Putri salju, cinderella, beauty and the beast. Rasanya semua anak cewek tahun 90-an tahu kisah itu. Meski saya agak aneh, saya tetap tahu kok kisah itu. Waktu SD saya pernah curi-curi baca semua dongeng itu dari kamar kakak saya. Buku selebar majalah bobo setebal 7 cm-an itu saya selesaikan seluruhnya. Tuntas setiap hurufnya. Dari semua dongeng viral itu, justru yang paling berkesan adalah kisah Ratu Salju, kisah seorang perempuan jahat yang tinggal di sebuah gua es. Lucunya, saya malah merasakan kesedihan dan kesepian hatinya dibanding benci pada sikap jahatnya. Untuk sekelas anak SD, ok, pikiran saya sama jahatnya dengan si Ratu Salju.
Hingga sekarang, perasaan terdalam ratu salju sering terlintas dan bahkan jadi tema dalam lamunan-lamunan tak penting saya.
Selain kisah itu, yang berbekas adalah kisah putri yang tidak bisa tidur hanya gara-gara sebutir kacang polong, yang sengaja disimpan di bawah tumpukan kasur setinggi rumah. Saya lupa judulnya, tapi saya ingat betul kisahnya. Bahkan gambar ilustrasinya masih lekat di ingatan. Saya kagum dengan kecermatan putri raja itu? Tidak, saat itu saya malah merasa dia konyol dan gila. Maksud saya, ‘hellooo, itu kacang polong ketahan sama tumpukan kasur setinggi rumah! Manja amat lu sampe nggak bisa tIdur gara-gara butir sejendil!' Intinya, saya paling tidak suka kisah itu, meski alur cerita justru memuja gadis itu karena ternyata dia putri raja yang sesungguhnya.
Selain itu, dalam buku juga tentu ada dongeng-dongeng putri yang judulnya saya sebutkan di awal. Itu bukan dongeng yang mau saya baca dua kali. Saya nggak suka, sebal, dan muak. Waktu itu saya pikir, para putri terlalu naif dan bodoh. Para pangeran terlalu dungu sampai mencium putri beracun atau putri yang jelas-jelas mati dan diarak menuju liang kubur. Hah, gila.
Kisah lainnya yang mewarnai masa kecil saya adalah kisah2 yang lebih rasional. Dongeng putri rupanya bikin saya kapok. Saya suka kisah rasional little missy, romantismenya nggak terlalu ngayal untuk ukuran anak sd, tapi anehnya yang menempel dikepala saya adalah kelamnya sejarah perbudakan pada masa itu. Meski saya masih ingat nama tokohnya, seperti Missy, Rudolfo, Baron Ararona, Candida, Dimas, Justo, Roberto, Anna, tapi tak satupun dari mereka yang jadi paforit saya. Saya tak suka mereka. Ok, sampai sini kalian berikir, saya anak kecil yang aneh banget. Hehe...
Saya memang begitu. Apa yang orang benci biasanya saya sukai. Apa yang orang suka dan puja, saya malah geli. Contohnya, ketika usia saya bertambah, saat itu lagi rame film Yoko dan bibi Ling. Semua orang suka tokohnya karena Yoko cerdas dan ceria (mirip judul sebuah acara ya). Tapi saya nggak suka. Tiap nonton saya malah berharap si yoko mati, si bibi Lung juga. Hahha... Maaf ya pemirsa, maklum pikiran anak kecil... Hihi...
Tokoh yang saya suka, bahkan jadi paforit saya justru paman si Yoko, Kwee Cheng dan Rong Er. Padahal waktu itu setahu saya, mereka cuma peran pembantu di cerita tersebut. Baru setelahnya saya tahu mereka tokoh utama di buku pertamanya. Mengapa saya tak suka Yoko? Karena dia egois, dan gila. Dia hanya memikirkan cinta sampai beruban, sementara orang lain memikirkan negara.
Tokoh terkenal sebelum zaman Yoko, sebenarnya ada kisah Siti Nurbaya-nya Novia Kolopaking dan Suamsul Bahri-nya Gusti Randa. Siapa tokoh paforit saya di sinetron itu? Him Damsyik si Datuk Maringgih. Weeew... Tanya kenapa...
Gampang, karena si Gusti Randa, eeh, si Syamsul Bahri rela nyari mati dan jadi pengkhianat bangsa sementara meskipun sempat jahat, si datuk maringgih mati syahid dalam barisan pejuang. Syahid? Yah, anggap saja dia sudah bertobat deh...
Nginjak SMP, dongeng-dongeng bertambah menjadi arsip di kepala saya. Karena sudah merasa dewasa (haha) saya juga merasa harus menyeleksi bacaan. Karena bekal sinetron Siti Nurbaya, semua buku novel di perpustakaan smp saya lahap habis. Tapi, saya tak pernah mau menyentuh buku Sitii Nurbaya, saya agak dendam sama penulis soalnya. Hehe... Tahulah kenapa.
Buku Mekar Karena Memar-nya Armijn Pane, Layar Terkembang, semua novel Hamka, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, I Swasta setahun di Bedahulu, Perempuan di Sarang Penyamun, sampai Olenka-nya Budi Darma. Iya, kepala saya berjejal cerita memang, hingga terdoronglah rumus-rumus fisika dan aljabar yang sebenarnya gampang-gampang saja buat dikerjakan. Hehe...
Dari semua kisah itu, mana yang jadi paforit saya?
Bertengkar Berbisik, kisahnya membuat saya tertawa bahkan kalau saya ingat sekarang. Padahal kata teman, itu nggak lucu-lucu amat. Kalau cerpen, saya suka karyanya Idrus, kisah Celana Kepar 300. Kalau novel, saya suka Olenka. Apa yang membuat saya suka Olenka? Bahasanya dan latar belakang kisahnya.
Olenka adalah seorang cewek aneh yang dikejar si tokoh. Dan keanehan ini yang membuat saya suka ceritanya. Si Olenka ini labil, pernah gagal berumah tangga, bahkan pernah terjerumus lesbi. Ini kisah rasional. Kisah kehidupan orang-orang biasa. Olenka membuat saya berpikir banyak, berpikir serius tentang latar belakang kerpibadian dan pergolakan hati ketika usia saya masih kelas dua smp. Kenapa Olenka akhirnya lari pada teman perempuannya? Apa yang ada dipikirannya? Dan, ya... Hal-hal semacan itulah. Ingat ya, zaman itu lgbt begitu jijik, tapi Olenka membuat saya tahu, bahwa mereka ada. Penyakit itu ada...
Kisah lainnya yang berbekas adalah Belenggu. Ini kisah novel rumah tangga, tentang konflik suami istri. Hadew, anak smp baca ginian..., eh, selain konflik rumah tangga, ini nggak ada jorok-jorokan ya! Ini sastra Pujangga baru sampai angkatan 45 ya, bukan Mira W dan teman-temannya. Tapi... Well, ini memang terlalu dewasa untuk bekal isi kepala anak smp kelas dua. Heuheu...
Lain kali, saya ingin bahas tokoh2 ini satu persatu... Stay tune ya...
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 14 Maret 2018
Jumat, 29 Desember 2017
Kota Terlarang
Pangeran Istana Langit adalah tulisan saya yang sangat istimewa. Selain karena ceritanya yang cukup panjang, menyelesaikan novel ini butuh perjuangan karena harus mengumpulkan tulisan dan referensi yang cukup banyak dan memakan banyak waktu.
2 tahun lebih, at least, novel ini selesai.
Selesainya sudah lama, dan sebelum terbit di blog ini, tulisan ini pernah menghampiri beberapa meja redaksi penerbit nasional. Bisa ditebak, karya saya yang fenomenal ini tidak lolos cetak. Mengapa? alasannya macam-macam sih, dari yang mulai tidak memberi jawaban (jelas ini alasan kebanyakan mereka), sampai yang katanya terlalu panjang. Tapi intinya, 'Pangeran Istana Langit' jelas diprediksi tak laku dipasaran.
Tersinggung? Tidak lah. saya sadar sesadar-sadarnya, tulisan saya memang anti mainstream. Sudah mah orang penyuka buku di negara kita teh sedikit, tambah lagi pake embel-embel sejarah, tambah lagi tebalnya nggak ketulungan. Orang bakalan mikir seribu kali buat beli buku saya. hehehe...
Daan... petualangan 'Pangeran Istana Langit' ternyata berakhir disini sodara-sodara... semoga kalau disini ada yang baca, hehehe...
Oh iya, Pangeran Istana langit bercerita tentang Kota Terlarang. Iya, ini istana kekaisaran Cina sebelum berubah republik dan akhirnya komunis, letaknya ada di Bei Jing sana.
Saya mengambil setting pada masa Kang Xi dari Ching/manchu berkuasa. ini penting saya katakan, karena teman-teman saya banyak yang nyangka kalau Kang Xi ini tokoh khayalan seperti Yu Lan dan Ho San Ni.
Selain Kaisar kang Xi, tokoh yang ada aslinya adalah Yinreng dan Yinti, juga pastut Ferdinand. selain itu, cuma fiksi belaka. tapi, sebagimana para novelis lainnya (weees ah aku ngaku-ngaku novelis, hahaha), saya berharap tulisan ini memberi sesuatu pada pikiran dan hati pembaca. sesuatu yang mengunggah, juga merubah. Atau paling tidak, memberi kesadaran bahwa China adalah saudara tua kita.
Lewat Ho San Ni dan Yulan, saya ingin kita mengingat, bahwa pada negeri yang terlupa di Xin Jiang sana, ada saudara kita yang tengah berjuang...
Semoga, harapan saya menjadi kenyataan...
Selasa, 15 November 2016
Max Havelaar, Sebuah Ulasan
Buku ini saya cari-cari sejak puluhan tahun yang lalu. Lebay?
Nggak! Saya serius!
Saya masih ingat betul, waktu mempelajari sejarah zaman SMP
baheula. Buku ini dibahas sekilas dan dipuji. Betapa isinya membuka kejahatan
sistematis penjajahan Belanda di Indonesia. Membuka mata rakyat Belanda nun
jauh disana, menyadarkan mereka betapa bangsa mereka kejam pada bangsa lain.
Buku ini, menjadi sangat fenomenal pada masanya. Membuat buku
ini dicekal peredarannya, dan pada akhirnya membuat kerajaan Belanda
memperlunak penjajahannya dan melakukan penebusan dosa dengan mendirikan
sekolah untuk kaum pribumi Indonesia.
Berita sejarah yang singkat namun terasa luar biasa itu
membuat rasa penasaran saya menyembul. Pertanyaan yang timbul adalah; ‘iya
gitu?’, ‘seorang utusan menjelekkan bangsanya sendiri?’, ‘kejelekan dan
kejahatan macam apa yang ia beberkan?’, dan ya... pertanyaan-pertanyaan remaja
macam begitu lah! Pertanyaan yang membuat saya penasaran setengah mati, tapi
tak membuat rasa penasaran itu sekarat. Keinginan menggenggam dan membaca Max
Havelar tetap membara dalam relung hati saya (halakh!).
Hingga singkat cerita, setelah tepatnya 23 tahun berikutnya,
saya melihat buku ini bertengger manis di rak buku adik saya, saat saya
menyempatkan diri berkunjung ke rumah orangtua. Akhirnya saya dapatkan! Ini bukan
mimpi kan? Saya meyakinkan diri saya dengan menyentuh dan membukanya (saya
waras ya, jadi saya nggak perlu nyubit pipi saya sendiri), lalu tanpa menunggu,
langsung memasukkan buku itu ke tas saya dan membawanya pulang!
(Ini bukan pencurian, saya cuma lupa bilang. Atau pencurian?
Ah sudahlah, bukan itu yang ingin dibahas, toh suatu saat kalau saya menemukan
buku yang bisa saya beli, akan saya kembalikan buku yang ini... hehe)
Saya selesaikan membacanya dalam dua hari. Ok, mungkin
terlalu lama memang, tapi jujur saja, alur dan bahasa zaman dulu membuat saya
sedikit merasa bosan membacanya. Jujur saja saya agak kecewa. Bukan karena alur
dan bahasanya itu, tapi rasa fenomenal dan rasa luar biasa ternyata tak saya
dapatkan dalam buku ini.
Tak seperti gembar-gembor buku sejarah dulu, ternyata saya
tak mendapatkan kejahatan Belanda yang sangat sadis atau apa, sebaliknya saya
malah mendapatkan kejahatan mereka hanya ‘biasa-biasa’ saja. Tak ada kekejaman
macam Hitler (tentu saja!), apalagi dibandingkan kejahatan perang sebuah negara
bernama Israel. Wah, terlalu jauh untuk dibandingkan.
Kejahatannya ‘cuma’, mereka menduduki bangsa lain. Itu saja.
Saya bukan menyepelekan sebuah kejahatan besar bernama
penjajahan ya, saya hanya sedang membandingkannya dengan gambaran kekejaman
Belanda yang saya tangkap dari buku sejarah zaman dulu.
Siapa yang salah? Apakah Douwes Dekker yang membahasakan
kekejaman itu dengan bahasa yang terlalu lunak? Atau sejarah kita yang terlalu
membesar-besarkan kekejaman penjajahan Belanda? Ataukah justru imajinasi saya
yang terlalu hiperbola?
Ah, sudahlah, apapun itu, bahasan saya tentang buku ini akan
terus berlanjut, sebagai pembuktian, bahwa apa yang saya katakan benar.
Belanda tak terlalu kejam. Tak sesadis Hitler, tak
seberingas Israel.
Itupun jika—yang diberitakan Max Havelaar pada kita—adalah
kebenaran...
Sabtu, 12 Maret 2016
Sekarang, Lipstik
Lagi demen bahas kosmetik nih. Kemarin bahas pelembab, sekarang bahas lipstik.
Saya bukan penggemar berat lipstik, meskipun keinginan hati mah semua warna dikoleksi. Tapi saya cukup punya perhatian khusus sama produk ini. Kenapa? Mhhh... kenapa ya...
Diantara semua lipstik yang ada, (tadinya 10 batang), ini lipstik favorit saya. Warnanya yang nude, bikin saya enggak kelihatan menor kalau saya pakai ini keluar rumah. Jenisnya mate, jadi enggak mengkilap. Ringan di bibir, dan warnanya tebal. Meskipun sekali usap, tetap terlihat tebal, bahkan saya harus tekankan bibir saya dengan tissue sebelum saya dapatkan warna tipis merata seperti yang saya mau. Kesan yang didapat, wajah saya jadi berkesan segar.
Lagi-lagi, produk ini recomended banget!
Jumat, 11 Maret 2016
Pelembab Wardah
Sebelumnya, saya pakai pelembab dan krim pagi-malam dengan produk yang lain. Kulit saya masih kering, terutama di hidung, kadang sampe kulit aga ngelupas gitu saking keringnya. Kalau kata orang sunda mah, megar cenah. Itu enggak nyaman banget rasanya, udah mah enggak enak disentuh (kebiasaan jelek, don't try at home, kalo di jalan boleh kali ya, hehe), agak perih pula. Itu kalau saya pakai pelembab, kalau kebetulan lagi malas atau enggak keburu? Wadaw, bisa lebih parah dari itu enggak enaknya. Tambah lagi, si bedak juga enggak mau nempel dan apalagi 'megar' ny amalah nambah jelas. Rese ya?
Tapi bunda semua, ternyata tanpa sadar, saya sudah kehilangan masalah itu sekarang. Alhamdulillaah... Saya juga enggak nyangka, ternyata saya cocok banget pakai ini. Udah meresapnya cepat, kulit jadi enak di cubit, lembab, dan ringaaaan banget. Tambahan lagi cepat meresap jadi enggak lengket. Pencet-pencet hidug jadi lebih sering sekarang, hahay!
Produk ini recomended banget deh, terutama karena ada label halal MUI juga. Jadinya nyaman di hati juga.
Benarkan yang saya bilang? Allah akan ganti dengan yang lebih baik! Terimakasih ya Allah...
NB : Keluapaan, harga produk ini di mini market, 24.000,- IDR. Mureh yee...
Kamis, 10 Maret 2016
Buang Kosmetik
Masih ingat dengan posting saya sebelum ini? Yang tentang MLM itu... Kalau lupa, klik aja lagi ya...
Nah, berhubung dengan itu, hati saya dibukakan Allah untuk melihat lebih jauh tentang kosmetik. Bukan hanya soal kehalalan sistemnya, tapi juga tentu kehalalan produknya. Sekarang, bukan hanya soal makanan saja saya rewel soal kehalalan, tapi semuanya. Termasuk kosmetik.
Ternyata ya, kosmetik juga sangat perlu sertifikasi halal, meskipun pada dasarnya, kosmetik tidak kita makan. Kenapa?
Nah, berhubung dengan itu, hati saya dibukakan Allah untuk melihat lebih jauh tentang kosmetik. Bukan hanya soal kehalalan sistemnya, tapi juga tentu kehalalan produknya. Sekarang, bukan hanya soal makanan saja saya rewel soal kehalalan, tapi semuanya. Termasuk kosmetik.
Ternyata ya, kosmetik juga sangat perlu sertifikasi halal, meskipun pada dasarnya, kosmetik tidak kita makan. Kenapa?
Coba kita perhatikan hadits Jabir tentang masalah lemak bangkai,
. فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ ، وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ ، وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ . فَقَالَ « لاَ ، هُوَ حَرَامٌ »
Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu mengenai jual beli lemak bangkai, mengingat lemak bangkai itu dipakai untuk menambal perahu, meminyaki kulit, dan dijadikan minyak untuk penerangan?” Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh! Jual beli lemak bangkai itu haram.” (HR. Bukhari no. 2236 dan Muslim, no. 4132).
Nah, buat menambal perahu saja tidak boleh memakai yang zatnya haram, apalagi dipakai kulit kan? Sekali lagi ya, yang zat-nya haram, seperti bangkai. Ada juga soalnya barang yang haram, tapi haram secara maknawi (perbuatannya) bukan zatnya. Ini seperti alkohol.
Makanya, tidak semua yang mengandung zat haram tidak boleh dipakai kosmetik. (Ini pendapat saya ya, hasil dengar dari beberapa ustadz nih). Boleh juga dilihat di https://www.rumahzakat.org/hukum-menggunakan-kosmetik-beralkohol/
Lalu bagaimana menentukan kosmetik yang saya gunakan halal atau haram? Weew... ternyata saya jadi bingung juga. Masalahnya, 'ingredients' yang tertera bahasa kimia semuanya. Bukannya jadi faham malah jadi muter nih mata. Haha...
Gampangnya, saya ambil yang sudah pasti-pasti saja deh! Apa tuh? Yang sudah jelas ada halal MUI-nya. Mereka sudah ahli dan menentukan suatu prosuk itu halal atau haram. Nah, hasilnya, ditemukanlah dua kelompok kosmetik di rumah saya.
1. Tanpa label halal MUI.
Whoaaa.... buanyaknya... (sambil dua tangan pegang pipi dan mata melotot karena syok). Saya juga kaget, ternyata saya sehobi itu ya dandan? Masa maskara aja sampe 3 batang? Terus body krim tiga toples (alakh, berasa kue pake toples segala), lipstik 5, kutex 3 (yang 1 enggak kefoto, lagi jalan-jalan kali tuh kutex), krim wajah (1,5 set), shadow 2 set, pallete (ini kosmetik favorit saya tadinya), terus entah apalagi... banyak banget dah!
Saya akan buang yang ini ya... kecuali parfum. Kok? Apa karena mahal, jadi parfume enggak dibuang? Hahay, ya enggak lah, tuh pallete kosmetik malah lebih mahal dari parfume saya mau buang juga. Alasannya, karena pada parfume, Saya baca ingredients-nya ternyata cuma alkohol, parfume, aqua. Dan saya juga pernah baca (lupa dimana), kalau yang bentuknya cair, kecil kemungkinan memakai lemak-lemakan, sebagaimana yang saya khawatirkan pada produk berbentuk padat dan krim.
Jadi kesimpulannya? Buang!
Sayang? Ah, kalau masalah hukum Allah mah enggak usah dibawa baper ya. Yakin aja, kita buang karena Allah, bakalan diganti sama Allah dengan yang lebih baik. Gitu aja kok repot. Hehe...
2. Yang pake label halal MUI
Reaksinya sama kayak waktu ngumpulin kosmetik non label halal, syok. Meski alasannya berbeda. Syok-karena, 'kok kosmetik halal-ku cuman segini ya? Cuman 1 tube pelembab, i bedak padat, dua lipstik, sudah.' Hiks... ya Allah... ampuni aku...
Ini jelas terselamatkan, tidak dieliminasi dan jadi juaranya! Dapat hadiah mobil dan uang ratusan juta! (Eh, kok jadi kayak kontes idol-idol-an, mentang-mentang ada kata elilminasi segala).
Kedepannya, cuma label halal yang akan temani hidup saya. Semoga pengorbanan saya jadi pahala dan Dia Ridhoi, dan semoga Allah terus tunjukkan pada saya kebenaran dengan terang, dan kesalahan dengan jelas. Amiin...
Selasa, 23 Februari 2016
MLM haram?
Wah, wah... MLM haram sepertinya kalimat yang tendensius ya? Apalagi untuk para pelaku bisnis MLM macam Oriflame, K-Link, HPAI, bla... bla... bla...
wadaw, saya juga anggota member nih, dan baru mau akan daftar baru sebagai member Oriflame karena hampir setahun kemarin tidak aktif. Niatnya sih bukan bisnisnya, tapi dagangnya, saya butuh produknya.
Tapi sebelum itu, ternyata saya dapati ceramah Ust. Khalid Basalamah yang mengatakan haram. Saya fikirkan, kemudian saya endapkan. Tak lama kemudian, saya dapat tulisan si linimasa facebook saya soal ini, dari Islamedia. saya jadi berpikir, jangan-jangan ini petunjuk Allah ya?
Yang saya lakukan selanjutnya adalah buka-buka dan baca-baca tentang berbagai pendapat yang bertebaran meriah di dunia maya. Hasilnya? inilah yang saya dapatkan...
" Praktik PLBS wajib memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1. Adanya obyek transaksi riil yang diperjualbelikan berupa barang atau produk jasa;
2. Barang atau produk jasa yang diperdagangkan bukan sesuatu yang diharamkan dan atau yang dipergunakan untuk sesuatu yang haram;
3. Transaksi dalam perdagangan tersebut tidak mengandung unsur gharar, maysir, riba, dharar, dzulm, maksiat;
4. Tidak ada kenaikan harga/biaya yang berlebihan (excessive mark-up), sehingga merugikan konsumen karena tidak sepadan dengan kualitas/manfaat yang diperoleh; 75 Pedoman Penjualan Langsung Berjenjang Syariah (PLBS) 7 Dewan Syariah Nasional MUI
5. Komisi yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota baik besaran maupun bentuknya harus berdasarkan pada prestasi kerja nyata yang terkait langsung dengan volume atau nilai hasil penjualan barang atau produk jasa, dan harus menjadi pendapatan utama mitra usaha dalam PLBS;
6. Bonus yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota (mitra usaha) harus jelas jumlahnya ketika dilakukan transaksi (akad) sesuai dengan target penjualan barang dan atau produk jasa yang ditetapkan oleh perusahaan;
7. Tidak boleh ada komisi atau bonus secara pasif yang diperoleh secara reguler tanpa melakukan pembinaan dan atau penjualan barang dan atau jasa;
8. Pemberian komisi atau bonus oleh perusahaan kepada anggota (mitra usaha) tidak menimbulkan ighra’.
9. Tidak ada eksploitasi dan ketidakadilan dalam pembagian bonus antara anggota pertama dengan anggota berikutnya;
10. Sistem perekrutan keanggotaan, bentuk penghargaan dan acara seremonial yang dilakukan tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan aqidah, syariah dan akhlak mulia, seperti syirik, kultus, maksiat dan lainlain;
11. Setiap mitra usaha yang melakukan perekrutan keanggotaan berkewajiban melakukan pembinaan dan pengawasan kepada anggota yang direkrutnya tersebut; 12.Tidak melakukan kegiatan money game
Saya tak mau berargumen, tak mau berpendapat untuk menghakimi para pelaku member MLM. Tetapi pedoman di atas telah cukup memberikan penerangan bagi saya.
Saya mengambil kesimpulan untuk diri saya sendiri, bahwa saya akan mundur dari beberapa MLM, urung mendafta ke salah satu MLM, dan hanya mempertahankan satu MLM yang menurut pendapat saya dikategorikan halal.
Anda? Bijaklah.
Saya hanya ingin mengingatkan, jual beli yang dihalalkan masih banyak. Meninggalkan yang haram, akan Allah bukakan banyak rizki dari pintu yang halal. Kesampingkan egosentris, dan kedepankan Allah-sentris. Segalanya dari 'sudut pandang' Allah saja, Yang Maha Tahu segala yang terbaik buat kita.
Wallahhu a'lam bishawwab.
wadaw, saya juga anggota member nih, dan baru mau akan daftar baru sebagai member Oriflame karena hampir setahun kemarin tidak aktif. Niatnya sih bukan bisnisnya, tapi dagangnya, saya butuh produknya.
Tapi sebelum itu, ternyata saya dapati ceramah Ust. Khalid Basalamah yang mengatakan haram. Saya fikirkan, kemudian saya endapkan. Tak lama kemudian, saya dapat tulisan si linimasa facebook saya soal ini, dari Islamedia. saya jadi berpikir, jangan-jangan ini petunjuk Allah ya?
Yang saya lakukan selanjutnya adalah buka-buka dan baca-baca tentang berbagai pendapat yang bertebaran meriah di dunia maya. Hasilnya? inilah yang saya dapatkan...
" Praktik PLBS wajib memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1. Adanya obyek transaksi riil yang diperjualbelikan berupa barang atau produk jasa;
2. Barang atau produk jasa yang diperdagangkan bukan sesuatu yang diharamkan dan atau yang dipergunakan untuk sesuatu yang haram;
3. Transaksi dalam perdagangan tersebut tidak mengandung unsur gharar, maysir, riba, dharar, dzulm, maksiat;
4. Tidak ada kenaikan harga/biaya yang berlebihan (excessive mark-up), sehingga merugikan konsumen karena tidak sepadan dengan kualitas/manfaat yang diperoleh; 75 Pedoman Penjualan Langsung Berjenjang Syariah (PLBS) 7 Dewan Syariah Nasional MUI
5. Komisi yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota baik besaran maupun bentuknya harus berdasarkan pada prestasi kerja nyata yang terkait langsung dengan volume atau nilai hasil penjualan barang atau produk jasa, dan harus menjadi pendapatan utama mitra usaha dalam PLBS;
6. Bonus yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota (mitra usaha) harus jelas jumlahnya ketika dilakukan transaksi (akad) sesuai dengan target penjualan barang dan atau produk jasa yang ditetapkan oleh perusahaan;
7. Tidak boleh ada komisi atau bonus secara pasif yang diperoleh secara reguler tanpa melakukan pembinaan dan atau penjualan barang dan atau jasa;
8. Pemberian komisi atau bonus oleh perusahaan kepada anggota (mitra usaha) tidak menimbulkan ighra’.
9. Tidak ada eksploitasi dan ketidakadilan dalam pembagian bonus antara anggota pertama dengan anggota berikutnya;
10. Sistem perekrutan keanggotaan, bentuk penghargaan dan acara seremonial yang dilakukan tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan aqidah, syariah dan akhlak mulia, seperti syirik, kultus, maksiat dan lainlain;
11. Setiap mitra usaha yang melakukan perekrutan keanggotaan berkewajiban melakukan pembinaan dan pengawasan kepada anggota yang direkrutnya tersebut; 12.Tidak melakukan kegiatan money game
Saya tak mau berargumen, tak mau berpendapat untuk menghakimi para pelaku member MLM. Tetapi pedoman di atas telah cukup memberikan penerangan bagi saya.
Saya mengambil kesimpulan untuk diri saya sendiri, bahwa saya akan mundur dari beberapa MLM, urung mendafta ke salah satu MLM, dan hanya mempertahankan satu MLM yang menurut pendapat saya dikategorikan halal.
Anda? Bijaklah.
Saya hanya ingin mengingatkan, jual beli yang dihalalkan masih banyak. Meninggalkan yang haram, akan Allah bukakan banyak rizki dari pintu yang halal. Kesampingkan egosentris, dan kedepankan Allah-sentris. Segalanya dari 'sudut pandang' Allah saja, Yang Maha Tahu segala yang terbaik buat kita.
Wallahhu a'lam bishawwab.
Jumat, 19 Februari 2016
Ber'ayah' ada ber'ayah' tiada, ber'ibu' ada ber'ibu' tiada
Kalimat ini sering sekali saya dengar dari seorang psikolog bernama Elly Risman. Psikolog, yang sering sekali saya dengar ceramahnya. Tapi akhir-akhir ini, kalimat akrab itu mengusik saya lebih keras dari biasanya, seolah kalimat itulah penyebab segala permasalahan yang menggelayut memberati bangsa ini.
Benarkah kesimpulan saya? Entahlah, saya harus berpikir panjang dan jernih untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi pada tahap awal, kalimat itu membuat mata saya lebih peka daripada biasanya.
Saya jadi semakin memperhatikan wajah, terutama bola mata mereka, anak-anak yang ditinggalkan kedua orang tuanya pergi bekerja. Wajah mungil dan bola mata bening dari anak saudara saya, anak dari kakak saya, anak dari tetangga terdekat saya, anak dari teman-teman saya. Entah memang memang kenyataannya, atau hanya oerasaan saya saja tapi saya merasakan perbedaan mereka dari anak yang punya 'mother full time'.
Saya merasakan perbedaan jelas itu pada sorot mata mereka. Pada anak yang punya ibu penuh waktu, ada mata ceria, lincah dan bahagia. Bahagia yang penuh dan menyeluruh. Tapi pada mata mereka, anak tanpa orang tua itu terutama ibu, saya melihat cahaya yang redup. Apa saya saja yang terlalu melankolis? Terlalu memdramatisir? Terlalu 'baper'?
Saya tak tahu. Tapi pemandangan itu membuat saya tetiba merasa iba pada mereka. Pada anak yang ditinggal ibu dan ayah bekerja, pada ayah yang punya waktu sempit bertemu anak dan istrinya, tapi yang lebih lagi, saya kasihan pada ibunya. Kenapa?
Saya seorang ibu sepenuh waktu. Saya memilih berhenti bekerja setelah saya menikah. Dari sejak gadis, saya sudah berpikir menjadi pendidik pertama bagi anak-anak saya, karena itu sejak saya menikah, saya mempersiapkan diri saya untuk menjadi ibu sebenarnya bagi anak-anak. Saat mengandung, saya mengajak janin saya bicara, mebgajaknya mengobrol, membacakan segala hal padanya, memperdengarkan murotal, dan meminta abi-nya janin meniru apa yang saya lakukan.
Saat lahir, saya tak melakukan apapun selain mengasuh anak. Saya menjadikan mereka yang pertama mendapat perhatian dan mengesampingkan pekerjaan rumah yang menumpuk. Saya bahagiakan diri saya dengan membahagiakan mereka. Hasilnya, bukan hanya anak saya yang bahagia, tapi terutama kami, orang tuanya.
Saya selalu merasa bahagia melihat anak saya menatap mata saya saat menyusu, memainkan hidung dan bibir saya, menunggangi punggung kami, bahkan saya bahagia saat mereka menarik rambuyt saya sampai rontok!
Aneh? Tidak. Anda yang seorang ibu, pasti tahu bagaimana kebahagiaan yang sara rasakan.
Tapi jika anda hanya ibu paruh waktu, apalagi menyerahkan susuan anak anda pada botol susu, dan menyewakan pengasuh, saya tak yakin anda merasakan kebahagiaan besar seperti yang kami, para ibu penuh waktu rasakan.
Dan cukup pada alasan saja, saya merasa kasihan pada anda…
Benarkah kesimpulan saya? Entahlah, saya harus berpikir panjang dan jernih untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi pada tahap awal, kalimat itu membuat mata saya lebih peka daripada biasanya.
Saya jadi semakin memperhatikan wajah, terutama bola mata mereka, anak-anak yang ditinggalkan kedua orang tuanya pergi bekerja. Wajah mungil dan bola mata bening dari anak saudara saya, anak dari kakak saya, anak dari tetangga terdekat saya, anak dari teman-teman saya. Entah memang memang kenyataannya, atau hanya oerasaan saya saja tapi saya merasakan perbedaan mereka dari anak yang punya 'mother full time'.
Saya merasakan perbedaan jelas itu pada sorot mata mereka. Pada anak yang punya ibu penuh waktu, ada mata ceria, lincah dan bahagia. Bahagia yang penuh dan menyeluruh. Tapi pada mata mereka, anak tanpa orang tua itu terutama ibu, saya melihat cahaya yang redup. Apa saya saja yang terlalu melankolis? Terlalu memdramatisir? Terlalu 'baper'?
Saya tak tahu. Tapi pemandangan itu membuat saya tetiba merasa iba pada mereka. Pada anak yang ditinggal ibu dan ayah bekerja, pada ayah yang punya waktu sempit bertemu anak dan istrinya, tapi yang lebih lagi, saya kasihan pada ibunya. Kenapa?
Saya seorang ibu sepenuh waktu. Saya memilih berhenti bekerja setelah saya menikah. Dari sejak gadis, saya sudah berpikir menjadi pendidik pertama bagi anak-anak saya, karena itu sejak saya menikah, saya mempersiapkan diri saya untuk menjadi ibu sebenarnya bagi anak-anak. Saat mengandung, saya mengajak janin saya bicara, mebgajaknya mengobrol, membacakan segala hal padanya, memperdengarkan murotal, dan meminta abi-nya janin meniru apa yang saya lakukan.
Saat lahir, saya tak melakukan apapun selain mengasuh anak. Saya menjadikan mereka yang pertama mendapat perhatian dan mengesampingkan pekerjaan rumah yang menumpuk. Saya bahagiakan diri saya dengan membahagiakan mereka. Hasilnya, bukan hanya anak saya yang bahagia, tapi terutama kami, orang tuanya.
Saya selalu merasa bahagia melihat anak saya menatap mata saya saat menyusu, memainkan hidung dan bibir saya, menunggangi punggung kami, bahkan saya bahagia saat mereka menarik rambuyt saya sampai rontok!
Aneh? Tidak. Anda yang seorang ibu, pasti tahu bagaimana kebahagiaan yang sara rasakan.
Tapi jika anda hanya ibu paruh waktu, apalagi menyerahkan susuan anak anda pada botol susu, dan menyewakan pengasuh, saya tak yakin anda merasakan kebahagiaan besar seperti yang kami, para ibu penuh waktu rasakan.
Dan cukup pada alasan saja, saya merasa kasihan pada anda…
Selasa, 09 Februari 2016
Jangan Putus Asa
Dunia sudah sampai pada puncak usianya. Sudah tua, sudah terlalu banyak masalah.
Bakal berderet daftar panjang segala berita negatifnya jika kita mau rajin membuat list-nya. Mulai dari masalah negeri sendiri yang membuat badai di kepala sendiri, hingga peristiwa jauh di negeri yang tak pernah dipijak yang bikin miris dan menangis.
Sebagai contoh saja, wall FB saya sedang ramai dengan berita penganut LGBT yang maik berani, lalu dibawahnya ada status protes tokoh bangsa pada kebijakan dagang pemerintah kita yang aneh, dan jangan lupakan tentang ngerinya dunia anak dan remaja kita tentang freesex (ingat ya, bentar lagi 14 Februari). Peristiwa luar negerinya, masih bertahan di Suriah dan Palestina yang jadi topik utama pada mata saya, topik yang mungkin hanya berakhir saat akhir zaman benar-benar telah bertamu di pintu gerbang.
Segalanya telah riuh memuncak di benak saya. Membuat kening saya berkerut dan lupa terurai. Membuat uban saya tumbuh dan bikin gatal kepala. Membuat mata berair padahal hati telah kebal paripurna.
Pada situasi ini, saya ingat ucapan seorang ustadz yang mungkin tengah kesal dengan perilaku penghuni dunia, "Saya akan minta Allah hancurkan dunia ini, agar lekas Ia ganti dengan ummat yang lebih baik!"
Tapi selesaikah segala kepusingan dengan aral melintang pikiran? Tidak. Anda tahu itu jawabnnya. Tidak selesai.
Lantas? Berbuat. Itu pastinya. Meski setetes yang tak mungkin padamkan kobaran, toh itu akan melepaskan kita dari tanggung jawab tanya tentang 'amar makruf nahyi munkar', sejauh mana kita telah terlibat didalamnya. Berbuat, bukan untuk menengok hasil, apalagi ditambah dengan tergesa-gesa yang segera saja bikin kita putus asa. Bergerak, adalah untuk menambah pundi-pundi amal kita. Mengingatkan, adalah untuk menabung pahala. Sementara hasil, adalah haknya Allah ta'ala. Dia mau padamkan kobarannya, atau tambah baranya, adalah murni kehendak Dia. Dengan atau tanpa tetesan air dari kita.
Tak ada kolerasi antara gerak dan perubahan. Tak ada sambungan antara berbuat dengan hasil yang didapat. Tak ada. Sama sekali.
Nah, kalau tujuannya sudah benar serupa itu, maka apapun keadaan dunia tak akan membuat kita merasa tak berarti. Tak akan membuat jiwa kita panik juga. Lalu setelah itu, tak akan ada putus asa.
Wala tai'asu... Dan janganlah berputus asa…, sebab segalanya tergantung pada Dia...
Bakal berderet daftar panjang segala berita negatifnya jika kita mau rajin membuat list-nya. Mulai dari masalah negeri sendiri yang membuat badai di kepala sendiri, hingga peristiwa jauh di negeri yang tak pernah dipijak yang bikin miris dan menangis.
Sebagai contoh saja, wall FB saya sedang ramai dengan berita penganut LGBT yang maik berani, lalu dibawahnya ada status protes tokoh bangsa pada kebijakan dagang pemerintah kita yang aneh, dan jangan lupakan tentang ngerinya dunia anak dan remaja kita tentang freesex (ingat ya, bentar lagi 14 Februari). Peristiwa luar negerinya, masih bertahan di Suriah dan Palestina yang jadi topik utama pada mata saya, topik yang mungkin hanya berakhir saat akhir zaman benar-benar telah bertamu di pintu gerbang.
Segalanya telah riuh memuncak di benak saya. Membuat kening saya berkerut dan lupa terurai. Membuat uban saya tumbuh dan bikin gatal kepala. Membuat mata berair padahal hati telah kebal paripurna.
Pada situasi ini, saya ingat ucapan seorang ustadz yang mungkin tengah kesal dengan perilaku penghuni dunia, "Saya akan minta Allah hancurkan dunia ini, agar lekas Ia ganti dengan ummat yang lebih baik!"
Tapi selesaikah segala kepusingan dengan aral melintang pikiran? Tidak. Anda tahu itu jawabnnya. Tidak selesai.
Lantas? Berbuat. Itu pastinya. Meski setetes yang tak mungkin padamkan kobaran, toh itu akan melepaskan kita dari tanggung jawab tanya tentang 'amar makruf nahyi munkar', sejauh mana kita telah terlibat didalamnya. Berbuat, bukan untuk menengok hasil, apalagi ditambah dengan tergesa-gesa yang segera saja bikin kita putus asa. Bergerak, adalah untuk menambah pundi-pundi amal kita. Mengingatkan, adalah untuk menabung pahala. Sementara hasil, adalah haknya Allah ta'ala. Dia mau padamkan kobarannya, atau tambah baranya, adalah murni kehendak Dia. Dengan atau tanpa tetesan air dari kita.
Tak ada kolerasi antara gerak dan perubahan. Tak ada sambungan antara berbuat dengan hasil yang didapat. Tak ada. Sama sekali.
Nah, kalau tujuannya sudah benar serupa itu, maka apapun keadaan dunia tak akan membuat kita merasa tak berarti. Tak akan membuat jiwa kita panik juga. Lalu setelah itu, tak akan ada putus asa.
Wala tai'asu... Dan janganlah berputus asa…, sebab segalanya tergantung pada Dia...
Sabtu, 06 Februari 2016
Buku Terlarang di Arena BBF 2016
Ada bulu kuduk meremang ketika saya menemukan buku ini diantara buku-buku yang dijual di arena Bandung Book Fair. Buku ini terpajang sombong tanpa malu-malu dideretan buku-buku yang dijuduli 'buku dari bapak bangsa', persisnya saya lupa, tapi setema itulah. Buku ini saya temukan ketika mata saya begitu berbinar karena menemukan tulisan-tulisan lama karya HOS. Tjokroaminoto, M. Natsir, juga Soekarno. Tapi semangat saya yang meluap langsung kempis seperti kerupuk tersiram air panas begitu melihat buku ini ada di deretan buku mereka.
Antara marah dan ngeri, saya menghampiri penjaga stand, dan sediki mengancamnya untuk menarik buku itu kedalam. Setelah ada jawaban 'iya' berkali-kali darinya, saya dan suami pun kembali berkeliling. Melihat-lihat stand lain, rupanya sudah kehilangan nikmat. Ingatan saya selalu kembali pada buku-buku ini.
Kaki saya lemas, tangan saya bergetar, dan kepala saya mendidih. Oh ya, saya tak bisa puas hanya dengan mengongatkan penajga toko yang mengaku tak tahu apa-apa. Saya dan suami sepakat menuju meja panitia, yang akhirnya mempertemukan kami dengan penanggungjawab acara. Beliau yang memperkenalkan diri dengan nama 'Agus' menyambut kami ramah dan berjanji akan melihat lokasi. Meski tak menjanjikan akan menarik buku tersebut. Tapi toh, saya sudah mengingatkan mereka. Kewajiban saya sudah tunai. Di mata Allah, tanggung jawab saya telah selesai…
Tapi… selesaikah pikiran saya hingga batas itu? Tidak. Buku itu, mengusik sisi terdalam dalam benak saya, menimbulkan ribuan pertanyaan yang entah pada siapa harus saya lontarkan.
1. Tidakkah orang lain yang melihat buku itu sama merinding dan takutnya pada pemikiran atheis yang dibawa buku itu? Mengingat, dari beberapa orang, sepertinya hanya saya yang gelisah di stand itu pada waktu itu? Atau adakah yang juga gelisah dan dama protes seperti saya, namin saya tak tahu? Saya berharap demikian. Sungguh saya berharap demikian...
2. Dari sekian lama pengembaraan saya di toko buku, di arena pameran buku, rasanya baru kali ini saya menemukan buku terlarang itu tertangkap pandangan saya. Baru kali ini saya lihat buku itu nyaman saja terpajang. Apakah larangan organisasi haram PKI telah dicabut tanpa saya tahu informasinya? Ataukah telah terjadi kelonggaran massal entah karena apa? Sebagaimana longgar dan bebasnya para penganut syiah dan liberal berjalan di bumi Indonesia sekarang ini?
3. Apakah siswa siswi sekarang ini, pelajar, remaja, tak lagi mendapatkan doktris keras tentang betapa bahayanya organisasi ini, sebagaimana dulu saya mendapatkannya semasa sekolah?
4. Apakah era sekarang telah begitu longgarnya pada pemikiran-pemikiran mereka?
5. Apakah...?
6. Apakah…
7. Oh, Allah…
Selasa, 02 Februari 2016
Ust. Khalid Basalamah
Punya keasyikan baru sejak beberapa hari ini. Mendengarkan ceramah Ust. Dr. Khalid Zeed Abdullah Basalamah, Lc. Pertama kali mendengar/menonton ceramah beliau setahun lalu saat Ramadhan, kemarin-kemarin kembali tertarik setelah mendapati kajian Sirah Nabawiyyah yang ternyata telah sampai di bulan 29. Wah, ketinggalan banyak nih…
Kajiannya panjang…, dalam, lugas, dan seru! Ruhnya juga penuh. Mendengarkan paparan beliau sambil memejamkan mata, seolah saya diterbangkan pada situasi masa itu. Bersama para shahabat mengepung benteng bani QuraidzahQuraidzah, bersama menggali parit, juga tetiba menjadi waktu yang menyaksikan percakapan 'gila' kaum Yahudi yang bandel.
Kalau ada waktu, saya ingin menampilkan seluruh ceramah beliau dalam blog saya. Tapi tentu, saya harus minta izin pada beliau sebelum melakukannya. In sha Allah beliau mengizinkan. Doakan saja saya punya banyak waktu ya… Dan, doakan juga, moga dalam waktu yang tak lama saya sudah dikaruniai rezki berupa pc, biar lebih mudah klik ini itu… hehe…
Baiklah… saatnya menonton beliau lagi…
Semoga Allah merahmati anda Ustadz...
Apalah…
Kesibukan kadang menenggelamkan. Membuat kita lupa pada hakikat diri kita, tergilas rutinitas yang menyita waktu, menghabiskan usia. Lupalah jadinya dengan segala tujuan, tergoda remah-remah remeh yang membuat jiwa kita berserak. Tak teratur, tak berususun, berantakan, kalang kabut bak terlindas angin ribut. Kacaulah sudah jiwa kita. Tak berbentuk. Bingun sudah di ujung. Terduduk, lelah terkejut. Apa sudah kuta buat? Mengapa jadi seperti ini?
Rabu, 09 Desember 2015
Minggu, 06 Desember 2015
Pelatihan PKP Hari Kedua
Hari kedua pelatihan. Sambil nunggu sarapan yang belum siap, foto dulu dikamar deh...
Karena waktu masih panjang (Beuh! PKP mah rarajin pisan atuda), nih para tetangga kamar pada berkunjung, lalu karena lihat kami teman sekamar pada cantik-cantik sudah di make over sama ceu Lina si member Oriflame, jadinya pada ngekor buat di make over juga. Haha! Nah, jadi gareulis nyak? Natural sih, kan kita mah anggun gituh...
Anggun? Mh... diragukan sih kalau lihat foto yang bawah...
Lewat lorong cantik dengan juntai-juntai akar yang romantis. Tertarik untuk mengabadikan jejak...
Sabtu, 05 Desember 2015
Pelatihan PKP, 1 Desember
Pelatihan PKP di Lembang nih!
Hari pertama, berangkat dari rumah nyubuh pisan, tetep we datang kelokasi pas-pasan, nggak sempat 'ngarenghap', langsung berangkat pake mobil rombongan.
Nyatanya, sudah tituturubun gitu, acara belum dimulai, sarapan pun tak disediakan. heuheu...
Akhirnya dengan perut keorncongan, kita menghibur diri dengan foto-foto.
Meskipun lapar, emak-amak tetap nggak ketinggalan rempongnya! Haha...
Sesudah acara dibuka, langsung diisi dengan materi berat dari Ibu Gubernur. Kata siapapun juga (yang saya kenal tentu saja), beliau tuh kalau kasih materi selalu asyik. Tematis, simple, kena, dan seru! Jadi meski lapar (padahal udah dapat snack juga), nih mata bisa bertahan buat molotot! Materi berat juga bisa ditampung mudah di otak, meski memang sih belum teruji keabsahan dari pernyataan ini. hehe...
Sudah itu, yah... bukan pelatihan namanya kalau nggak foto-foto. klik, klik, klik...
Jabar, Kahiji!
Emang ya, pelatihan kita mah kagak main-main! Hari pertama yang berlangsung dari jam 10 pagi, ternyata harus berakhir jam 10 malam! Sumpeh! Abis itu, baru bisa makan malam... hiks hiks...
Tapi karena si saya emang cerewet, kebagian ngomong, dapatlah door prize. Lumayan ya!
Kamis, 26 November 2015
Pengorbanan
Melihat si cikal pulang setelah mondok 2 bulan lebih, ada yang mengiris hati. Dia kurus, berat badannya hampir menghilang 10kg. Saya menahan diri untuk mengelus dada, menahan diri untuk mengatakannya kurus, menahan diri untuk memeluk sambil menangis.
Saya sambut dia dengan rentangan tangan selebar-lebarnya, dan berkali-kali menyebut dia bertambah ganteng. Satu hal yang pertama terlintas adalah, saya, bagaimana pun keadaannya, saya tertap harus membesarkan dia, juga mungkin… membesarkan diri saya sendiri. Oh… ayolah, cuma kehilangan berat badan!
Setelah bicara, terungkitlah, bahwa penyebabnya bukan karena jatah makannya yang dibatas, bukan juga karena dia tak betah (Alhamdulillaah, hal yang saya takutkan tak terjadi). Masalahnya hanyalah, dia jadi tidak ngemil, karena memang tak ada sesuatu untuk dijadikan cemilan. Padahal biasanya, si cikal ngemil nasi atau mie instan dua bungkus. Haha!
Saya kira… ini hanya soal pendisiplinan saja. Dan saya sangan mendukung hal itu. Saya pikir… pengendalian pertama, pendisiplinan pertama, adalah dari perut. Seseorang yang sudah mudahmengendalikan nafsu perutnya, maka dia akan mudah mengendalikan nafsu yang lainnya.
Sekarang, setelah si cikal kembali ke pesantren beberapa minggu lalu, seliweran itu masih saja terdengar. Teman bilang saya terlalu tega kalau membiarkan, ada yang usul juga, saya harus mengambil anak saya dari pesantren tersebut karena kwalitas gizi yang buruk, padahal anak asuh sedang dalam masa pertumbuhan, dan… entah apalagi.
Saya? Seperti biasa, tak terllau peduli. Saya mendapat rekomendasi pesantren yang bersangkutan, langsung dari Allah. Saat kami hampir dipuncak lelah, dengan waktu semakin terdesak, kami minta petunjuk pada-Nya. Dan kontan, Allah menjawabnya. Jadi,dengan berbagai pertimbangan, kemantapan hati kami (saya dan suami) tak akan luntur hanya karena anak saya jadi kurus. Bayarannya sangat tak sebanding, jika mimpi besar saya, harus saya buang hanya karena kasihan tabungan berat badan anak saya hilang perlahan. Terlalu konyol.
Saya tak kasihan? Kemana hati saya sebagai ibu? Sebagai seorang ibu, hati saya lebih miris daripada siapa pun. Tentu saja. Tapi sekali lagi, mimpi saya terlalu besar jika harus ditukar perasaan saya yang terlalu remeh. Yah, anggap saja ini pengorbanan yang harus kami bayar untuk kemenangan besar (fauzan 'adzim) dimasa datang.
Pada akhirnya, saya titipkan dia pada Yang Memiliki dia, saya serahkan penjagaannya pada Yang Tak Pernah Tidur, saya wakafkan dia untuk Allah. Mempersiapkan dia, menjadi panglima penting dalam pemerintahan Imam Mahdi kelak. Maka Allah, terimalah…
Saya sambut dia dengan rentangan tangan selebar-lebarnya, dan berkali-kali menyebut dia bertambah ganteng. Satu hal yang pertama terlintas adalah, saya, bagaimana pun keadaannya, saya tertap harus membesarkan dia, juga mungkin… membesarkan diri saya sendiri. Oh… ayolah, cuma kehilangan berat badan!
Setelah bicara, terungkitlah, bahwa penyebabnya bukan karena jatah makannya yang dibatas, bukan juga karena dia tak betah (Alhamdulillaah, hal yang saya takutkan tak terjadi). Masalahnya hanyalah, dia jadi tidak ngemil, karena memang tak ada sesuatu untuk dijadikan cemilan. Padahal biasanya, si cikal ngemil nasi atau mie instan dua bungkus. Haha!
Saya kira… ini hanya soal pendisiplinan saja. Dan saya sangan mendukung hal itu. Saya pikir… pengendalian pertama, pendisiplinan pertama, adalah dari perut. Seseorang yang sudah mudahmengendalikan nafsu perutnya, maka dia akan mudah mengendalikan nafsu yang lainnya.
Sekarang, setelah si cikal kembali ke pesantren beberapa minggu lalu, seliweran itu masih saja terdengar. Teman bilang saya terlalu tega kalau membiarkan, ada yang usul juga, saya harus mengambil anak saya dari pesantren tersebut karena kwalitas gizi yang buruk, padahal anak asuh sedang dalam masa pertumbuhan, dan… entah apalagi.
Saya? Seperti biasa, tak terllau peduli. Saya mendapat rekomendasi pesantren yang bersangkutan, langsung dari Allah. Saat kami hampir dipuncak lelah, dengan waktu semakin terdesak, kami minta petunjuk pada-Nya. Dan kontan, Allah menjawabnya. Jadi,dengan berbagai pertimbangan, kemantapan hati kami (saya dan suami) tak akan luntur hanya karena anak saya jadi kurus. Bayarannya sangat tak sebanding, jika mimpi besar saya, harus saya buang hanya karena kasihan tabungan berat badan anak saya hilang perlahan. Terlalu konyol.
Saya tak kasihan? Kemana hati saya sebagai ibu? Sebagai seorang ibu, hati saya lebih miris daripada siapa pun. Tentu saja. Tapi sekali lagi, mimpi saya terlalu besar jika harus ditukar perasaan saya yang terlalu remeh. Yah, anggap saja ini pengorbanan yang harus kami bayar untuk kemenangan besar (fauzan 'adzim) dimasa datang.
Pada akhirnya, saya titipkan dia pada Yang Memiliki dia, saya serahkan penjagaannya pada Yang Tak Pernah Tidur, saya wakafkan dia untuk Allah. Mempersiapkan dia, menjadi panglima penting dalam pemerintahan Imam Mahdi kelak. Maka Allah, terimalah…
Mimpi Besar
Di antara keluarga, diantara teman-teman, di antara segala jaringan dalam komunitas, saya selalu menjadi seseorang yang berbeda. Mulai dari karakter, kebiasaan, sampai gaya saya yang berbeda.
Orang bilang, mata saya terlalu tajam kalau melihat, bibir saya terlalu ketus untuk bicara, dan tawa saya terlalu keras dan membahana. Haha… Selain dari itu, saya tak tahu pandangan orang lain, dan mungkin… saya tak perlu peduli. Saya… tak pernah merasa terganggu dengan pandangan orang, terlebih jika itu menyangkut prinsip.
Satu hal itu adalah tentang cara saya memandang pendidikan. Saya tak terlihat berbeda dengan orang-orang, sampai saya punya anak. Dari sejak mengandung, orang sudah tahu, saya berbeda.
Orang menganggap saya aneh karena saya membaca buku dengan suara nyaring, orang menganggap saya gila, karena mengajak janin saya bicara. Orang juga mengerutkan kening, ketika saya memberi anak saya buku sebagai mainan mereka.
Anak bertambah usia, saya semakin terlihat aneh. Saya mengenyahkan TV dari rumah, saya memilih menghabiskan jutaan untuk membeli ensiklopedi daripada membetulkan genteng rumah. Saya juga memilih sekolah yang agak mahal dan jauh, tapi juga tak terlalu peduli ketika nilai ulangan anak saya jelek.
Saya… lebih peduli tentang membangun minat daripada membangun hafalan anak. Saya juga lebih senang mereka menghabiskan uang jajan dengan mengeksplor kreatifitas lewat mainan sekali pakai, daripada makan jajanan. Saya juga tak terlalu ingin tahu berapa rangking kelas anak saya, karena bagi saya sekolah adalah membangun minat, bukan menilai anak.
Sekarang, orang juga memandang aneh pada saya, ketika saya memutuskan untuk menyekolahkan anak pada sebuah gubuk terpencil disisi kota. Bukan gedung mewah dengan lab lengkap dan makan siang menggiurkan selera.
Bagi saya sih simple saja, ini hanya tentang mimpi besar…
Orang bilang, mata saya terlalu tajam kalau melihat, bibir saya terlalu ketus untuk bicara, dan tawa saya terlalu keras dan membahana. Haha… Selain dari itu, saya tak tahu pandangan orang lain, dan mungkin… saya tak perlu peduli. Saya… tak pernah merasa terganggu dengan pandangan orang, terlebih jika itu menyangkut prinsip.
Satu hal itu adalah tentang cara saya memandang pendidikan. Saya tak terlihat berbeda dengan orang-orang, sampai saya punya anak. Dari sejak mengandung, orang sudah tahu, saya berbeda.
Orang menganggap saya aneh karena saya membaca buku dengan suara nyaring, orang menganggap saya gila, karena mengajak janin saya bicara. Orang juga mengerutkan kening, ketika saya memberi anak saya buku sebagai mainan mereka.
Anak bertambah usia, saya semakin terlihat aneh. Saya mengenyahkan TV dari rumah, saya memilih menghabiskan jutaan untuk membeli ensiklopedi daripada membetulkan genteng rumah. Saya juga memilih sekolah yang agak mahal dan jauh, tapi juga tak terlalu peduli ketika nilai ulangan anak saya jelek.
Saya… lebih peduli tentang membangun minat daripada membangun hafalan anak. Saya juga lebih senang mereka menghabiskan uang jajan dengan mengeksplor kreatifitas lewat mainan sekali pakai, daripada makan jajanan. Saya juga tak terlalu ingin tahu berapa rangking kelas anak saya, karena bagi saya sekolah adalah membangun minat, bukan menilai anak.
Sekarang, orang juga memandang aneh pada saya, ketika saya memutuskan untuk menyekolahkan anak pada sebuah gubuk terpencil disisi kota. Bukan gedung mewah dengan lab lengkap dan makan siang menggiurkan selera.
Bagi saya sih simple saja, ini hanya tentang mimpi besar…
Jumat, 20 November 2015
Kevin (Say No To LGBT!)
Kevin? Ah, jangan berkerut kening begitu… Kevin disini bukan orang terkenal macam Kevin Aprilio, Kevin Julio, atau Kevin-Kevin yang lain (lagian, mana saya kenal sama mereka). Kevin cuma nama tokoh dalam novel terbaru saya. Masih ingat kan? Saya sedang menulis Novel tentang LGBT yang bikin saya menahan mual.
Kevin adalah tokoh utamanya. Seorang cowok ganteng dengan latar belakang disakiti Ibu, tumbuh di lingkungan para lelaki yang tanpa sadar membuatnya mencintai lelaki lain.
Jujur saja, ada pergolakan dalam batin saya, banyak pergolakan, ketika kata demi kata saya tuliskan tentang dia. Ada keinginan kuat untuk berhenti dan mencerca, ada keinginan untuk membuat tokoh Kevin demikian menyebalkan hingga membuat semua orang yang membaca akan benci pada pelaku homoseks.
Tapi pada sisi lain, saya juga ingin menampakan sisi manusiawi seorang Kevin, seorang pelaku pengimpangan seksual. Saya ingin menyelami dirinya, membaca apa yang dia pikirkan, juga menerka apa yang dia rasakan.
Saya memilih opsi kedua. Saya kira, memahami sosok Kevin membuat kita bisa menyayangi mereka bukan dengan menghakimi, tetapi rasa sayang yang membuat kita menaruh kasihan, lantas mengulurkan tangan. Harapan yang saya sematkan pada tokoh perempuan, Vera.
Pilihan yang saya ambil cukup sulit, tapi juga tantangan yang memacu adrenalin. Saya banyak berhenti ketika menulis. Berpikir, bagaimana cara pelaku penyimpangan mencintai? Bagaimana mereka memandang cinta itu sendiri? Bagaimana juga mereka memandang diri mereka ssndiri yang berbeda dari lingkungan?
Selebihnya, pertanyaan menjadi lebih mendetail dan rumit. Kerumitan yang, jika saya tak punya tujuan besar untuk menulis, akan membuat saya jatuh putus asa dan memilih berhenti. Kerumitan itu diantaranya, bagaimana pelaku homoseks berbicara? Jujur, atau manipulatif? Bagaimana intonasinya? Bagaimana cara dia memandang sebuah masalah? Bagaimana cara dia memilih pakaian? Memilih warna? Berjalan? Makan? Minum kopi? Cara dia duduk? ETC.
Oh Tuhan… sepertinya saya menenggelamkan diri saya dalam kemuskilan tak berujung… haha…
Baiklah, akhirnya… simak saja nanti novelnya ya… in sya Allah, tak lebih dari sebulan akan saya selesaikan. Mohon doa, semoga Allah memberi saya kemudahan… aamiin…
Kevin adalah tokoh utamanya. Seorang cowok ganteng dengan latar belakang disakiti Ibu, tumbuh di lingkungan para lelaki yang tanpa sadar membuatnya mencintai lelaki lain.
Jujur saja, ada pergolakan dalam batin saya, banyak pergolakan, ketika kata demi kata saya tuliskan tentang dia. Ada keinginan kuat untuk berhenti dan mencerca, ada keinginan untuk membuat tokoh Kevin demikian menyebalkan hingga membuat semua orang yang membaca akan benci pada pelaku homoseks.
Tapi pada sisi lain, saya juga ingin menampakan sisi manusiawi seorang Kevin, seorang pelaku pengimpangan seksual. Saya ingin menyelami dirinya, membaca apa yang dia pikirkan, juga menerka apa yang dia rasakan.
Saya memilih opsi kedua. Saya kira, memahami sosok Kevin membuat kita bisa menyayangi mereka bukan dengan menghakimi, tetapi rasa sayang yang membuat kita menaruh kasihan, lantas mengulurkan tangan. Harapan yang saya sematkan pada tokoh perempuan, Vera.
Pilihan yang saya ambil cukup sulit, tapi juga tantangan yang memacu adrenalin. Saya banyak berhenti ketika menulis. Berpikir, bagaimana cara pelaku penyimpangan mencintai? Bagaimana mereka memandang cinta itu sendiri? Bagaimana juga mereka memandang diri mereka ssndiri yang berbeda dari lingkungan?
Selebihnya, pertanyaan menjadi lebih mendetail dan rumit. Kerumitan yang, jika saya tak punya tujuan besar untuk menulis, akan membuat saya jatuh putus asa dan memilih berhenti. Kerumitan itu diantaranya, bagaimana pelaku homoseks berbicara? Jujur, atau manipulatif? Bagaimana intonasinya? Bagaimana cara dia memandang sebuah masalah? Bagaimana cara dia memilih pakaian? Memilih warna? Berjalan? Makan? Minum kopi? Cara dia duduk? ETC.
Oh Tuhan… sepertinya saya menenggelamkan diri saya dalam kemuskilan tak berujung… haha…
Baiklah, akhirnya… simak saja nanti novelnya ya… in sya Allah, tak lebih dari sebulan akan saya selesaikan. Mohon doa, semoga Allah memberi saya kemudahan… aamiin…
Minggu, 15 November 2015
Jeda
Selesai lagi sebuah novel sekuel. Lega, senang, happy, luar biasa, amazing, wow!
Tapi setiap menuliskan kata 'selesai' pada ujung novel, pikiran saya kadang selalu tertahan disana. Butuh waktu sehari dua hari untuk kembali move on.
Pikiran saya masih terpenjara pada cerita yang baru saya selesaikan. Kenapa ya?
Sekarang, saat jeda, saya sedang mengumpulkan bahan dan tema untuk tulisan baru saya. Kali ini tentang seorang homosexual. Lumayan menantang, tapi sekaligus bikin saya ngeri.
Hhhh... Bismillaah...
Tapi setiap menuliskan kata 'selesai' pada ujung novel, pikiran saya kadang selalu tertahan disana. Butuh waktu sehari dua hari untuk kembali move on.
Pikiran saya masih terpenjara pada cerita yang baru saya selesaikan. Kenapa ya?
Sekarang, saat jeda, saya sedang mengumpulkan bahan dan tema untuk tulisan baru saya. Kali ini tentang seorang homosexual. Lumayan menantang, tapi sekaligus bikin saya ngeri.
Hhhh... Bismillaah...
Selasa, 20 Oktober 2015
Nulis Lagi, Nulis Terus!
Ini tentang ide yang tak berhenti mengalir. Ceritanya berawal dari keputusan besar itu. Keputusan untuk mengundurkan diri dari dunia perdagangan, dunia ngisi pelatiha, dunia bikin pesanan makanan, dan lain lagi banyaknya. Hehe...
Dunia saya sekarang penuh dengan huruf-hurur tulisan orang yang saya baca, dan barisan huruf yang saya tulis. Hasilnya? Saya sudah menyelesaikan 3 novel dengan masing-masing 250 halaman. Novel terakhir, saya selesaikan dalam satu bulan! Bagi saya sih, ini prestasi besar!
Hasil lain setelah saya fokus adalah, saya mendapatkan kesenangan itu. Kesenangan seperti… apa ya, terisinya kekosongan. Ya, saya merasa jiwa saya penuh. Saya merasa bermanfaat, juga merasa hidup. Karena rasa seperti itu, membuat saya merasakan juga bagaimana saya bisa lupa waktu, lupa makan, lupa duduk saat berdiri, lupa berdiri saat duduk, ketika saya menulis. (Saya menulis di tablet soalnya, jadi bisa sambil berdiri... Hehe)
Saya tak peduli naskah saya ditolak, saya tak ambil pusing juga kalau blog saya nggak (belum) ada yang lirik, saya cuma mau menulis. Bukan berarti saya nggak senang juga kalau ada yang nerbitin ya, tapi yang pasti tak membuat saya berhenti menulis.
Tapi rupanya, hal itu mengundang masalah baru...
Sudah dua hari saya lupa nyuci baju, lupa masak, lupa beres-beres. Haha... Untungnya, suami nggak protes, asal jangan lebih dari 3 hari aja kali ya!
Masalah yang kedua adalah, ide yang banyak dan semakin banyak! Saat saya selesai nulis satu bab, muncul ide baru untuk satu novel. Nulis lagi dua bab, dua ide yang lahir. Nulis satu Novel, muncul ide buat bikin buku satu perpus! Saya jadi merasa tangan saya kurang banyak! Waktu saya kurang lama, dan tenaga saya kurang kuat. Hadeuh...
Yah, begitulah...
Tapi, kedua masalah itu bagi saya tetap menyenangkan. Itu karunia Allah kan. Pada masalah pertama, karunianya, saya punya suami pengertian banget... Bahkan kalau dia lihat saya lagi asyik nulis, dia bikinkan kopi panas, kadang juga dia bantu cuci piring. Hebat kan suami saya? Alhamdulillaah...
Pada masalah kedua, karunia nya adalah, saya semakin rajin nulis dan nulis lagi! Ide beruntun itu adalah amanah, jadi harus saya saya syukuri dengan menjalankan amanah-Nya lebih baik lagi. Betul kan?
Dunia saya sekarang penuh dengan huruf-hurur tulisan orang yang saya baca, dan barisan huruf yang saya tulis. Hasilnya? Saya sudah menyelesaikan 3 novel dengan masing-masing 250 halaman. Novel terakhir, saya selesaikan dalam satu bulan! Bagi saya sih, ini prestasi besar!
Hasil lain setelah saya fokus adalah, saya mendapatkan kesenangan itu. Kesenangan seperti… apa ya, terisinya kekosongan. Ya, saya merasa jiwa saya penuh. Saya merasa bermanfaat, juga merasa hidup. Karena rasa seperti itu, membuat saya merasakan juga bagaimana saya bisa lupa waktu, lupa makan, lupa duduk saat berdiri, lupa berdiri saat duduk, ketika saya menulis. (Saya menulis di tablet soalnya, jadi bisa sambil berdiri... Hehe)
Saya tak peduli naskah saya ditolak, saya tak ambil pusing juga kalau blog saya nggak (belum) ada yang lirik, saya cuma mau menulis. Bukan berarti saya nggak senang juga kalau ada yang nerbitin ya, tapi yang pasti tak membuat saya berhenti menulis.
Tapi rupanya, hal itu mengundang masalah baru...
Sudah dua hari saya lupa nyuci baju, lupa masak, lupa beres-beres. Haha... Untungnya, suami nggak protes, asal jangan lebih dari 3 hari aja kali ya!
Masalah yang kedua adalah, ide yang banyak dan semakin banyak! Saat saya selesai nulis satu bab, muncul ide baru untuk satu novel. Nulis lagi dua bab, dua ide yang lahir. Nulis satu Novel, muncul ide buat bikin buku satu perpus! Saya jadi merasa tangan saya kurang banyak! Waktu saya kurang lama, dan tenaga saya kurang kuat. Hadeuh...
Yah, begitulah...
Tapi, kedua masalah itu bagi saya tetap menyenangkan. Itu karunia Allah kan. Pada masalah pertama, karunianya, saya punya suami pengertian banget... Bahkan kalau dia lihat saya lagi asyik nulis, dia bikinkan kopi panas, kadang juga dia bantu cuci piring. Hebat kan suami saya? Alhamdulillaah...
Pada masalah kedua, karunia nya adalah, saya semakin rajin nulis dan nulis lagi! Ide beruntun itu adalah amanah, jadi harus saya saya syukuri dengan menjalankan amanah-Nya lebih baik lagi. Betul kan?
Langganan:
Postingan (Atom)















