Rabu, 14 Maret 2018

Putri salju, cinderella, beauty and the beast. Rasanya semua anak cewek tahun 90-an tahu kisah itu. Meski saya agak aneh, saya tetap tahu kok kisah itu. Waktu SD saya pernah curi-curi baca semua dongeng itu dari kamar kakak saya. Buku selebar majalah bobo setebal 7 cm-an itu saya selesaikan seluruhnya. Tuntas setiap hurufnya. Dari semua dongeng viral itu, justru yang paling berkesan adalah kisah Ratu Salju, kisah seorang perempuan jahat yang tinggal di sebuah gua es. Lucunya, saya malah merasakan kesedihan dan kesepian hatinya dibanding benci pada sikap jahatnya. Untuk sekelas anak SD, ok, pikiran saya sama jahatnya dengan si Ratu Salju.

Hingga sekarang, perasaan terdalam ratu salju sering terlintas dan bahkan jadi tema dalam lamunan-lamunan tak penting saya.

Selain kisah itu, yang berbekas adalah kisah putri yang tidak bisa tidur hanya gara-gara sebutir kacang polong, yang sengaja disimpan di bawah tumpukan kasur setinggi rumah. Saya lupa judulnya, tapi saya ingat betul kisahnya. Bahkan gambar ilustrasinya masih lekat di ingatan. Saya kagum dengan kecermatan putri raja itu? Tidak, saat itu saya malah merasa dia konyol dan gila. Maksud saya, ‘hellooo, itu kacang polong ketahan sama tumpukan kasur setinggi rumah! Manja amat lu sampe nggak bisa tIdur gara-gara butir sejendil!' Intinya, saya paling tidak suka kisah itu, meski alur cerita justru memuja gadis itu karena ternyata dia putri raja yang sesungguhnya.

Selain itu, dalam buku juga tentu ada dongeng-dongeng putri yang judulnya saya sebutkan di awal. Itu bukan dongeng yang mau saya baca dua kali. Saya nggak suka, sebal, dan muak. Waktu itu saya pikir, para putri terlalu naif dan bodoh. Para pangeran terlalu dungu sampai mencium putri beracun atau putri yang jelas-jelas mati dan diarak menuju liang kubur. Hah, gila.

Kisah lainnya yang mewarnai masa kecil saya adalah kisah2 yang lebih rasional. Dongeng putri rupanya bikin saya kapok. Saya suka kisah rasional little missy, romantismenya nggak terlalu ngayal untuk ukuran anak sd, tapi anehnya yang menempel dikepala saya adalah kelamnya sejarah perbudakan pada masa itu. Meski saya masih ingat nama tokohnya, seperti Missy, Rudolfo, Baron Ararona, Candida, Dimas, Justo, Roberto, Anna, tapi tak satupun dari mereka yang jadi paforit saya. Saya tak suka mereka. Ok, sampai sini kalian berikir, saya anak kecil yang aneh banget. Hehe...

Saya memang begitu. Apa yang orang benci biasanya saya sukai. Apa yang orang suka dan puja, saya malah geli. Contohnya, ketika usia saya bertambah, saat itu lagi rame film Yoko dan bibi Ling. Semua orang suka tokohnya karena Yoko cerdas dan ceria (mirip judul sebuah acara ya). Tapi saya nggak suka. Tiap nonton saya malah berharap si yoko mati, si bibi Lung juga. Hahha... Maaf ya pemirsa, maklum pikiran anak kecil... Hihi...

Tokoh yang saya suka, bahkan jadi paforit saya justru paman si Yoko, Kwee Cheng dan Rong Er. Padahal waktu itu setahu saya, mereka cuma peran pembantu di cerita tersebut. Baru setelahnya saya tahu mereka tokoh utama di buku pertamanya. Mengapa saya tak suka Yoko? Karena dia egois, dan gila. Dia hanya memikirkan cinta sampai beruban, sementara orang lain memikirkan negara.

Tokoh terkenal sebelum zaman Yoko, sebenarnya ada kisah Siti Nurbaya-nya Novia Kolopaking dan Suamsul Bahri-nya Gusti Randa. Siapa tokoh paforit saya di sinetron itu? Him Damsyik si Datuk Maringgih. Weeew... Tanya kenapa...

Gampang, karena si Gusti Randa, eeh, si Syamsul Bahri rela nyari mati dan jadi pengkhianat bangsa sementara meskipun sempat jahat, si datuk maringgih mati syahid dalam barisan pejuang. Syahid? Yah, anggap saja dia sudah bertobat deh...

Nginjak SMP, dongeng-dongeng bertambah menjadi arsip di kepala saya. Karena sudah merasa dewasa (haha) saya juga merasa harus menyeleksi bacaan. Karena bekal sinetron Siti Nurbaya, semua buku novel di perpustakaan smp saya lahap habis. Tapi, saya tak pernah mau menyentuh buku Sitii Nurbaya, saya agak dendam sama penulis soalnya. Hehe... Tahulah kenapa.

Buku Mekar Karena Memar-nya Armijn Pane, Layar Terkembang, semua novel Hamka, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, I Swasta setahun di Bedahulu, Perempuan di Sarang Penyamun, sampai Olenka-nya Budi Darma. Iya, kepala saya berjejal cerita memang, hingga terdoronglah rumus-rumus fisika dan aljabar yang sebenarnya gampang-gampang saja buat dikerjakan. Hehe...

Dari semua kisah itu, mana yang jadi paforit saya?

 Bertengkar Berbisik, kisahnya membuat saya tertawa bahkan kalau saya ingat sekarang. Padahal kata teman, itu nggak lucu-lucu amat. Kalau cerpen, saya suka karyanya Idrus, kisah Celana Kepar 300. Kalau novel, saya suka Olenka. Apa yang membuat saya suka Olenka? Bahasanya dan latar belakang kisahnya.

Olenka adalah seorang cewek aneh yang dikejar si tokoh. Dan keanehan ini yang membuat saya suka ceritanya. Si Olenka ini labil, pernah gagal berumah tangga, bahkan pernah terjerumus lesbi. Ini kisah rasional. Kisah kehidupan orang-orang biasa. Olenka membuat saya berpikir banyak, berpikir serius tentang latar belakang kerpibadian dan pergolakan hati ketika usia saya masih kelas dua smp. Kenapa Olenka akhirnya lari pada teman perempuannya? Apa yang ada dipikirannya? Dan, ya... Hal-hal semacan itulah. Ingat ya, zaman itu lgbt begitu jijik, tapi Olenka membuat saya tahu, bahwa mereka ada. Penyakit itu ada...

Kisah lainnya yang berbekas adalah Belenggu. Ini kisah novel rumah tangga, tentang konflik suami istri. Hadew, anak smp baca ginian..., eh, selain konflik rumah tangga, ini nggak ada jorok-jorokan ya! Ini sastra Pujangga baru sampai angkatan 45 ya, bukan Mira W dan teman-temannya. Tapi... Well, ini memang terlalu dewasa untuk bekal isi kepala anak smp kelas dua. Heuheu...

Lain kali, saya ingin bahas tokoh2 ini satu persatu... Stay tune ya...

Minggu, 07 Januari 2018

Pangeran Istana Langit (7)

“Begitulah Yesus berkata...,” Ferdinand Verbiest menutup pembicaraan, diiring anggukan kecil pangeran ke empat belas.
“Ajaran yang mulia,” kata Yinti. Ia duduk tak seberapa jauh dari Verbiest. “Meski sebenarnya ada beberapa hal yang tak kumengerti...,” Yinti menerawang.
“Pangeran bisa bertanya padaku, sebab agama adalah sesuatu yang rasional dan masuk akal,” Verbiest tersenyum.
Yinti juga tersenyum penuh arti. Ia mengerti Verbiest tengah menyerang Confuisme yang katanya serba mengkhayal.
“Bagus jika menurutmu begitu,” Yinreng menghela nafas memberi jeda, “hanya tak tercerna oleh pikiranku Tuan Verbiest, mengapa Yesus mengorbankan dirinya untuk menebus dosa-dosa manusia?”
“Itulah kemurah-kasihan Yesus, anakku. Tak ada manusia yang semulia dia...”
“Kalau begitu, mengapa dia masih menyuruh untuk berbuat baik dimuka bumi? Bukankah dosa dan perbuatan rusak telah dia tebus sempurna?” tanya Pengeran Pertama dengan kelembutan. Tapi kelembutan yang demikian itu ternyata cukup keras menampar muka Verbiest.
“Aku tidak suka kau menyerang ajaran kami Verbiest! Tugasmu di Istana ini bukan untuk itu, Yinreng mendengus kesal. Ia berdiri dan beranjak dari tempat itu, diikuti Pengeran-pangeran yang lain.
Verbiest menghela nafas. Ditatapnya punggung para pemuda itu dengan putus asa. Apakah ia kurang bersabar dan terlalu tergesa-gesa? Meski telah bertahun ia mendakwahkan segala pemahamannya? Padahal Confusius yang mereka anut pun, mereka adopsi dari kepercayaan orang Cina, sebab orang Manchu datang memimpin negeri ini tanpa punya pegangan sama sekali. Mereka hanya meniru.
“Aku tertarik dengan uraianmu Verbiest,” sebuah suara dari arah belakang membuat Verbiest tersadar, ada satu Pangeran yang tinggal.
Verbiest berbalik. Diliriknya Pangeran ke-14 yang tengah tersenyum padanya.
Sejak itu, pembicaraan antara Yinti dangan Ferdinand Verbiest semakin sering. Banyak hal yang mereka diskusikan. Tentang teknolongi, tentang peradaban, tentang budaya, dan tentu saja tentang agama Kristiani.

*   *   *

“Pangeran ke-14,” Yu Lan menyapa Yinti ketika ia berpapasan dengannya dikoridor istana.
“Ah, Yu Lan. Baru pulang dari Wisma Kecerdasan?”
Yu Lan mengangguk, membuat hiasan rambutnya yang panjang menjuntai bergoyang-goyang kedepan dan kebelakang.
“Tidak mampir ketempatku, Pangeran?”
Yinti berbalik kebelakang, melihat Istana Bunga Musim Semi tak jauh darinya. “Sebenarnya aku hanya lewat saja...”
“Apakah Kakak ke-14 sedang terburu-buru?”
“Ah, tidak juga. Aku hanya akan ketempat Guru Liu.”
“Tentu saja. Pangeran Yinti, kalau tidak ketempat Guru Liu pasti ketempat latihan,” kata Yu Lan sambil tertawa.
“Kau ini...”
“Ya sudah kalau tidak mau beristirahat ditempatku..., padahal aku punya cerita yang sangat bagus.” Yu Lan sedikit merendahkan tubuhnya, dan melempar saputangan kebelakang pundaknya, memberi hormat.
Yinti menoleh pada Yu Lan sambil mengerutkan keningnya. “Baiklah, sebentar mungkin tak akan menyita banyak waktu...,” kata Yinti akhirnya mengikuti langkah-langkah Yu Lan menuju Istana Bunga Mesim Semi.
“Kaligrafi yang sangat indah!” Yinti mengamati kaligrafi yang menghiasi tubuh sebuah guci ketika ia sudah berada dalam Istana Bunga Musim Semi.
Yu Lan bertopang dagu ditempat duduknya, melihat polah Yinti yang tak henti berkeliling Istana Bunga Musim Semi dan mengatakan hal yang sama ketika sampai pada sebuah lukisan, atau Guci yang dipajang diistananya. Lalu dia berhenti beberapa lama untuk memandang kaligrafi itu dengan pandangan kagum dan takjub seperti ini. Dan beberapa lama versi Yinti adalah beberapa jam! Seperti baru melihat benda aneh saja!
Ah, tunggu. Memang baru melihat kan? Seingat Yu Lan, Yinti belum pernah datang keistananya. Bukan hanya Yinti, Pangeran dan putri yang lain pun belum pernah ada yang mengunjunginya. Hanya Baba, Permaisuri dan Ibu Suri saja yang pernah menginjakkan kaki disini. Itu pun datang untuk memberi hukuman pada Yu Lan. Ya, kecuali Kun Lan, tak ada yang datang ke istana ini khusus untuk menengok atau sekedar ingin melihatnya.
Sekarang ketika ada orang lain yang berkunjung pun malah asyik melihat-lihat dinding dan hiasan rumah, seolah-olah hiasan-hiasan itulah penghuni Istana Bunga Musim Semi ini. Padahal tahukah Pangeran ke-14 kalau ia sudah ingin marah menunggunya selesai untuk diajak bicara?
“Pangeran ke-14 benar-benar menyebalkan!” Yu Lan tiba-tiba mengumpat, membuat Yinti seperti terlonjak dan terlempar beberapa jauh dari tempatnya berdiri.
“Apa?” Yinti memandang Yu Lan tak mengerti.
“Kau menyebalkan!” ulang Yu Lan.
“Kenapa aku menyebalkan?” tanya Yinti. Ia bukan marah, sebaliknya, diujung bibirnya ada sesungging senyuman yang setengah mati ia tahan. Ia memang sering mendengar dari pembicaraan-pembicaraan, kalau Putri Yu Lan selalu bersikap aneh. Tapi terus terang, baru sekarang ia melihatnya secara langsung. Diantara putra-putri Kaisar, mungkin ia satu-satunya orang yang tidak menjalin kedekatan dengan anak kaisar yang lain. Tepat, ia menjaga jarak.
Sebenarnya tak berarti mereka satu sama lain sangat akrab, hanya biasanya, anak-anak kaisar membentuk sebuah kelompok-kelompok kecil. Yang ini dekat dengan yang ini. Yang itu dengan yang itu. Bahkan terkadang antar kelompok terjadi permusuhan. Itulah salah satu sebab Yinti menghindari semuanya. Jadi wajar saja, kalau keanehan Yu Lan yang sering jadi perbincangan itu baru ia lihat sekarang.
“Kenapa malah menahan tawa?” tanya Yu Lan.
Yinti tidak menjawab. Ia malah terlihat mengendalikan tawanya. Yu Lan melihat Yinti sebal. Yu Lan tahu, Yinti pasti mentertawakan caranya berbicara dan mengumpat. Sama sekali tak memperlihatkan kalau ia Putri seorang Kaisar Kang Xi.
“Ah, sudahlah. Lalu sebenarnya apa cerita yang kau simpan untukku, Yu Lan?”
“Tentang kegiatanku dirumah keluarga Hu.”
“Oh?”
“Kau tahu, disana aku mendapatkan kebebasan. Aku seperti burung dalam sangkar yang dibebaskan. Ya... memang hanya sehari, tapi itu cukup untuk melepaskan rasa jenuh yang kita rasakan. Sebaiknya kau pun meminta hal yang sama pada Kaisar. Kaisar pasti akan mengizinkan, karena itu berarti kau akan menemaniku kan?”
Yinti berjalan dan duduk disamping Yu Lan. Ia menghela nafas. Sama sekali kelihatan tak tertarik.
Lalu Yu Lan berkata lagi, “Lalu kau tahu, pemandangan disekitar wisma paman Hu sangat indah. Ada perbukitan, danau juga hutan. Ah, kau suka berburu bukan? Dihutan itu ada banyak binatang buruan. Kun Lan pernah mengajakku kesana.” Yu Lan bercerita dengan semangat yang dibuat-buat. Tapi Yinti bisa menangkap kepura-puraan itu.
“Aah... sudahlah. Bicara saja terus terang. Sebenarnya bukan itu yang ingin kau perbincangkan kan?”
“Maksudmu?”
“Kau memintaku kemari tak lain karena sebenarnya kau ingin tahu sesuatu kan? Tentang apa?”
“Apa? Bagaimana kau tahu?”
Air muka Yinti tiba-tiba berubah. Wajah yang ramah itu tiba-tiba menjadi dingin dan beku. “Aku tahu saja,” katanya. Sebab orang yang mendekatiku, pasti karena membutuhkan sesuatu dariku, bukan karena mereka ingin berteman denganku.
“Baiklah, aku ingin tahu silsilah keluarga Kaisar.”
“Silsilah keluarga Kaisar? Kita semua sudah tahu bukan? Apa yang belum jelas?”
“Ya tentu saja, tentang silsilah Kaisar kita semua tahu. Tapi tak banyak yang tidak tahu tentang keluarganya bukan?”
“Aku tak mengerti.”
“Tentang para selir, tentang anak-anak mereka.... Atau..., apakah mereka tak dianggap keluarga Kaisar sehingga tak perlu dipelajari?”
Yinti tersentak. “Kau ingin tahu tentang ibumu?”
Yu Lan mengangguk muram. “Apa aku tak berhak tahu?”
Yinti menghela nafas dan terdiam beberapa lama.
“Apa yang ingin kau tahu?”
“Keberadaannya selama di istana.”
“Maksudmu?”
“Apa saja yang dilakukannya selama di Istana? Apa saja yang terjadi selama dia ada, lalu sejauh mana hubungannya dengan Kaisar.”
“Kalau begitu, kau telah salah bertanya. Aku bukan tukang gosip yang suka mendengar berita-berita seperti itu!” Yinti berdiri dan beranjak. Dia terlihat marah.
“Ah, Pangeran ke-14, tunggu! Maafkan aku...,” Yu Lan berlari menyusul Yinti. “Aku tak bermaksud membuatmu marah. Aku benar-benar minta maaf...”
Yinti menahan langkahnya, lalu membalikkan tubuhnya. Dilihatnya wajah Yu Lan yang terlihat sangat menyesal. Lama-lama, wajah itu memuram, dan tiba-tiba berair mata.
“Aku minta maaf. Seharusnya memang aku tak bertanya masalah sepele seperti ini pada Kakak Laki-laki ke-14. Maaf... aku hanya tak tahu harus bertanya pada siapa..., aku tak punya tempat untuk bertanya...,” Yu lan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Yinti merasa iba. Tak ada tempat untuk bertanya? Itu artinya, Yu Lan sendiri. Didunia seramai ini. Bukankah itu mirip dengan dirinya? “Bukankah kau bisa menanyakan itu pada Kun Lan? Aku yakin, dia pasti tahu sesuatu.”
“Tidak,” Yu Lan membuka wajahnya, lalu tersenyum pahit. “Kun Lan tidak pernah sepenuhnya mempercayaiku. Dia lebih takut pada Baba daripada ingin menjagaku.”
Yinti terdiam sejurus. “Kalau begitu ayah Kun Lan?”
“Benar, hanya paman yang mau memberitahuku kenyataan meski itu melanggar janjinya pada Kaisar. Dari dia aku tahu, siapa ibuku. Meski aku menginginkan lebih dari apa yang ia ceritakan. Tapi bagiku cukup. Sampai batas itulah kemampuannya.”
“Apa yang dia ceritakan?”
“Ibuku orang Han. Dia dari keluarga Ma.”
“Keluarga Ma?” Yinti mengulang perkataan Yu Lan, entah mengapa tiba-tiba dadanya berdegup kencang. Tubuhnya tiba-tiba dilingkupi hawa panas dan dingin sekaligus.
“Benar, keluarga Ma. Yang aku tak mengerti, mengapa Kaisar menyembunyikan identitasnya dari aku, anaknya? Padahal dia tak pernah menyembunyikan edentitas selir manapun pada orang macam apapun. Itulah yang ingin aku tahu. Makanya aku bertanya hal yang tidak-tidak padamu, Pangeran.”
“Ah, tidak apa-apa,” Yinti lekas-lekas mengendalikan jiwanya yang menggeledak. Tangannya mengepal, namun ia sembunyikan dibalik pakaian longgar yang menutup lengannya. “Aku yang salah terlalu berprasangka padamu, Yu Lan. Aku pikir, kau mempunyai alasan yang sama dengan putri yang lain saat mereka mendekatiku. Aku benar-benar minta maaf...”
“Alasan yang sama?”
“Sebagaimana dirimu, aku, diistana ini sendiri. Akan ada teman yang menyertaiku jika aku menguntungkan posisi mereka dihadapan Kaisar...,” kata Yinti muram.
“Maaf....  Eh, tapi jika begitu, sekarang kau punya teman kan?”
Yinti menatap Yu Lan tersentak.
“Aku bukan? Kita sama-sama sendiri dan kesepian. Akan lebih indah jika kita bersama-sama saling berbagi sepi bukan?” tanya Yu Lan tersenyum. Yinti mengiringi senyum itu dengan tawanya.
Keluar dari istana Yu Lan, Yinti bergesas menuju keistananya sendiri dengan setengah berlari. Tujuannya semula untuk menemui Guru Liu ia urungkan. Tidak bisa, dalam keadaan seperti ini ia tidak bisa bertemu siapapun. Siapapun. Karena itulah, segera setelah ia sampai diistananya, ia menutup pintu dengan cepat. Ia mengangguk saja saat pengawal menanyakan prilakunya yang sedikit diluar kebiasaan itu.
“Apakah Anda sakit, Pangeran? Perlukah kami panggilkan tabib?”
“Tidak usah, aku hanya perlu istirahat. Jangan ada yang menggangguku.”
Yinti duduk diatas dipan kayu berukir miliknya. Nafasnya masih tersengal-sengal.
Ibuku orang Han. Dia dari keluarga Ma...
Ibuku orang Han. Dia dari keluarga Ma...
Kata-kata Yu Lan terus-menerus berulang diruang dengarnya.
Orang Han, bermarga Ma. Mungkinkah ia penganut Yisilan Jiaou?
Yinti memejamkan matanya. Keringat dingin sekarang benar-benar keluar dari sekujur tubuhnya. Tangannya terus mengepal.
Sejak tadi, pikiran itulah, yang terus menerus menyumbat tali pikirnya...


*   *   *

Jumat, 05 Januari 2018

Pangeran Istana Langit (6)

“Aku harus memperbaiki semuanya!”
Tangan Verbiest mengepal kuat. Surat dari orang yang telah mengutusnya ke Cina ia remas dalam kepalnya. Bagaimana bisa, keteledoranku yang sedikit saja bisa tercium olehnya? Pasti ada yang melaporkan. Pasti ada! Tapi siapa?
Kening Verbiest berkerut berlapis-lapis. Ia memutar ingatan tentang semua Pastor yang sama ada ditanah Cina bersamanya. Salah satu dari merekakah? Kenapa? Dengki dengan kedekatannya dengan Kang Xi? Dengki untuk apa? Bukankah tujuan mereka sama? Kenapa harus dengki? Iri? Jika tujuan yang sama mereka junjung tercapai sempurna?
Tapi sudahlah, pikiran tentang hal seperti itu harus ia kesampingkan terlebih dahulu. Sekarang ia harus memikirkan tentang tujuannya. Ia harus memperbaiki kepercayaan Kang Xi, sekaligus memberangus orang-orang Islam terkutuk itu!
Memikirkan tentang Muslim selalu membuat Verbiest gelisah. Muslim, selalu mengingatkan Verbiest akan luka-luka kekalahan yang terus menganga dan tak kering berdarah. Luka kekalahan di Andalusia, luka perih atas perebutan tanah Konstantinopel, dan rasa panas membara atas kekalahan pasukan salib di Jerusalem. Kejadian yang sudah lama berselang, tapi luka yang dihasilkan seolah baru kemarin terjadi.
Memang, ia tak menyaksikan  semua proses peperangan yang menyebabkan tercerabutnya tanah-tanah suci milik Kristiani. Namun ia tak menyangsikan kebenaran kisah yang ia dengar langsung dari Pastur Smith. Pastur yang membaptisnya, Pastur yang memberikan banyak masukan ruhani untuknya, Pastur yang mendekatkan jarak antaranya dengan Yesus, sehingga Yesus terasa demikian dekat.
Pastur Smith juga menceritakan, bagaimana umat Kristiani terusir dari tanah air sendiri, sehingga ia bisa merasakan bagaimana terhinanya keluar dari tanah yang sudah terjajah. Meski banyak yang masih tinggal dan rela untuk tunduk dibawah Kekhalifahan Utsmaniyah )11, keinginan untuk mengambil kembali tanah yang terampas itu akan menjadi mimpi yang ia yakin akan terwujud lagi.
Lalu setelah luka-luka yang masih terasa amat sakit itu, kini, orang-orang Islam itu kembali mengusiknya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sekarang, ia sendiri yang berhadapan langsung dengan mereka!
Masih terdengar perkataan Pastur Smith saat keberangkatannya ketanah Cina, “Orang Islam sudah ada ditanah itu sejak ratusan tahun yang lalu. Jika mereka mencoba menghalang-halangimu, tumpas mereka sejak mereka menguncup. Sebab jika ia dibiarkan besar, ia akan menjadi ombak yang menyeret dan menghempas. Jadi, berhati-hatilah...”
Fendinand Verbiest, misionaris asal Belgia itu kembali mengepalkan tangannya. Jika orang-orang Islam itu dibiarkan, tujuannya untuk menyebarkan Kristani di tanah Asia ini akan kacau balau. Dan jika ia juga tidak bisa menjadikan Kaisar-kaisar Dinasti Qing tunduk pada kepentingan Gereja, apa manfaatnya ia berada ditanah ini?
Tidak. Ia tak akan membiarkan semua itu terjadi!
Verbiest mendengus marah.

*   *   *

Lagi, Verbiest melihat Kang Xi dengan ujung matanya. Ia ingin membicarakan ancaman dari Muslimin dengan cara yang sangat halus, cara yang tak disadari oleh Kang Xi sedikitpun. Biasanya, jika Kang Xi sudah mempelajari satu lagu yang baru, hatinya terlihat senang.
Sejak ia mengenalkan piano pada Kaisar, ia tampak begitu tertarik. Sejak itu juga, ia mengajarkan Kaisar bermain piano dan Kaisar belajar padanya. Selain Kaisar, ada beberapa pangeran yang juga tertarik dengan piano. Pada saat belajar piano itulah, biasanya Verbiest membicarakan banyak hal. Tentang negaranya, tentang kebudayaan, tentang politik, hingga agama.
“Betapa hebat! Bagaimana tangga nada bisa diciptakan? Bagaimana sebuah musik bisa dibaca dengan tulisan?” Suatu hari, Pangeran ke-14, Yinti, bertanya padanya mengenai partitur. Diantara semua pangeran, dialah satu-satunya pangeran yang memiliki sifat rakus akan ilmu seperti Kang Xi.
“Gerejalah yang telah membuatnya pangeran. Leluhur kami telah menciptakan bagaimana ilmu pengetahuan bisa dikembangakan menjadi lebih baik, untuk selanjutnya diwariskan kepada generasi berikutnya.”
“Siapa leluhur itu, Pastor?”
“Tidak jelas. Dia seorang Fisikawan, hanya itu yang diketahui.”
Yinti mengangguk-anggukkan kepalanya, sementara Verbiest tersenyum puas. Tak apa berbohong sedikit. Bukankah tak ada kesalahan ketika berbohong untuk kemuliaan Yesus? Ia memang tak tahu siapa yang menciptakan tangga nada. Ia hanya tahu, kalau tangga nada dibawa oleh para ilmuwan barat yang pulang belajar dari tanah Baghdad. Dan mereka mengatakan, bahwa pencipta tangga nada adalah seorang ulama ahli Fisika.
“Bagaimana permainanku Verbiest?” suara Kang Xi menyentak halus lamunan Ferdinand Verbiest.
“Ah, luar biasa yang mulia. Semakin hari, permainan Anda semakin baik saja,” kata Verbiest sambil bertepuk tangan.
Kang Xi berdiri dan berpindah duduk. Verbiest mengikutinya dan duduk terhalang satu meja dari tempat duduk Kang Xi. Kaisar mengambil gelas minuman dan meneguknya satu teguk saja. “Bagaimana Yinreng?”
“Aku tidak begitu tahu Yang Mulia, tapi ketika belajar bersamaku, keinginannya untuk belajar mengalami kemajuan. Meski jelas tidak seperti semangat Pangeran ke-14.”
“Yinti? Tentu saja. Semua pangeran jika dibandingkan dengan dia, tak punya kelebihan. Dia seorang pemuda yang sempurna. Sayang sekali...,” Kaisar meneguk kembali air tehnya.
Yinti adalah putra ke-14 Kaisar dari 35 putra yang dimilikinya. Semua kelebihan yang dimilikinya memang pantas mendapat gelar Putra Mahkota. Semua orang di Kerajaan yakin, jika Yinti kelak yang memimpin, kemajuan yang sudah dicapai Kaisar Kang Xi akan terus mengalami kegemilangan. Namun harapan yang juga diinginkan Kang Xi itu harus ia pendam dalam-dalam. Masalahnya bukanlah kesalahan Yinti sendiri, tapi kesalahan darah yang mengaliri tubuhnya. Yinti adalah seorang pangeran yang lahir dari selir kelas rendah. Tak terlalu rendah, sebenarnya, tapi tetap belum pantas jika dibandingkan Yinreng yang seorang putra dari Mendiang permaisurinya yang pertama, Permaisuri Xiaocheng.
“Namun Putra Mahkota pun Yang Mulia, tinggal dididik sedikit saja, aku yakin dia akan menjadi pemimpin yang besar. Menyamai Paduka yang mulia sekarang ini...”
Kang Xi tersenyum masam. “Semoga saja...”
“Anda terlalu khawatir Yang Mulia. Sebenarnya Anda tinggal mengajarkan Putra Mahkota cara memimpin, cara mengatur rakyat, cara mengatur pemberontak. Kalau Putra Mahkota tahu ilmunya, ia akan menjadi pemimpin dengan mudah.”
“Maksudmu, Verbiest?”
“Menurutku,  Yang mulia harus sering memberi Putra Mahkota sedikit rangsangan. Ikutkan ia dalam misi-misi kenegaraan, kalau perlu, kirim dia ke perbatasan.”
Kaisar tertawa. “Bodoh. Apa kau pikir anak manja itu mau? Dia akan berlari sambil terkencing-kencing.”
“Menurutku, itu karena Yang mulia belum mengajarkan hal terpenting padanya.”
Kang Xi menatap Verviest penuh tanya. Sementara Verbiest, hatinya riang berjingkrak, sebab Kaisar sudah masuk dalam perangkapnya, lewat pembicaran yang yang dia ciptakan sendiri. Ah, betapa pintar aku! Teriaknya dalam hati.
“Sebenarnya, menumpas musuh atau pemberontak itu mudah saja kan Yang Mulia? Kita tinggal memecah belah mereka, mengadu domba, menimbulkan prasangka diantara mereka. Jangan biarkan mereka bersatu ataupun berkomunikasi. Dengan begitu, kita bukan saja mudah mendapatkan panji mereka, tapi mungkin mereka akan saling berperang dan kita yang akan dapat kemenangan. Kalau Putra Mahkota Yinreng tahu hal ini, dia tidak akan ketakutan seperti yang mulia katakan.”
Kening Kang Xi mengerut, matanya sedikit memicing. Memikirkan dan mencerna kata-kata yang dikeluarkan Ferdinand Verbiest. Apa maksud dia mengatakan hal ini semua? Apakah masih berkenaan dengan Yisilan Jiaou?

*   *   *

Husain berdiri disisi bukit. Berdiri menghadap langit timur, membelah mentari yang menghias langit pagi hari. Berdiri ditempat dulu Yu Lan menemukannya, juga berdiri ditempat yang sama saat sebulan yang lalu ia menemui Yu Lan.
Sudah beberapa saat ia menunggu disini. Namun tanda-tanda kedatangan Yu Lan belum terlihat. Apakah Yu Lan memang tidak akan datang? Tidak datang karena gadis itu tak begitu mempercayainya?
Husain menggelengkan kepala pelan, menepis kekhawatiran. Entah mengapa, ia yakin Yu Lan mempercayainya. Ia juga yakin Yu Lan akan menguraikan keresahan yang selama ini dipendamnya pada Husain.
Namun hingga menjelang siang,  ketika gadis berkulit kuning itu belum juga datang, Husain mulai meragukan keyakinannya. Tapi ia tetap menunggu. Sebelum hari ini habis, Husain masih punya kewajiban menunggunya. Entah, ia ingin menjadi orang yang dipercaya Yu Lan.
Penantiannya memang tidak sia-sia. Sebuah suara langkah membuat perasaan Husain tiba-tiba berwarna. Tepat ketika Husain berbalik Yu Lan melihatnya. Pandangan Yu Lan terpaku.
“Tuan Husain?”
Husain tersenyum. “Saya senang, ternyata Anda mempercayaiku...”
“Anda datang sejak pagi?” tanya Yu Lan yang matanya tiba-tiba berkaca.
Husain mengangguk dengan heran. Mengapa Yu Lan menangis? “Tuan Putri?”
Yu Lan tak menjawab, ia masih tenggelam dalam tangisnya. Tangis pelan karena setengah mati ia tahan. Tangis yang membuat bahunya berguncang.
Husain memandang iba. “Jika Tuan Putri ingin menangis, menangis saja. Saya juga sering menangis, padahal kan saya seorang laki-laki...,” kata Husain dihiasi tawa pelan.
“Maafkan saya...”
Mendengar kata-kata Husain, tangis yang sudah mendesak dilehernya keluar tak tertahan.
Beberapa saat keadaan masih seperti itu. Baru setelah Yu Lan dapat menguasai dirinya dan meredakan tangisnya, pembicaraan mereka kembali dimulai.
“Seharusnya, aku tak menangis, karena aku tak merasa sedih,” kata Yu Lan sambil mengusap air mata dengan telapak tangannya.
Husain diam tak mengerti.
“Sebenarnya aku malah merasa bahagia, karena melihat Anda masih berdiri meski hari telah sesiang ini.”
“Ah, tidak. Hari masih pagi, dan saya tak menunggu anda selama itu.”
“Saya sangat senang karena ada orang yang mau mendengarkan keluh kesah saya. Keluh kesah yang bertahun-tahun saya pendam sendirian....” Yu Lan menerawang.
“Bertahun-tahun?”
Yu Lan mengangguk. “Di Istana tidak ada seorang pun yang bisa saya ajak bicara.”
“Tidak juga Kun Lan? Sepupu anda itu?”
Yu Lan memandang Husain sedikit tersentak. “Bagaimana Anda tahu mengenai Kun Lan?”
“Anda pernah membicarakannya bukan?”
“Pernahkah?”
“Ya. Kun Lan mengatakan pada Anda kalau makanan itu akan lebih enak jika dinikmati saat panas. Masih ingat?”
“Hanya itu?”
Husain tiba-tiba sama tersentak. Ya, hanya itu. Tapi mengapa ia begitu ingat tentang seseorang bernama Kun Lan itu? “Ehm.. selama Anda bicara, Anda tidak pernah mengungkit-ngungkit nama orang lain, kecuali nama Kun Lan. Jadi saya mengingatnya...” Husain tertawa kering. Benarkah begitu? Entah hatinya juga ragu. Alasan sebenarnya mengapa nama Kun Lan diingatnya, ia juga tak tahu.
Yu Lan mengangguk-angguk pelan, mengerti alasan Husain. “Saya memang dekat dengan Kun Lan. Paman Hu, ayah Kun Lan, sangat menyayangi saya. Karena itu, hanya dia teman bermain saya sejak kecil. Tapi bagaimana pun juga, Kun Lan tetaplah orang istana, saya tidak bisa mengajaknya bicara tentang masalah ini...”
“Begitu...,” Husain tersenyum lega. Tapi lekas-lekas ia menyadari senyuman dan kegirangan yang muncul dalam batinnya. Mengapa ia begitu senang, hanya karena mengetahui jika Kun Lan hanya teman dekat gadis ini?
“Tuan Husain, apakah Anda mengerti arti sulaman ini?” Yu Lan mengeluarkan sapu tangan dan menunjukkannya pada Husain.                      
Sapu tangan berwarna merah muda itu, seketika berpindah tangan. Lalu tangan Husain meraba sulaman yang menghias ujung sapu tangan berbahan sutra itu.
“Bukankah itu tulisan Persia?” tanya Yu Lan terlihat tak sabar. Husain menjawabnya dengan pandangan yang tak dapat dimengerti Yu Lan.
“Apa arti tulisan itu? Katakanlah sesuatu padaku...” mata Yu Lan hampir berkaca.
“Sebelum itu...,” kata Husain akhirnya, “bolehkah saya tahu, milik siapa saputangan ini?”
“Selir Su Zu. Ibuku.”
“Ibu anda?”
“Saya pun tak mengerti Tuan Husain, tiba-tiba saja saya menemukan benda-benda ini disuatu tempat yang tersembunyi di istanaku, seolah sengaja disembunyikan Mama hanya untukku,” Yu Lan mengeluarkan kedua benda lainnya. Sebuah kitab, dan sebuah tanda kekaisaran. Ia letakkan kedua benda itu diatas sebuah batu besar yang memisahkan dirinya dengan Husain.
Husain mengambil kitab itu perlahan. Dan jiwanya terkesiap, ketika lembaran pertama ia buka.
“Apa katanya Tuan Husain? Apa yang Ibu ingin aku tahu?” Yu Lan bertanya tak sabar.
“Kitab ini tidak ditulis dengan bahasa Persia, Tuan Putri. Juga sulaman yang menghias saputangan itu...”
“Jadi? Anda tak mengerti? Anda tak bisa menjelaskan sesuatu apapun padaku?”
Husain memandang wajah Yu Lan sekilas, sebelum akhirnya ia berpaling. Mata gadis itu berkaca kembali. Perlukah dijelaskan sekarang? Padahal ia pun butuh waktu untuk menenangkan pikirannya? Husain lalu memandang halaman pertama kitab itu. Dibacanya pelan-pelan, dengan bahasa dan intonasi yang sama sekali tak Yu Lan kenal.
“A’uudzubillaahiminasyaithaanirrajiim. Bismillahirrahmaanirrahiiim. Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiiin. Arrahmaanirraahiiim. Maalikiyaumiddiiin. Iyyaakana’budu, wa iyyaakanasta’iiin. Ihdinashshiraathal mustaqiiim. Shiraathalladzina an’amta alaihim ghairil maghdhuubi alaihim waladlaaliiin. Shaadaaqallahul’adziim.”
Yu Lan memandang Husain dengan beribu pertanyaan.
“Ini bukan bahasa Persia. Ini bahasa Arab,” kata Husain.
“Bahasa Arab? Bahsasa yang orang-orang Persia pakai?”
“Bahasa yang kami pakai. Orang Persia, orang Arab, orang Manchu, orang Han, orang Tibet, orang Mongol...”
“Saya tidak mengerti Tuan Husain...”
“Mamamu belum tentu seorang Persia, Tuan Putri. Tapi dia seorang Yisilan Jiaou. Itu pasti.”
Yu Lan tersentak. Yisilan Jiaou?
“Aku berlindung kepada Allah dari Syetan yang terkutuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertoongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepadanya, bukan jalan mereka yang sesat.” Husain membacakan arti surat yang ia baca.
“Yisilan Jiaou adalah keyakinan yang hanya mempercayai satu Tuhan.”
Air mata Yu Lan terurai kembali. Ia teringat dengan percakapan Baba dengan Husain dulu. Lalu Yu Lan menggelengkan kepalanya berkali-kali, ia menangis... “Aku tak mengerti... aku tak mengerti...”
Husain membiarkan Yu Lan seperti itu untuk beberapa saat. Ia tahu apa yang tengah berkecamuk dalam pikiran gadis itu...
 “Sekarangpun aku baru memahami...,” bisik Husain setelah tangis Yu Lan reda.
“Apa yang Anda pahami, Tuan Ho San Ni?” tanya Yu Lan masih dengan suara yang parau.
Husain tersentak dengan perkataannya sendiri. Tapi setelah itu dia merasa tak peduli. Yu Lan sudah memberikan kepercayaan padanya. Membuka rahasia besar yang sekian lama disimpan dirinya sendiri. Lalu adakah alasan untuk tak mempercayainya? Bukankah Yu Lan bisa dipercaya seperti juga dirinya dipercaya oleh Yu Lan?
“Tentang Kaisar Kang Xi...”
“Baba? Apa yang Anda mengerti dari ayahku Tuan Ho San Ni?”
Husain berdiri. Disisi bukit seperti biasa. Sekarang ia menjadi siluet ditengah-tengah lembayung yang bersapu jingga.
“Sudah senja. Bagaimana jika kusimpan ceritaku untuk bulan depan, Tuan Putri?”
Yu Lan tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja, masih ada bulan depan.”
“Tapi Tuan Husain,” kata Yu Lan setelah diantara mereka tak ada satupun pembicaraan untuk beberapa saat, “bisakah Anda tidak memanggilku Tuan Putri lagi?”
“Mengapa? Bukankah Anda memang Tuan Putri?”
“Jika orang istana yang menyebutku seperti itu memang biasa. Tapi mendengar Anda yang mengatakannya, rasanya asing sekali.”
Lagipula... aku memang tidak ingin menjadi Tuan Putri jika aku bisa memilih...
“Baiklah. Tapi saya juga minta, Anda jangan memanggil saya Tuan.”
“Mengapa?”
“Kau memanggilku begitu, aku jadi merasa sangat tua. Atau... apakah aku memang setua itu?”
Yu Lan tertawa. Lalu tawa Yu Lan yang lepas itu memasung pandangan Husain untuk beberapa saat. Seketika itu sebuah rasa bersemburat membuat langit jiwanya berpelangi. Husain segera mengalihkan pandangannya kearah lain, ketika ia menyadari warna baru yang tiba-tiba menyapu batinnya itu.
“Tentu saja tidak. Anda belum tua. Umur Anda tak lebih dari Kun Lan.”
“Tapi tetap saja kau memanggilku Anda,” kata Husain tanpa senyum.
“Ah, maaf. Mulai sekarang, tak ada saya dan Anda, tapi  aku dan kau. Sepakat?”
“Sepakat.”
“Sudah semakin sore, aku pamit.”
Husain mengangguk.
“Eh, bagaimana cara penganut Yisilan Jiaou jika berpamitan?” tanya Yu Lan ditengah langkahnya mendekati tempat kudanya ditambat.
“Assalamu’alaikum.”
“Oh, Assa... ah, apa artinya?”
“Keselamatan menyertaimu.”
“Boleh kuucapkan dengan bahasa mandarin saja?”
Husain mengangguk sambil tersenyum, melihat Yu Lan yang sudah berada diatas kudanya.
“Tapi aku janji, saat pertemuan mendatang, aku pasti sudah bisa mengucapkannya.” Yu Lan menghentak kudanya, hingga kuda itu meringkik dan berlari.
“AKU PASTI AKAN MENUNGGU UNTUK MENDENGARNYA!” teriak Husain berpacu dengan suara kuda yang ditunggangi Yu Lan.
Lalu mata Husain mengantar kepergian Yu Lan hingga sosoknya menjauh, mengecil dan tak terlihat.

*   *   *

Yu Lan pulang ke Wisma Kecerdasan dengan mata sembab yang masih terlihat. Ia sudah berusaha untuk menghapus sisa tangis, namun sesulit apapun ia berusaha, ternyata waktu belum bisa menyembunyikannya.
“Sudah pulang?” Kun Lan datang menyambut Yu Lan digerbang depan.
“Kau menungguku?”
“Aku mengkhawatirkanmu.”
“Ah, maaf. Aku pulang terlalu sore. Maaf telah membuatmu khawatir.”
Yu Lan berjalan mendahului Kun Lan. Ia berharap senja yang temaram bisa menyembunyikan mata sembabnya dari pandangan Kun Lan.
“Setelah makan malam nanti, Baba ingin bicara padamu.”
Yu Lan berhenti berjalan. Ingin bicara? Ada apa? Tapi, bukankah ia pun ingin membicarakan sesuatu dengan paman?
Lalu ia melanjutkan berjalan tanpa menoleh lagi. Kun Lan melihatnya dengan pandangan sendu. Pandangan khawatir, dan pandangan takut.
Apakah sudah masanya aku melepasmu Yu Lan?

*   *   *

“Akhir-akhir ini, aku jarang melihatmu, anakku,” Hu Zuang membuka pembicaraan. Selain ia dan Yu Lan, Kun Lan dan ibunya ada diantara mereka.
“Aku pergi ke bukit Xi Hu paman.”
“Oh. Sendirian?”
“Tidak.”
“Tidak? Bukankah kau pergi tanpa pengawalan, Yu Lan?” kali ini Bibi Lin, istri Hu Zuang, juga ibu Kun Lan yang bertanya.
“Aku memang minta begitu. Tapi sepertinya Kun Lan tidak bisa mempercayaiku sebagaimana ucapannya. Dia mengawalku tanpa sepengetahuan aku.”
Mendengar kata-kata Yu Lan, bukan hanya Kun Lan yang tersentak, tapi juga Hu Zuang dan Bibi Lin.
“Aku tidak bisa mengabaikan perintah Kaisar,” kata Kun Lan akhirnya.
“Nah,” kata Yu Lan lagi tanpa menghiraukan perkataan Kun Lan sama sekali. “Kun Lan pasti sudah memberikan laporan pada Paman. Apakah sesuatu yang ingin Paman bicarakan itu mengenai lelaki yang aku temui?”
Hu Zuang menarik nafas panjang. Yu Lan ini, kelincahan berpikirnya, ketajaman instingnya, sangat mirip dengan ayah dan ibunya.
“Dia seorang penganut Yisilan Jiaou. Aku membicarakan mengenai hal ini,” Yu Lan mengeluarkan sapu tangan dan memperlihatkannya pada mereka.
“Apa itu?” tanya bibi Lin.
“Sebuah sapu tangan,” jawab Kun Lan.
“Ibu tahu itu. Tapi tulisan apa itu?”
“Tulisan Arab,” kata Hu Zuang. “Ini milik ibumu?”
Yu Lan mengangguk. “Ada diantara barang-barang peninggalan ibu, jadi aku yakin kalau ini memang miliknya.
Hu Zuang mengelus-elus janggutnya. Yu Lan tahu, jika bersikap seperti itu, berarti Hu Zuang sedang resah. Kalau tidak sedang resah, maka dia sedang cemas. Cemas karena apa? Karena melihat sapu tangan ini? Yu Lan tersenyum, itu artinya Paman Hu tahu sesuatu. Tidak, bukan hanya sesuatu, tapi mungkin banyak hal. Banyak hal yang ia ingin tahu tentang ibunya.
“Awalnya aku menyangka ini tulisan orang Persia. Karena itu, aku ingin tahu dari orang Persia langsung. Tapi ternyata, orang Persia itu mengatakan kalau tulisan ini tidak selalu berhubungan dengan orang Persia. Namun sesuatu yang aku tahu akhirnya, bahwa tulisan ini sangat pasti berhubunan dengan Yisilan Jiaou. Mama bisa dari suku mana saja. Dia bisa orang Manchu, Mongol, Hui Chi, Tibet, Han, Arab, atau Persia. Tapi yang pasti, ibuku seorang Yisilan Jiaou.” Yu Lan menatap Paman Hu, Bibi Lin dan Kun Lan satu persatu. “Apakah aku benar?” lanjut Yu Lan.
“Mamamu seorang Han,” kata Hu Zuang singkat. Membuat Yu Lan tersentak.
“Orang Han?” tanya Yu Lan.
Hu Zuang menyambutnya dengan anggukan kepala.
“Suamiku?” sekarang Bibi Lin yang bertanya. Mempertanyakan keberanian Hu Zuang membuka rahasia yang seharusnya diamanatkan Ibu Suri untuk dijaga, terutama pada Yu Lan sendiri.
“Tak apa, Yu Lan sudah dewasa. Sudah bisa menentukan yang benar dan yang salah. Lagipula, mengetahui warna darah yang mengaliri tubuhnya adalah hak Yu Lan.”
“Selir Su Zu adalah salah seorang keturunan Kaisar Ming. Putri dari Kaisar Ming yang terakhir menikah dengan keluarga terpandang bermarga Ma. Dia penganut Yisilan Jiaou. Dari pernikahan merekalah, leluhur Selir Su Zu lahir.”
“Tapi Baba, bukankah Kaisar Chong Zhen )14 telah membunuh semua keluarga kerajaan sebelum dia bunuh diri?”
“Tapi ada yang menyembunyikan keberadaan seorang putri yang lahir di luar kerajaan. Banyak yang mengatakan, kalau dia sengaja disembunyikan seseorang, agar suatu saat, mereka bisa kembali mendirikan Kekaisaran Ming dari darah putri itu. mereka adalah orang-orang yang sangat setia pada Dinasti Ming.”
“Mereka juga kah yang selama ini mengadakan pemberontakan pada Kaisar?”
Hu Zuang mengangguk. “Seperti kau tahu, kaisar-kaisar kita tidak ada yang menyukai Han. Rakyat Han selamanya akan terus dipinggirkan. Tapi Selir Su Zu datang menyelamatkan mimpi buruk itu.” Hu Zuang memandang Yu Lan.
“Maksud Paman?”
“Suatu hari, Babamu keluar istana untuk menangkap langsung seorang Han yang dianggap berbahaya bagi pemerintahan Qing. Tapi justru dirumah pemberontak itulah, Babamu bertemu Selir Su Zu. Melihat ayahnya ditangkap, Selir Su Zu melawan dengan kata-katanya yang cerdas. Selir Su Zu-lah orang pertama yang berani berkata pada Kaisar, kalau pemberontakan itu tidak akan terjadi jika Kaisar bersikap adil. Jadi menurut Selir Su Zu, kesalahan itu bukan ada di tangan ayahnya, tapi di tangan Kaisar sendiri. Karena kata-kata itu, Babamu pulang kembali ke istana tanpa membawa tahanannya. Sebaliknya, ia malah membawa Selir Su Zu ke Istana.”
“Lalu segalanya berubah sejak itu. Tanah-tanah orang Han yang dirampas dikembalikan. Kaisar juga banyak memperkerjakan orang-orang Han di pemerintah. Dan langkah yang dianjurkan Selir Su Zu itu memang berhasil meredam pergolakan.”
“Apakah itu syarat yang diajukan Mama pada Baba?”
“Kau cerdas seperti mamamu Yu Lan,” kata Hu Zuang sembari tersenyum. “Tentang hal itu, hanya Kaisar sendiri yang tahu. Apakah Kaisar mengambil hati orang Han sebagai tak-tik untuk meredam pergolakan orang Han, atau ia melakukannya hanya sebagai penunai janjinya untuk Selir Su Zu? Tak ada yang tahu.”
“Bagaimana dengan Yisilan Jiaou?”
“Maksudmu?”
“Mengapa hanya orang Han? Mengapa Baba juga tidak melakukan hal yang sama untuk Yisilan Jiaou?”
Hu Zuang tersentak dengan pertanyaan Yu Lan. Dan ia menjawab hanya dengan diam. Tak ada satu pun suara yang ia keluarkan untuk menjawab pertanyaan Yu Lan. Yu Lan malah memandangnya dengan curiga. Entah mengapa, sikap Hu Zuang yang tiba-tiba itu membuat Yu Lan yakin kalau Hu Zuang masih menyembunyikan sesuatu darinya. Ia ingin mendesak dan menyelesaikan rasa ingin tahunya saat itu juga, tapi suara Bibi Lin yang mengingatkan kalau malam sudah larut memutus percakapan seketika. Ia mengerti, Bibi Lin menyuruh Paman Hu berhenti bercerita.
Lalu sampai ia kembali kekamarnya, ia tak bertanya apa-apa lagi.
Yu Lan meniup nyala lilin yang malam itu menerangi kamarnya. Hari ini, banyak rahasia yang dulu sangat ingin ia ketahui terkuak sempurna. Mamanya seorang Han bermarga Ma, dan ia penganut Yisilan Jiaou. Tapi hatinya malah semakin gelisah. Setelah mengetahui itu lalu apa? Apa yang akan dilakukannya setelah tahu kalau ibunya seorang Han? Apakah ia akan meminta Baba untuk mengembalikannya pada keluarga dari garis ibunya itu?
Kepala Yu Lan menggeleng pelan. Ia belum mengetahui apa yang ingin ia lakukan setelah ini. Terutama karena masih banyak hal yang ingin diketahuinya. Pertama, ia ingin tahu, mengapa Mama merahasiakan ketiga benda itu dari Baba? Kalau dia memang ingin memberikan ketiga benda itu untuknya, mengapa harus disimpan didalam guci? Bukan dititipkan pada Baba atau pada Paman Hu, atau pada siapapun yang ia percayai?
Apa sebenarnya yang Mama  ingin aku melakukannya?
Yu Lan masih duduk mematung. Duduk dalam kegelapan. Ia tak hendak membuka jendela untuk memasukkan sinar rembulan, tak juga menyalakan lilin. Ia berdiam terus dalam bimbang, seolah mewakilkan kegamangan hatinya dalam gelapnya cahaya. Atau sekedar menipu Hu Zuang sekeluarga agar menganggapnya telah tertidur lelap? Tak tahu. Jawabannya hanya Yu Lan yang tahu...


*   *   *

Selasa, 02 Januari 2018

Pangeran Istana Langit (5)

Lembah yang biasa sepi itu, kini terlihat ramai. Puluhan jumlah laki-laki tampak membentuk kelompok-kelompok. Sebagian besar mereka adalah para pemuda, sebagian lagi kaum bapak, beberapa ada kakek-kakek berusia senja. Mereka sedang melakukan latihan. Satu kelompok sedang memainkan pedang. Satu kelompok lagi berkonsentrasi dengan busur dan anak panah mereka, kelompok lain berpacu dengan kuda, dan kelompok lain lagi tengah beradu fisik, berlatih kungfu. Beladiri khas Cina.
Abdul Aziz berjalan pelan melewati mereka semua. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Matanya menyipit, mempersempit celah agar sinar silau matahari tak banyak masuk kedalam bola matanya. Ia lalu berdiri disalah satu sisi, mencari tempat yang memungkinkannya melihat mereka keseluruhan.
Ini adalah hari ketiga mereka menjalankan latihan. Semua terlihat bersemangat. Bahkan para orang tua yang sudah lanjut, ikut serta. Padahal ia sudah memberi keringanan pada mereka untuk beristirahat dirumah saja. Tapi mereka bersikeras.
Abdul Aziz tersenyum  lagi. Semangat memang sesuatu yang sangat mudah menular. Hampir pada semua orang. Tapi hampir itu tidak semua. Dan tidak semua itu tengah menimpa pada satu orang...
Abdul Aziz melihat yang ‘satu orang’ itu dari kejauhan. Husain.
Ia sedang mengarahkan para pemuda yang tengah bersiap-siap dengan busur dan anak panah mereka. Dari tempatnya berdiri, Abdul Aziz bisa bisa melihat keringat yang menetes dari kening Husain karena keringat itu berkilau oleh sinar mentari.
Sekilas, ia memang terlihat sama bersemangat seperti pemuda yang lain. Tapi Abdul Aziz tahu, saat ini, Husain adalah orang yang dikecualikan dari wabah semangat. Ada sesuatu yang tengah dipikirkannya benar. Mungkin tentang perang yang sebentar lagi akan terjadi. Sebelum kedua pasukan, pasukan Islam dan pasukan kekaisaran bertemu, perang sudah berkecamuk lebih dulu didalam batin Husain.
Apakah ia gentar dan takut? Tidak. Sebaliknya. Husain orang yang sangat berani dan tangguh. Masalahnya hanyalah, Husain seorang yang tidak menyukai konflik. Jangankan untuk konflik yang mengorbankan tertumpahnya darah, untuk konflik kecil saja, Husain lebih banyak menghindar. Segala sesuatu, baru akan ia putuskan jika ia telah yakin orang-orang disekelilingnya tak ada yang ia sakiti. Ia orang yang sangat pengasih. Ia akan membiarkan bidikannya lepas saat berburu, untuk membiarkan orang lain membidiknya.
Perang ini, jelas tidak sesuai dengan kepribadiannya.
Abdul Aziz menarik nafas panjang. Tak apa. Ia berharap, perang yang akan mereka hadapi, bisa melatih Husain untuk bertindak lebih baik. Kapan ia harus bersikap kasih, kapan ia harus bersikap tegas.
“Air, Syeikh?” seseorang menawarinya air.
Abdul Aziz menoleh kesebelah kirinya. Mei Lin berdiri disampingnya, membawa seember air. Abdul Aziz tersenyum dan mengambil satu ciduk air lalu meminumnya. “Terima kasih,” kata Abdul Aziz.
“Alangkah baik jika Anda mengawasi mereka dari tempat yang teduh,” kata Mei Lin sembari mengangguk hormat dan beranjak.
“Terimakasih,” kata Abdul Aziz lagi, membalas senyuman Mei Lin.
Gadis itu lalu berjalan menuju kelompok yang berlatih bela diri. Mereka satu-satunya kelompok yang belum didatangi pembawa air.
Mei Lin adalah putri dari teman dekatnya, Rasyid. Rasyid adalah temannya satu kapal ketika ia datang ketanah Cina ini. Bedanya, Rasyid datang untuk kembali pada istri dan putrinya yang ia tinggalkan selama satu tahun. Sementara dirinya, baru datang kali itu.
Rasyid seorang pedagang permadani Persia. Kepergiannya saat itu, untuk membenahi kembali perdagangan permadani yang mengalami kemunduran, sekalian melepas rindu pada tanah kelahiran katanya.
Putrinya, Mei Lin, hasil pernikahannya dengan penduduk setempat. Mei Lin gadis yang sangat cantik. Meski namanya Mei Lin, wajahnya lebih mirip orang Persia daripada orang Cina. Ia lebih mirip ayahnya. Sementara adiknya, lebih mirip ibunya, meski namanya Hamid.
Abdul Aziz, terus memandangi Mei Lin, hingga ia selesai dengan tugasnya.
“Apa makan malam hari ini, Mei Lin?” tanya Abdul Aziz ketika Mei Lin melintas didekatnya.
“Aku tidak tahu Syeikh, tapi Ibu sedang menguliti seekor rusa. Putra Anda memberikannya pada kami tadi pagi.”
“Oh, benarkah? Sepertinya akan menjadi makan malam yang nikmat.”
“Insya Allah,” Mei Lin tersenyum dan beranjak.
Setelah Mei Lin menghilang, Abdul Aziz mengalihkan pandangannya pada Husain. Dia sedang duduk sekarang, beristirahat seperti yang lain.
Sebuah bayangan untaian giok tiba-tiba tergambar dalam benaknya. Apakah sudah saatnya Husain?

*   *   *

Setiap malam, dikampung pelabuhan ada pesta. Sebenarnya bukan pesta yang sesungguhnya. Hanya makan malam. Namun makan malamnya berbeda dari makan malam-makan malam sebelumnya. Makan digelar disebuah tanah lapang, dihadiri oleh semua anggota kampung, baik perempuan atau laki-laki. Layaknya pesta.
Abdul Aziz duduk bersama para bapak lainnya. Disana ada Rasyid, ayah Mei Lin, juga sahabat dekat Abdul Aziz. Jauh didepannya juga duduk Husain, bersama para sahabatnya dari kalangan pemuda.
“Mengenai usul yang kau katakan padaku kemarin, kami sudah membincangkannya,” kata Abdul Aziz kepada Mei Lin. Abdul Aziz menahannya, ketika gadis itu selesai menyimpan hidangan makan malam untuk mereka. Mei Lin duduk diantara Abdul Aziz dan ayahnya. Duduknya agak menjorok keluar lingkaran, agak malu berada dalam barisan para laki-laki.
Mei Lin melihat Abdul Aziz, bibirnya menyunggingkan senyuman senang. Kemarin, ketika ia memberi minum Abdul Aziz saat latihan, Mei Lin meminta Abdul Aziz juga memberi latihan perang untuk kaum perempuan.
“Menurutmu, apa yang bisa kami lakukan untuk kalian? Latihan apa yang tidak memberatkan kalian?”
“Sesuatu yang tidak terlalu menguras fisik, Syeikh.”
“Gadis pintar,” Abdul Aziz tersenyum. “Memanah,” ujar Abdul Aziz kembali, “Husain, mulai besok kau latihlah mereka.”
“InsyaAllah,” Husain mengangguk kearah Abdul Aziz.
“Terimakasih, Tuan Muda,” kali ini Mei Lin bicara kepada Husain. Husain membalasnya dengan anggukan kecil.
“Kalian juga akan dilatih kungfu dasar, memainkan pedang dan berkuda. Kau atur jadwalnya dengan bertahap Mei Lin. Tapi jangan sampai mengurangi waktu kalian untuk membaca dan mempelajari al-Qur’an, sebab hidup itu, butuh keseimbangan. Disini, disini, dan disini,” seraya berkata seperti itu, Abdul Aziz berturut-turut menunjuk keningnya, dadanya dan pangkal lengannya.
“Baik, Syeikh,” Mei Lin mengangguk. Ia mengerti apa yang dimaksud Abdul Aziz. Akal, ruh dan jasad, tiga unsur yang menyusun tubuh manusia itu sama-sama harus diisi dengan seimbang.
Setelah pembicaraan selesai, Mei Lin mengundurkan diri dan beranjak. Selama itu, Abdul Aziz terus memperhatikan Husain. Apakah pemuda itu memperhatikan Mei Lin barang satu jenak?
Hingga makan malam itu usai, dan semua kembali kerumah masing-masing, mata Husain tak sekalipun singgah pada Mei Lin. Tidak pada rumahnya, tidak pada pintu yang menelan tubuh Mei Lin, apalagi pada wajah gadis itu. Bahkan saat Mei Lin berterimakasih tadi, Husain tak melihat sedikitpun.
Abdul Aziz merasa gundah. Jika gelang giok itu bukan milik Mei Lin, lantas milik siapa? Adakah gadis diperkampungan ini yang melebihi Mei Lin? Atau Husain menyukai gadis biasa saja? Abdul aziz membuang nafas, mengakhiri pikirannya yang terus mengembara.
Malam hampir usai dan subuh hampir menjelang. Ada waktu beberapa saat hingga ia seharusnya bangun untuk shalat malam. Ia memejamkan mata, mencoba beristirahat walau satu kejap. Esok, ia kembali harus memimpin latihan yang keras.

*   *   *

“Mereka berlatih dengan sangat antusias, Syeikh.”
Suatu siang, Ma Yun Chen, pemimpin Muslim dari suku Han berkunjung ke Desa Pelabuhan. Rombongan mereka berjalan-jalan melihat latihan.
“Anda sungguh bahagia, Syeikh, memiliki seorang putra yang hebat, juga rakyat yang taat,” ucap Ketua Ma ketika Husain datang menghampirinya untuk memberi salam. Sambil berkata seperti itu, Tuan Ma tersenyum. Namun senyuman itu terasa pahit dirasakan Abdul Aziz dan Husain yang melihatnya. Senyuman pahit itu bukan senyum iri atau dengki dengan keadaan Abdul Aziz. Namun yang ikut menyembul dari senyum itu adalah sebuah penyesalan. Penyesalan karena ia seperti mengalami hal yang bersebrangan dengan yang dimiliki Abdul Aziz. Selain itu, raut muka Tuan Ma pun seperti keruh.
“Mengapa bicara seperti itu sahabatku yang mulia, anda memiliki putra terbaik seperti Tuan Muda Ma, bukankah itu karunia besar yang diberikan Allah? Dan bukankah anda memiliki rakyat yang jumlahnya demikian besar? Jumlah yang tak ada yang memilikinya diantara kita selain Anda?”
Ma Yun Chen melihat Ma Xia Wu, putra pertamanya yang tengah berdiri tepat disampingnya. Ma Yun Chen kemudian tersenyum. “Benar, aku memang memiliki putra yang kuat dan pintar. Namun jumlah rakyat yang banyak, Syeikh,” mata Ma Yu Chen berpaling pada Abdul Aziz, “apakah artinya jumlah, jika jumlah itu hanya seperti buih dilautan?”
Abdul Aziz tersentak.
“Inilah maksud kedatanganku kali ini,” kata Ma Yun Chen.
“Kalau begitu kita bicarakan dirumah.” Abdul Aziz mempersilahkan Ma Yun Chen untuk berjalan bersamanya.
“Bagaimana kalau kita melihat-lihat latihan, saudara Ma?” Husain memalingkan pandangan pada wajah Ma Xia Wu. Tapi sahabatnya itu seperti tak mendengar. Pandangannya lurus menerawang. Kening Husain berkerut dibuatnya.  Sejauh ia mengenal Ma Xia Wu, belum pernah Ma Xia Wu seperti ini. Ma Xia Wu adalah pemuda kuat nan hebat. Permainan kungfunya sangat luar biasa. Ia tidak hanya ahli memainkan pedang, ia juga ahli memainkan tombak, juga memanah. Bahkan dengan tangan kosong sekalipun ia bisa mengalahkan ratusan prajurit bersenjata dengan sekali tepuk. Selain itu, ia juga pintar. Pintar segala hal. Itu karena dia orang yang sangat rakus dengan ilmu pengetahuan. Hafalannya tajam. Ia bahkan bisa menghafal satu kitab hanya dalam waktu dua hari saja. Ia juga pintar berdagang. Dalam usia semuda itu, ia bisa memasarkan permadani dan kain bergulung-gulung dalam satu hari saja. Penghasilannya bisa bertail-tail emas sekali berdagang. Bagi Husain, Ma Xia Wu adalah seorang pemuda yang sempurna. Kelemahannya satu saja, ia agak tertutup pada orang lain.
Ma Xia Wu memang orang yang tenang, namun bagi Husain, itu bukan sifat aslinya. Ketenangan Ma Xia Wu seperti topeng yang selalu ia pakai untuk menutupi keadaan dirinya. Namun menutupi  keadaan apa, Husain tak tahu. Ia hanya tahu, kalau mata Ma Xia Wu seperti menyimpan suatu gelap yang dalam. Gelap bukan berarti jahat. Namun gelap di mata Ma Xia Wu, berarti serba tak jelas. Mana sifat yang aslinya, ia tak membiarkan orang lain tahu. 
Mengetahui kelemahan Ma Xia Wu tidak membuat Husain membuang rasa hormatnya. Memiliki kelemahan adalah sebuah keniscayaan. Tak ada manusia yang hidup tanpa cacat dan cela. Sebenarnya ada, namun hanya Rasulullah saja. Kelemahan Ma Xia Wu, bagi Husain, tertutup dan terselimuti kebaikan dan kelebihan-kelebihannya. Bagi dia, Ma Xia Wu adalah pemuda sempurna. Sahabat yang sempurna.
Seperti saat ini, Husain merasakan kegelapan dalam hati Ma Xia Wu. Bukan hanya gelap, namun dingin dan sunyi. Ma Xia Wu sedang merasakan sesuatu. Sesuatu yang membuat hati Husain ikut merasa sendu. Apa yang tengah dipikirkannya?
“Saudara Ma,” Husain memanggil Ma Xia Wu. Namun orang yang dipanggil masih asyik dengan lamunannya. Baru setelah panggilan ketiga, Ma Xia Wu baru tersadar.
“Eh, apa? Kau memanggilku, Ho San Ni?” tanya Ma Xia Wu tergagap.
“Aku hanya ingin mengajakmu berkeliling melihat latihan, mumpung kau berkunjung kemari.”
“Oh, tentu saja. Tentu saja aku mau.”
“Mari,” kata Husain mempersilakan.
“Terimakasih.”
“Mereka bersemangat sekali,” kata Ma Xia Wu ketika mereka mulai berjalan.
“Alhamdulillah.”
“Tentu bersemangat, karena memiliki guru sepertimu,” kata Ma Xia Wu sambil tersenyum.
“Aah... kau ini, mereka bukan muridku, aku juga bukan guru mereka.”
“Oya, jadi kalian itu saudara seperguruan? Waah... aku ingin tahu sehebat apa gurunya? Lekas pertemukan aku dengannya, aku akan berguru segera!”
Gurauan Ma Xia Wu membuat Husain tertawa. Selama ini, Ma Xia Wu selalu menganggapnya sangat hebat dan kuat.
“Oh, ya. Masalah apa yang akan dibicarakan Ketua Ma? Sepertinya sangat serius?”
Wajah Ma Xia Wu tiba-tiba keruh. Mirip wajah ayahnya ketika mengatakan hal yang sama.
“Sebenarnya ada apa? Boleh aku tahu?”
“Tentu saja. Apa yang bisa aku sembunyikan padamu?” Ma Xia Wu tersenyum. Husain pun tersenyum. Banyak saudaraku, banyak  yang kau sembunyikan dariku.
“Mengenai latihan yang kita rencanakan ini, mungkin kami tidak bisa melakukannya,” Ma Xia Wu berhenti berjalan. Matanya serius melihat ke arah Husain.
“Mengapa?”
Ma Xia Wu menjawab dengan helaan nafas panjang.
“Sangat panjang Ho San Ni..., jika kuceritakan akan sangat panjang....”
“Akan aku dengarkan...”
Ma Xia Wu kembali melihat Husain. Badannya berbalik, memperhatikan laut yang berombak jauh dibawahnya. Ma Xia Wu duduk diatas rerumpuatan kering ditebing itu. Hingga kepangnya yang panjang, menjuntai menuruni punggungnya dan jatuh menyentuh tanah. Husain duduk disampingnya. Memandang wajah Ma Xia Wu yang terus menerawang. Memutar kenangan yang telah ia rekam bertahun-tahun silam...

*   *   *

“Islam masuk ke Cina sejak masa Dinasti Tang berabad-abad yang lalu. Kepiawaian pendatang Arab dalam berbagai hal, membuat mereka diterima baik oleh Yung Wei, kaisar Tang yang berkuasa saat itu. Bahkan beliau mendirikan sebuah masjid di Canton )13. Sampai pada masa dinasti Ming, agama ini terus berkembang.”
Husain pernah mendengar tentang ini dari Abdul Aziz. Bahkan yang ia ketahui Chu Yuan Chang, pendiri Dinasti Ming adalah orang muslim. Meski ajaran dinasti Ming adalah Confusiesme, namun hubungan Islam dan Kekaisaran tetap harmonis. Beberapa Kaisar Dinasti Ming juga seorang Muslim. Orang-orang Muslim banyak yang menduduki jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan. Meski hubungan Kekaisaran Ming dengan Kekhalifahan Islam mulai memburuk di akhir masa kekaisaran Ming, namun pengekangan terhadap penganut Yisilan Jiaou tidak sampai terjadi.
“Kisah manis itu harus berakhir pada saat orang Manchu berkuasa,” kata Ma Xia Wu melanjutkan. “Mereka bertindak sangat keras terhadap penganut Yisilan Jiaou. Hanya urusan sepele seperti kepang saja, bisa membuat kepala seseorang melayang. Kau tahu apa sebabnya, Ho San Ni?”
“Karena Manchu suku minoritas?”
Ma Xia Wu mengangguk. “Mereka sangat ketakutan dengan yang namanya ketidakpatuhan. Segala bentuk pembangkangan adalah makar untuk menggulingkan pemerintahan. Namun ketika Kaisar Kang Xi berkuasa, semuanya berubah.”
Kening Husain berkerut. Kaisar Kang Xi? Bukankah itu adalah nama dari Kaisar yang sekarang tengah memimpin? Tapi berubah? Tidak, Husain tidak merasakan perubahan hubungan antara Kaisar dan Muslim. “Apakah sikap Kaisar terhadap Yisilan Jiaou lebih baik dari kaisar-kaisar sebelumnya, saudara Ma?”
“Tidak. Maksudku bukan begitu. Berubah bukan pada muslim, tapi pada orang Han, termasuk keluarga Ma.”
“Maaf, aku belum mengerti,” kata Husain setelah lama berpikir.
“Sejak awal Kekaisaran Qing memimpin, hubungan Manchu dan Han sangat tidak harmonis. Kang Xi datang menumpulkan pertengkaran itu. Dia merangkul orang Han. Mengembalikan tanah yang dirampas kaisar sebelumnya, memberikan pemuda-pemuda Han pendidikan dan pekerjaan. Banyak orang Han yang tinggal di kerajaan. Bahkan Kang Xi mempercayai Wang Shan, seorang Han menjadi guru pribadi bagi Yinreng, putra mahkota. Dia juga sangat fasih berbahasa Mandarin, dan sangat hafal budaya-budaya Tiongkok. Kang Xi telah berhasil mengambil hati orang-orang Han, apakah dia penganut Yisilan Jiaou atau bukan.”
Husain menguraikan kerutan di keningnya. Sekarang ia mulai mengerti. Orang Han yang muslim sulit direkrut untuk memberontak pemerintah, karena sekarang, mereka merasa sudah menjadi bagian dari pemerintah itu sendiri. Husain menghembuskan nafas pelan. Ini berita yang kurang baik. Karena muslim Han sangat diharapkan partisipasinya, terutama karena masalah jumlah.
Husain memandang lautan luas. Ombak berukuran sedang saling susul-menyusul menyentuh pantai. Sekarang Husain mengerti, apa arti keresahan dimata ketua Ma. Dan ia pun mengerti sebab kabut yang terus bergelayut dimata Ma Xia Wu.
“Pasti ada hikmahnya,” kata Husain tiba-tiba, membuat kepala Ma Xia Wu menoleh padanya. “Jumlah bukanlah ukuran kemenangan, bukan? Saudara Ma?” Husain melihat Ma Xia Wu dengan pandangan tulus, membuat senyum dibibir Ma Xia Wu  tersungging lebar.
Betul, jumlah bukanlah ukuran kemenangan. Mereka tahu tentang sejarah Badar, ketika yang sedikit menjadi pemenang, juga sejarah Hunain, ketika jumlah yang banyak bisa melenakan. Sekarang tinggal mengambil cara, agar jumlah yang tak begitu banyak tetap bisa membuahkan kemenangan. Agar mereka bisa menjadi prajurit Badar yang sebenarnya. Sebab misi pemberontakan ini adalah penentu kemengangan dakwah dimasa depan.
Pandangan Husain dan Ma Xia Wu kembali beralih jauh kedepan. Kali ini mereka melihat langit yang berhias awan bergumpal-gumpal. Serupa itu sekarang pikiran mereka. Tentang tak-tik perang, tentang latihan, tentang prajurit, tentang senjata. Bertumpuk-tumpuk semua itu dalam otak mereka. Bersusun tak beraturan. Semrawut tak tentu tempat.
Husain menarik nafas panjang. Tenang..., semua itu harus ia pikirkan matang. Sedikit salah langkah bisa menjadi bumerang, lalu perjalanan yang sudah ditapaki menjadi sia-sia dan percuma. Satu-satu, pikirkan satu-satu...
Husain memejamkan mata dalam belaian angin dan suara pendar ombak yang hening. Pasti ada cara...
“Tuan Muda.”
Sebuah suara menyeruak dari belakang punggung mereka.
“Tuan Muda Husain.”
Satu suara lagi. Namun tak mampu diantarkan angin kedalam dunia hening Husain. Ma Xia Wu yang menoleh, melihat seorang gadis yang tengah menunggu Husain. Gadis berwajah Persia, berbalut gamis merah maroon, memakai tutup kepala seperti ulama timur tengah. Pakaian yang dipakainya mirip pakaian para kaum lelaki ketika hendak berperang atau melakukan perjalanan, hanya yang gadis itu kenakan lebih lebar, dan tanpa rompi besi. Dari kejauhan, Ma Xia Wu juga melihat segerombolan orang yang agak memisahkan diri dari pasukan yang lain, berpakaian sama seperti perempuan yang ada dihadapannya ini. Apakah ia adik Husain? Lalu pakaian yang mereka kenakan, apakah mereka terlibat latihan? Jika ya, alangkah membuat iri...
“Tuan Muda Husain?”
Melihat Husain, yang tak mempedulikan suara yang memanggilnya, Ma Xia Wu berinisiatif untuk menyentuh pundak Husain.
“Saudara Ho?”
Husain tersentak, ia menoleh cepat pada Ma Xia Wu. “Ah, ada apa saudara Ma?”
Ma Xia Wu menunjuk Mei Lin dengan matanya, membuat Husain berbalik dan menyadari, bahwa sedari tadi ada orang yang memanggilnya.
“Oh, Maaf Nona Mei Lin, ada sesuatu yang tengah saya pikirkan.”
Nona? Berarti bukan adik Husain, bisik Ma Xia Wu.
“Anda memang selalu memikirkan ummat, Tuan Muda.”
“Ada Apa?”
“Latihan memanah. Kami sudah menunggu.”
“Oh, ya. Sudah waktunya rupanya. Tapi...,” Husain melihat Ma Xia Wu. “Ada seorang guru bermain pedang yang hebat. Bagaimana kalau kita memanfaatkan kunjungannya yang sebentar ini Nona Mei Lin?”
“Ah, tapi...,” Mei Lin melihat Ma Xia Wu. “Bagaimana dengan jadwal latihan memanah kami Tuan Muda? Lagipula menurut saya, bermain pedang...”
“Belajar memanah bisa disaat lain. Sore atau esok hari.”
“Tapi kami juga sudah memiliki jadwal lain...”
“Ah, maaf,” sela Ma Xia Wu. Ia mulai merasa tak enak.“Kalau boleh saya tahu, siapa pelatih pedang yang hebat itu saudara Ho?”
“Anda tentu saja, saudaraku,” jawab Husain tersenyum.
“Kalau begitu maaf saya tidak bisa.”
“Kenapa?” tanya Husain kecewa.
“Pertama, karena saya bukan pemain pedang yang hebat. Kedua, saya tidak bisa melatih kaum wanita. Bukan membedakan, tapi pedang yang saya gunakan sangat berat untuk perempuan, harus dibuat khusus dari bahan yang agak ringan. Jadi kalaupun bisa, tidak bisa sekarang. Maaf saudara Ho.”
“Ah, kalau begitu, Anda melatih pasukanku saudara Ma.” Sambil berkata seperti itu, Husain beranjak mendahului Ma Xia Wu dan meninggalkan Mei Lin.
“Eh, Tuan Muda!”
“Saudara Ho!” kata Ma Xia Wu berbarengan dengan Mei Lin. Melihat Husain yang menjauh, Ma Xia Wu pun segera berlari menyusul Husain setelah ia melihat tak enak pada Mei Lin sekilas.
“Apakah disini kaum wanita berlatih perang?” tanya Ma Xia Wu setelah langkahnya sejajar dengan Husain.
“Ya, sesuatu yang tidak aku setujui sebenarnya.”
“Pantas kau tak mau melatih mereka.” Ma Xia Wu tertawa. Belum bertahun mengenal Husain sebenarnya, tapi waktu yang tak banyak itu cukup membuatnya sangat mengenal Husain. Husain orang yang sangat enggang berhubungan dengan kaum perempuan. Sikapnya menjadi agak pemarah, kaku, dan terlampau tegas. Kecuali pada kaum ibu dan kaum nenek Husain tak seperti itu. Mungkin menjaga kuat hijabnya, tapi menurut Ma Xia Wu, tak harus sekeras itu. Tapi Ma Xia Wu tak tahu, kalau sekarang Husain tengah bersikap sangat lunak pada seorang gadis.
“Ya. Sebenarnya hanya tak biasa. Lagipula saya sudah meminta saudara lain yang melatih mereka, tapi aku tak tahu mengapa, akhirnya aku juga yang harus melatih mereka.”
“Mungkin karena kau memang sangat pandai memanah.”
“Ah, sudahlah. Sekarang aku ingin memanfaatkan kedatanganmu, saudara Ma. Disebelah sana, semua pasukan akan berkumpul. Aku mohon, Anda mau mengajari kami, Guru.” Husain menangkupkan kedua tangan didepan kepalanya sambil tersenyum.
“Baik, dengan satu syarat. Kau juga mengajarku bermain panah, Guru,” kata Ma Xia Wu juga dengan menyatukan kedua tangan diatas kepalanya dengan badan sedikit terbungkuk.
Sekarang, mereka berdua berjalan mendekati pasukan sambil tertawa.
Dari jauh, Mei Lin memperhatikan kedua pemuda itu. Memandanganya dengan pandangan yang tak lepas-lepas sedari tadi. Ah, bukan. Bukan memandang kedua pemuda itu, tapi hanya memandang Husain. Hanya memandang Husain.
Mengapa dia selalu marah padaku? Membantah semua rencanaku? Tidak sukakah dia?


*   *   *