebar.
Betul, jumlah bukanlah ukuran kemenangan. Mereka tahu tentang sejarah Badar, ketika yang sedikit menjadi pemenang, juga sejarah Hunain, ketika jumlah yang banyak bisa melenakan. Sekarang tinggal mengambil cara, agar jumlah yang tak begitu banyak tetap bisa membuahkan kemenangan. Agar mereka bisa menjadi prajurit Badar yang sebenarnya. Sebab misi pemberontakan ini adalah penentu kemengangan dakwah dimasa depan.
Pandangan Husain dan Ma Xia Wu kembali beralih jauh kedepan. Kali ini mereka melihat langit yang berhias awan bergumpal-gumpal. Serupa itu sekarang pikiran mereka. Tentang tak-tik perang, tentang latihan, tentang prajurit, tentang senjata. Bertumpuk-tumpuk semua itu dalam otak mereka. Bersusun tak beraturan. Semrawut tak tentu tempat.
Husain menarik nafas panjang. Tenang..., semua itu harus ia pikirkan matang. Sedikit salah langkah bisa menjadi bumerang, lalu perjalanan yang sudah ditapaki menjadi sia-sia dan percuma. Satu-satu, pikirkan satu-satu...
Husain memejamkan mata dalam belaian angin dan suara pendar ombak yang hening. Pasti ada cara...
“Tuan Muda.”
Sebuah suara menyeruak dari belakang punggung mereka.
“Tuan Muda Husain.”
Satu suara lagi. Namun tak mampu diantarkan angin kedalam dunia hening Husain. Ma Xia Wu yang menoleh, melihat seorang gadis yang tengah menunggu Husain. Gadis berwajah Persia, berbalut gamis merah maroon, memakai tutup kepala seperti ulama timur tengah. Pakaian yang dipakainya mirip pakaian para kaum lelaki ketika hendak berperang atau melakukan perjalanan, hanya yang gadis itu kenakan lebih lebar, dan tanpa rompi besi. Dari kejauhan, Ma Xia Wu juga melihat segerombolan orang yang agak memisahkan diri dari pasukan yang lain, berpakaian sama seperti perempuan yang ada dihadapannya ini. Apakah ia adik Husain? Lalu pakaian yang mereka kenakan, apakah mereka terlibat latihan? Jika ya, alangkah membuat iri...
“Tuan Muda Husain?”
Melihat Husain, yang tak mempedulikan suara yang memanggilnya, Ma Xia Wu berinisiatif untuk menyentuh pundak Husain.
“Saudara Ho?”
Husain tersentak, ia menoleh cepat pada Ma Xia Wu. “Ah, ada apa saudara Ma?”
Ma Xia Wu menunjuk Mei Lin dengan matanya, membuat Husain berbalik dan menyadari, bahwa sedari tadi ada orang yang memanggilnya.
“Oh, Maaf Nona Mei Lin, ada sesuatu yang tengah saya pikirkan.”
Nona? Berarti bukan adik Husain, bisik Ma Xia Wu.
“Anda memang selalu memikirkan ummat, Tuan Muda.”
“Ada Apa?”
“Latihan memanah. Kami sudah menunggu.”
“Oh, ya. Sudah waktunya rupanya. Tapi...,” Husain melihat Ma Xia Wu. “Ada seorang guru bermain pedang yang hebat. Bagaimana kalau kita memanfaatkan kunjungannya yang sebentar ini Nona Mei Lin?”
“Ah, tapi...,” Mei Lin melihat Ma Xia Wu. “Bagaimana dengan jadwal latihan memanah kami Tuan Muda? Lagipula menurut saya, bermain pedang...”
“Belajar memanah bisa disaat lain. Sore atau esok hari.”
“Tapi kami juga sudah memiliki jadwal lain...”
“Ah, maaf,” sela Ma Xia Wu. Ia mulai merasa tak enak.“Kalau boleh saya tahu, siapa pelatih pedang yang hebat itu saudara Ho?”
“Anda tentu saja, saudaraku,” jawab Husain tersenyum.
“Kalau begitu maaf saya tidak bisa.”
“Kenapa?” tanya Husain kecewa.
“Pertama, karena saya bukan pemain pedang yang hebat. Kedua, saya tidak bisa melatih kaum wanita. Bukan membedakan, tapi pedang yang saya gunakan sangat berat untuk perempuan, harus dibuat khusus dari bahan yang agak ringan. Jadi kalaupun bisa, tidak bisa sekarang. Maaf saudara Ho.”
“Ah, kalau begitu, Anda melatih pasukanku saudara Ma.” Sambil berkata seperti itu, Husain beranjak mendahului Ma Xia Wu dan meninggalkan Mei Lin.
“Eh, Tuan Muda!”
“Saudara Ho!” kata Ma Xia Wu berbarengan dengan Mei Lin. Melihat Husain yang menjauh, Ma Xia Wu pun segera berlari menyusul Husain setelah ia melihat tak enak pada Mei Lin sekilas.
“Apakah disini kaum wanita berlatih perang?” tanya Ma Xia Wu setelah langkahnya sejajar dengan Husain.
“Ya, sesuatu yang tidak aku setujui sebenarnya.”
“Pantas kau tak mau melatih mereka.” Ma Xia Wu tertawa. Belum bertahun mengenal Husain sebenarnya, tapi waktu yang tak banyak itu cukup membuatnya sangat mengenal Husain. Husain orang yang sangat enggang berhubungan dengan kaum perempuan. Sikapnya menjadi agak pemarah, kaku, dan terlampau tegas. Kecuali pada kaum ibu dan kaum nenek Husain tak seperti itu. Mungkin menjaga kuat hijabnya, tapi menurut Ma Xia Wu, tak harus sekeras itu. Tapi Ma Xia Wu tak tahu, kalau sekarang Husain tengah bersikap sangat lunak pada seorang gadis.
“Ya. Sebenarnya hanya tak biasa. Lagipula saya sudah meminta saudara lain yang melatih mereka, tapi aku tak tahu mengapa, akhirnya aku juga yang harus melatih mereka.”
“Mungkin karena kau memang sangat pandai memanah.”
“Ah, sudahlah. Sekarang aku ingin memanfaatkan kedatanganmu, saudara Ma. Disebelah sana, semua pasukan akan berkumpul. Aku mohon, Anda mau mengajari kami, Guru.” Husain menangkupkan kedua tangan didepan kepalanya sambil tersenyum.
“Baik, dengan satu syarat. Kau juga mengajarku bermain panah, Guru,” kata Ma Xia Wu juga dengan menyatukan kedua tangan diatas kepalanya dengan badan sedikit terbungkuk.
Sekarang, mereka berdua berjalan mendekati pasukan sambil tertawa.
Dari jauh, Mei Lin memperhatikan kedua pemuda itu. Memandanganya dengan pandangan yang tak lepas-lepas sedari tadi. Ah, bukan. Bukan memandang kedua pemuda itu, tapi hanya memandang Husain. Hanya memandang Husain.
Mengapa dia selalu marah padaku? Membantah semua rencanaku? Tidak sukakah dia?


*   *   *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar