Minggu, 07 Januari 2018

Pangeran Istana Langit (7)

“Begitulah Yesus berkata...,” Ferdinand Verbiest menutup pembicaraan, diiring anggukan kecil pangeran ke empat belas.
“Ajaran yang mulia,” kata Yinti. Ia duduk tak seberapa jauh dari Verbiest. “Meski sebenarnya ada beberapa hal yang tak kumengerti...,” Yinti menerawang.
“Pangeran bisa bertanya padaku, sebab agama adalah sesuatu yang rasional dan masuk akal,” Verbiest tersenyum.
Yinti juga tersenyum penuh arti. Ia mengerti Verbiest tengah menyerang Confuisme yang katanya serba mengkhayal.
“Bagus jika menurutmu begitu,” Yinreng menghela nafas memberi jeda, “hanya tak tercerna oleh pikiranku Tuan Verbiest, mengapa Yesus mengorbankan dirinya untuk menebus dosa-dosa manusia?”
“Itulah kemurah-kasihan Yesus, anakku. Tak ada manusia yang semulia dia...”
“Kalau begitu, mengapa dia masih menyuruh untuk berbuat baik dimuka bumi? Bukankah dosa dan perbuatan rusak telah dia tebus sempurna?” tanya Pengeran Pertama dengan kelembutan. Tapi kelembutan yang demikian itu ternyata cukup keras menampar muka Verbiest.
“Aku tidak suka kau menyerang ajaran kami Verbiest! Tugasmu di Istana ini bukan untuk itu, Yinreng mendengus kesal. Ia berdiri dan beranjak dari tempat itu, diikuti Pengeran-pangeran yang lain.
Verbiest menghela nafas. Ditatapnya punggung para pemuda itu dengan putus asa. Apakah ia kurang bersabar dan terlalu tergesa-gesa? Meski telah bertahun ia mendakwahkan segala pemahamannya? Padahal Confusius yang mereka anut pun, mereka adopsi dari kepercayaan orang Cina, sebab orang Manchu datang memimpin negeri ini tanpa punya pegangan sama sekali. Mereka hanya meniru.
“Aku tertarik dengan uraianmu Verbiest,” sebuah suara dari arah belakang membuat Verbiest tersadar, ada satu Pangeran yang tinggal.
Verbiest berbalik. Diliriknya Pangeran ke-14 yang tengah tersenyum padanya.
Sejak itu, pembicaraan antara Yinti dangan Ferdinand Verbiest semakin sering. Banyak hal yang mereka diskusikan. Tentang teknolongi, tentang peradaban, tentang budaya, dan tentu saja tentang agama Kristiani.

*   *   *

“Pangeran ke-14,” Yu Lan menyapa Yinti ketika ia berpapasan dengannya dikoridor istana.
“Ah, Yu Lan. Baru pulang dari Wisma Kecerdasan?”
Yu Lan mengangguk, membuat hiasan rambutnya yang panjang menjuntai bergoyang-goyang kedepan dan kebelakang.
“Tidak mampir ketempatku, Pangeran?”
Yinti berbalik kebelakang, melihat Istana Bunga Musim Semi tak jauh darinya. “Sebenarnya aku hanya lewat saja...”
“Apakah Kakak ke-14 sedang terburu-buru?”
“Ah, tidak juga. Aku hanya akan ketempat Guru Liu.”
“Tentu saja. Pangeran Yinti, kalau tidak ketempat Guru Liu pasti ketempat latihan,” kata Yu Lan sambil tertawa.
“Kau ini...”
“Ya sudah kalau tidak mau beristirahat ditempatku..., padahal aku punya cerita yang sangat bagus.” Yu Lan sedikit merendahkan tubuhnya, dan melempar saputangan kebelakang pundaknya, memberi hormat.
Yinti menoleh pada Yu Lan sambil mengerutkan keningnya. “Baiklah, sebentar mungkin tak akan menyita banyak waktu...,” kata Yinti akhirnya mengikuti langkah-langkah Yu Lan menuju Istana Bunga Mesim Semi.
“Kaligrafi yang sangat indah!” Yinti mengamati kaligrafi yang menghiasi tubuh sebuah guci ketika ia sudah berada dalam Istana Bunga Musim Semi.
Yu Lan bertopang dagu ditempat duduknya, melihat polah Yinti yang tak henti berkeliling Istana Bunga Musim Semi dan mengatakan hal yang sama ketika sampai pada sebuah lukisan, atau Guci yang dipajang diistananya. Lalu dia berhenti beberapa lama untuk memandang kaligrafi itu dengan pandangan kagum dan takjub seperti ini. Dan beberapa lama versi Yinti adalah beberapa jam! Seperti baru melihat benda aneh saja!
Ah, tunggu. Memang baru melihat kan? Seingat Yu Lan, Yinti belum pernah datang keistananya. Bukan hanya Yinti, Pangeran dan putri yang lain pun belum pernah ada yang mengunjunginya. Hanya Baba, Permaisuri dan Ibu Suri saja yang pernah menginjakkan kaki disini. Itu pun datang untuk memberi hukuman pada Yu Lan. Ya, kecuali Kun Lan, tak ada yang datang ke istana ini khusus untuk menengok atau sekedar ingin melihatnya.
Sekarang ketika ada orang lain yang berkunjung pun malah asyik melihat-lihat dinding dan hiasan rumah, seolah-olah hiasan-hiasan itulah penghuni Istana Bunga Musim Semi ini. Padahal tahukah Pangeran ke-14 kalau ia sudah ingin marah menunggunya selesai untuk diajak bicara?
“Pangeran ke-14 benar-benar menyebalkan!” Yu Lan tiba-tiba mengumpat, membuat Yinti seperti terlonjak dan terlempar beberapa jauh dari tempatnya berdiri.
“Apa?” Yinti memandang Yu Lan tak mengerti.
“Kau menyebalkan!” ulang Yu Lan.
“Kenapa aku menyebalkan?” tanya Yinti. Ia bukan marah, sebaliknya, diujung bibirnya ada sesungging senyuman yang setengah mati ia tahan. Ia memang sering mendengar dari pembicaraan-pembicaraan, kalau Putri Yu Lan selalu bersikap aneh. Tapi terus terang, baru sekarang ia melihatnya secara langsung. Diantara putra-putri Kaisar, mungkin ia satu-satunya orang yang tidak menjalin kedekatan dengan anak kaisar yang lain. Tepat, ia menjaga jarak.
Sebenarnya tak berarti mereka satu sama lain sangat akrab, hanya biasanya, anak-anak kaisar membentuk sebuah kelompok-kelompok kecil. Yang ini dekat dengan yang ini. Yang itu dengan yang itu. Bahkan terkadang antar kelompok terjadi permusuhan. Itulah salah satu sebab Yinti menghindari semuanya. Jadi wajar saja, kalau keanehan Yu Lan yang sering jadi perbincangan itu baru ia lihat sekarang.
“Kenapa malah menahan tawa?” tanya Yu Lan.
Yinti tidak menjawab. Ia malah terlihat mengendalikan tawanya. Yu Lan melihat Yinti sebal. Yu Lan tahu, Yinti pasti mentertawakan caranya berbicara dan mengumpat. Sama sekali tak memperlihatkan kalau ia Putri seorang Kaisar Kang Xi.
“Ah, sudahlah. Lalu sebenarnya apa cerita yang kau simpan untukku, Yu Lan?”
“Tentang kegiatanku dirumah keluarga Hu.”
“Oh?”
“Kau tahu, disana aku mendapatkan kebebasan. Aku seperti burung dalam sangkar yang dibebaskan. Ya... memang hanya sehari, tapi itu cukup untuk melepaskan rasa jenuh yang kita rasakan. Sebaiknya kau pun meminta hal yang sama pada Kaisar. Kaisar pasti akan mengizinkan, karena itu berarti kau akan menemaniku kan?”
Yinti berjalan dan duduk disamping Yu Lan. Ia menghela nafas. Sama sekali kelihatan tak tertarik.
Lalu Yu Lan berkata lagi, “Lalu kau tahu, pemandangan disekitar wisma paman Hu sangat indah. Ada perbukitan, danau juga hutan. Ah, kau suka berburu bukan? Dihutan itu ada banyak binatang buruan. Kun Lan pernah mengajakku kesana.” Yu Lan bercerita dengan semangat yang dibuat-buat. Tapi Yinti bisa menangkap kepura-puraan itu.
“Aah... sudahlah. Bicara saja terus terang. Sebenarnya bukan itu yang ingin kau perbincangkan kan?”
“Maksudmu?”
“Kau memintaku kemari tak lain karena sebenarnya kau ingin tahu sesuatu kan? Tentang apa?”
“Apa? Bagaimana kau tahu?”
Air muka Yinti tiba-tiba berubah. Wajah yang ramah itu tiba-tiba menjadi dingin dan beku. “Aku tahu saja,” katanya. Sebab orang yang mendekatiku, pasti karena membutuhkan sesuatu dariku, bukan karena mereka ingin berteman denganku.
“Baiklah, aku ingin tahu silsilah keluarga Kaisar.”
“Silsilah keluarga Kaisar? Kita semua sudah tahu bukan? Apa yang belum jelas?”
“Ya tentu saja, tentang silsilah Kaisar kita semua tahu. Tapi tak banyak yang tidak tahu tentang keluarganya bukan?”
“Aku tak mengerti.”
“Tentang para selir, tentang anak-anak mereka.... Atau..., apakah mereka tak dianggap keluarga Kaisar sehingga tak perlu dipelajari?”
Yinti tersentak. “Kau ingin tahu tentang ibumu?”
Yu Lan mengangguk muram. “Apa aku tak berhak tahu?”
Yinti menghela nafas dan terdiam beberapa lama.
“Apa yang ingin kau tahu?”
“Keberadaannya selama di istana.”
“Maksudmu?”
“Apa saja yang dilakukannya selama di Istana? Apa saja yang terjadi selama dia ada, lalu sejauh mana hubungannya dengan Kaisar.”
“Kalau begitu, kau telah salah bertanya. Aku bukan tukang gosip yang suka mendengar berita-berita seperti itu!” Yinti berdiri dan beranjak. Dia terlihat marah.
“Ah, Pangeran ke-14, tunggu! Maafkan aku...,” Yu Lan berlari menyusul Yinti. “Aku tak bermaksud membuatmu marah. Aku benar-benar minta maaf...”
Yinti menahan langkahnya, lalu membalikkan tubuhnya. Dilihatnya wajah Yu Lan yang terlihat sangat menyesal. Lama-lama, wajah itu memuram, dan tiba-tiba berair mata.
“Aku minta maaf. Seharusnya memang aku tak bertanya masalah sepele seperti ini pada Kakak Laki-laki ke-14. Maaf... aku hanya tak tahu harus bertanya pada siapa..., aku tak punya tempat untuk bertanya...,” Yu lan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Yinti merasa iba. Tak ada tempat untuk bertanya? Itu artinya, Yu Lan sendiri. Didunia seramai ini. Bukankah itu mirip dengan dirinya? “Bukankah kau bisa menanyakan itu pada Kun Lan? Aku yakin, dia pasti tahu sesuatu.”
“Tidak,” Yu Lan membuka wajahnya, lalu tersenyum pahit. “Kun Lan tidak pernah sepenuhnya mempercayaiku. Dia lebih takut pada Baba daripada ingin menjagaku.”
Yinti terdiam sejurus. “Kalau begitu ayah Kun Lan?”
“Benar, hanya paman yang mau memberitahuku kenyataan meski itu melanggar janjinya pada Kaisar. Dari dia aku tahu, siapa ibuku. Meski aku menginginkan lebih dari apa yang ia ceritakan. Tapi bagiku cukup. Sampai batas itulah kemampuannya.”
“Apa yang dia ceritakan?”
“Ibuku orang Han. Dia dari keluarga Ma.”
“Keluarga Ma?” Yinti mengulang perkataan Yu Lan, entah mengapa tiba-tiba dadanya berdegup kencang. Tubuhnya tiba-tiba dilingkupi hawa panas dan dingin sekaligus.
“Benar, keluarga Ma. Yang aku tak mengerti, mengapa Kaisar menyembunyikan identitasnya dari aku, anaknya? Padahal dia tak pernah menyembunyikan edentitas selir manapun pada orang macam apapun. Itulah yang ingin aku tahu. Makanya aku bertanya hal yang tidak-tidak padamu, Pangeran.”
“Ah, tidak apa-apa,” Yinti lekas-lekas mengendalikan jiwanya yang menggeledak. Tangannya mengepal, namun ia sembunyikan dibalik pakaian longgar yang menutup lengannya. “Aku yang salah terlalu berprasangka padamu, Yu Lan. Aku pikir, kau mempunyai alasan yang sama dengan putri yang lain saat mereka mendekatiku. Aku benar-benar minta maaf...”
“Alasan yang sama?”
“Sebagaimana dirimu, aku, diistana ini sendiri. Akan ada teman yang menyertaiku jika aku menguntungkan posisi mereka dihadapan Kaisar...,” kata Yinti muram.
“Maaf....  Eh, tapi jika begitu, sekarang kau punya teman kan?”
Yinti menatap Yu Lan tersentak.
“Aku bukan? Kita sama-sama sendiri dan kesepian. Akan lebih indah jika kita bersama-sama saling berbagi sepi bukan?” tanya Yu Lan tersenyum. Yinti mengiringi senyum itu dengan tawanya.
Keluar dari istana Yu Lan, Yinti bergesas menuju keistananya sendiri dengan setengah berlari. Tujuannya semula untuk menemui Guru Liu ia urungkan. Tidak bisa, dalam keadaan seperti ini ia tidak bisa bertemu siapapun. Siapapun. Karena itulah, segera setelah ia sampai diistananya, ia menutup pintu dengan cepat. Ia mengangguk saja saat pengawal menanyakan prilakunya yang sedikit diluar kebiasaan itu.
“Apakah Anda sakit, Pangeran? Perlukah kami panggilkan tabib?”
“Tidak usah, aku hanya perlu istirahat. Jangan ada yang menggangguku.”
Yinti duduk diatas dipan kayu berukir miliknya. Nafasnya masih tersengal-sengal.
Ibuku orang Han. Dia dari keluarga Ma...
Ibuku orang Han. Dia dari keluarga Ma...
Kata-kata Yu Lan terus-menerus berulang diruang dengarnya.
Orang Han, bermarga Ma. Mungkinkah ia penganut Yisilan Jiaou?
Yinti memejamkan matanya. Keringat dingin sekarang benar-benar keluar dari sekujur tubuhnya. Tangannya terus mengepal.
Sejak tadi, pikiran itulah, yang terus menerus menyumbat tali pikirnya...


*   *   *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar